Kiprah Megawati dalam Kursi Politik di Indonesia

Minggu, 28 Juli 2013
0 komentar

Kiprah Megawati dalam Kursi Politik di Indonesia


Dunia sudah diselimuti oleh kebudayaan patriaki dalam kurun waktu yang sangat lama. Sehingga, masyarakat luas sudah terbiasa dengan peran laki-laki dalam memipin suatu kelompok. Hal ini menyebabkan posisi perempuan menjadi tergeser, yang seakan-akan menjadi budak dari kaum patriaki. Ketika wanita memiliki peran dalam kepemimpinan pasti banyak pergunjingan, baik dari kaum patriki dan masyarakat luas. karena wanita dianggap kurang luwes apabila harus menjalani  kehidupan seorang pemimpin yang terlanjur keras, tegas, dan diktarorat.
Selama ini politik sangat identik dengan kehidupan maskulin, yang mencakup kemandirian, kebebesan berpendapat, dan tindakan agresif. Ketiga aktifitas tersebut dirasa kurang pas bagi kaum wanita yang cenderung bersikap halus. Sehingga sangat jarang sekali ditemukan dalam dalam sistem politik Indonesia ditemukan campur tanggan wanita di kursi politik. Dalam kehidupan bermasyarakatpun, masyarakat bersikap acuh, dan enggan ketika seorang wanita mencoba membangun kekuasaan politis (kepemimpinan). Selain itu, minimnya gambaran umum mengenai pemimpin perempuan sangatlah minim, sehingga secara kultural sagat sedikit refrensi bagi perempuan yang ingin menjadi seorang pemimpin[1].
Makna yang selama ini dipahami oleh beberapa masyarakat luas adalah definisi kata politik yang sangat identik dengan cara untuk merebut kekuasaan. Oleh karenanya, berpolitik harus dilakukan secara culas, keras, kotor, manipulative, dan tega. Sehingga sifat tersebut tidak cocok dengan sifat perempuan untuk berkiprah dalam politk. Sebagai cara lainya, apabila seorang perempuan yang inggin menjabat sebagai pemimpin ia harus membuang sifat feminimnya dan bersifat layaknya seorang laki-laki yang maskulin, dalam posisi ini wanita dituntut untuk menjadi seorang laki-laki dalam memimpin suatu kelompok[2].
Namun, sekarang zaman telah berubah, dimana cirri kepemimpina seoran perempuan tidak harus bertolak belakang dengan sisi feminis wanita. Sebaliknya, mereka sekarang lebih mengagung-agungkan sifat feminis seperti lemah lembut menjadi salah satu senjata utama untuk memasuki bidang politik dan bisnis. Hingga pada akhirnya, laki-laki sudah mulai menghargai wanita tidak lagi sebagai lawan, namun sebagai mitra yang cukup membantu. Seperti yang elah dinyatakan oleh majalah Time pada tahun 1990[3], dimana telah ditemukanya secara gamblang adanya tren baru peran wanita dalam berbagai bidang, karena semakin banyak ditemukanya jabatan kekuasaan di dunia bisnis dan politis yang dipengan oleh kaum perempuan yang sanagt berkompeten. Yang dimaksud dengan gaya baru di sisni adalah, dimana para perempuan tidak lagi bersifat maskulin lagi, tapi lebih menunjukan sisi feminim dengan menggunakan pendekatan layaknya seorang ibu yang penuh kasih sayang dan penuh perhatian dalam menjalani kepimimpinan mereka.
Sudah saatnya kursi kepemimpinan saat ini yang didominasi oleh sifat maskulin, perlu dihiasi lagi dengan bingkai sisi yang sedikit feminim. Sehingga defenisi baru menggenai kekuasaan terlahir kembalin dengan gabungan antara sifat maskulin dan feminim, yang bisa dicapai oleh kedua jenis gender, sehingga tidak ditemukanya lagi diskriminasi antar kedua gender.  Indonesia telah menciptakan sejarah hebat bagi kaum wanita yang dahulunya tertindas oleh budaya kaum patriarki yang diawali oleh Kartini atas penyamarataan gender dalam memperoleh sebuah pendidikan. Setelah Kartini berkonstribusi dalam emansipasi wanita pada masa kolonial dulu, sekarang giliran Megawati. Megawati merupakan presiden pertama Indonesia yang menjabat pada dekade 2001-2004 dan merupakan simbol kesetaraan gender pada bidang politik di Indonesia.
Megawati dan Kedudukanya Sebagai Seorang Presiden
Megawati memiliki nama lengkap Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri, namun lebih akrap dikenal sebagai Megawati Soekarnoputri (Mbak Mega). Ia lahir di Yogjakarta pada tanggal 23 januari tahun 1947. Ia merupakan keturunan dari presiden pertama Indoneisa yang sangat revolusioner yakni Soekarno dengan istri pertamanya Fatmawati. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kiprahnya di dunia politik Indonesia mengalami berbagai cerita hitam dan putih selama ia menjabat, bahkan sampai turun jabatanpun, cerita mengenai Megawati masih cukup hangat untuk dibicarakan. Megawati merupakan presiden ke 5 dan satu-satunya, bahkan yang pertama menjabat sebagai presiden di Indonesia. Adanya tindakan pro dan kontra dalam masa kepemimpinanya, turut memberikan warna dalam kehidupanya.
Naiknya kiprah seorang politikus wanita, termasuk seorang Megawati menggalami jalan yang tidaklah mudah. Serangan dan pertikaian berdarah merupakan jalan yang harus dilalui oleh politikus perempuan di dunia. Pada tanggal 27 juli 1996 terjadi sebuah pertikaian besar-besaran, yang dikenal sebagai peristiwa Sabtu Kelabu atau peristiwa Kudatuli[4] menjadi titik awal seorang Megawati menduduki kursi kepemimpinan Indonesia. Menerut penyidikan yang dilakukan oleh Komnas HAM, peristiwa ini setidaknya memakan korban 5 orang[5], 149 luka-luka, dan 136 orang ditahan. Hal ini terjadi ketika terpecahnya PDI menjadi dua kubu, yakni kubu PDI Megawati dan PDI Soejadi. Peristiwa itu terjadi karena adanya perebutan kantor DPP partai PDI di jln Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai oleh Megawati.
Penyerbuan, atau lebih tepatnya pengambilan secara paksa kantor DPP-PDI ini di pelopori oleh pendukung Soerjadi dengan mengatasnamakan ketidakpuasan akibat kogres PDI yang dilakukan di Medan. Pemberontakan yang terjadi di daerah Jakarta pusat, akhirnya meluas ke daerah Selemba, Kramat, dan Surabaya. Adapun kerugian material yang berupa 56 gedung dan 197 mobil rusak dan terbakar, sehingga Total kerugian diperkirakan sebesar Rp 100 Miliar. Dikarenakan fraksi dari Megawti merasa dirugikan, maka peristiwa ini berakhir di meja hijau dengan dihukumnya Soejadi selama 13 tahun.
Kiprahnya di dunia politik terus berlanjut hingga pada pemilu pada tahun 2001 ia memenangkan kursi politik dan menjabat sebagai seorang presiden hingga tahun 2004. Kepemimpinannya identik dengan “sedikit bicara dan banyak bertindak”. Dengan ditamabahnya kharismatik dariseorang ayah sang proklamator bangsa Soekaro, Megawati dengan caranya sendiri, tanpa banyak bicara secara konsisten mampu melawan kekerasan secara beran idan tegas. Ia merupakan salah satu politisi perempuan yang mampu melawan kepemerintahan Soeharto melalui kogres terbuka Luar Biasa PDI di Surabaya tahun 1993. Kemudian setelah Megawati mengadakan perlawanan terbuka terhadap kekuasaan yang reprensif, nyali tokoh-tokoh yang lain bersama kekuatan rakyat mulai bangkit. Sehingga Megawati menjadi simbol dan inspirator atas perlawanan terhadap kekuasaannya yang dianggap otoriter saat itu.
Kepemimpinya yang berkarakter dan visioner tersebut terlihat juga dalam ketegaanya menolak sebuahgrasi para terpidana mati dalam kasus narkoba. Dia mengaku sebagai seorang ibu, hatinya menanggis ketika menggambil keputusan untuk menolak grasi itu. tapi demi masa depan generasi penerus bangsa, dia harus menggambil keputusan yang secara nuraniah, tidak ia kehendaki. Selain itu karakteristik kepemimpinanya yang sangat kuat terlihat juga dari beberapa keputusanya yang tidak populis. Seperti keputusan mengenai kenaikan harga BBM, dengan mengikuti standar nilai dan harga di dunia internasional. Keputusan ini tidak begitu saja diterima oleh masyarakat luas. Hal ini ditunjukan dengan demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa saat itu yang menolak secara tegas keaniakan harga BBM.
Sikap feminis juga ditunjukan ketika ia menjalani kepemimpinanya sebagai prsiden. Hal ini dibuktikanya dengan keputusan Megawati yang sangat controversial saat itu, dengan diberinya restu kepada Soetijoso/Sutiyoso untuk menjabat kembali sebagai Gubernur DKI Jakarta. Keputusan ini merpakan keptusan yang sangat controversial, mengingat Sutiyoso merupakan lawanya dalam Kudeta Peristiwa 27 Juli (Kudatuli). Namun, keputusan Megawati denganmemberikan restunya kepada Sutiyoso, dianggap tidak memberikan dampakpositif pada Megawati. Hal tersebut dikarenakan Sutiyoso tidak berpihak kepada masyarakat cilik[6].
Megawati sebagai Simbol Emansipasi dan Kesetaraan Gender
Dengan diangkatnya Megawati menjadi presiden pertama di Indonesia, merupakan titik awal munculnya kesetaraan gender dan emansipasi wanita di Indonesia. Dimana sebelumnya Indoneisa sangat identik dengan budaya patriarki, kini sediki-demi sedikit mitos mengenai politik dan patriarki mulai runtuh. Wanita yang dahulu dianggap hanya mahir dan identitik dengan pekerjaan Rumah Tangga, kini bisa naik derajat akibat adanya emansipasi waita dari Kartini yang diteruskan oleh Megawati.
Menurut Megawati, kaum perempuan harusnya dengan penuh arif dan bijaksana mampu membantu kaum laki-laki agar mereka dapat bebesa dan terbatas dari pola piker lama yang menempatkan kaum laki-laki pada suatu tingkat yang memprihatinkan. “dalam melakakn hal ini, tidak perlu dijalankan cara-cara yang berdampak melecehkan dan merendahkan kaum laki-laki” katanya. Sebagai seorang perempuan, Megawati sadar akan posisinya sebagai seorang ibu, suami, dan pemimpin saat itu. Ia tidak menginginkan adanya konflik antar gender, dengan diangkatnya ia menjadi seorang presiden perempuan. Megawati menawarkan suatu stragegi bagi kaum perempuan dengan memberikakan posisi pada wanita sebagai ibu bangsa, ibu masyarakat, dan sebagai ibu yang sejati. Dengan adanya strategi seperti ini, maka tidak ada alasan lagi bagi perempuan untuk melakukan sebuah tindakan/tuntutan yang hanya akan menimbulkan reaksi penolakan dari kaum laki-laki yang masih cenderung berpikir dan berpaling ke belakang dengan mengatas namakan budaya Patriarki[7].
Kesimpulan

Rupa-rupanya apabila dicermati, beberapa politikus dunia yang sempat dilirik oleh dunia memiliki hubungan genealogis ataupun mengalami perkawinan dengan politikus laki-laki. Seperti Benazir Bhuto (Pakistan) dan Gloria Arroyo (Filiphina) yang merupakan anak kandung dari mantan presiden di negri masing-masing, dan memiliki reputasi yang besar dan kuat pada masanay. Sementara Cory Aquino (Filiphina) dan Sirimavo Bandaranaike (Sri Lanka) merupakan istri dari oposan di negaranya. Sehingga terliahat bahwa naiknya perempuan ke tampuk kekuaasaan politik masih tidak dapat dilepaskan dari uluran tangan laki-laki baik itu ayah ataupun suami, dimana laki-laki disini merupakan faktor paling penting dalam menggugah emosi dan memperkuat dukungan massa. Seberapa banyak dukungan massa yang diberikan tidak terlepas dari politikus laki-laki dibalik ketenaran dan keberhasilan seorang politikus perempuan untuk menduduki kursi kepemerintahan.
Megewati rupan-rupanya bernaung pada payung ayahnya sang proklamator Ir. Soekarno sebagai presiden pertama di Indonesia. Pemanfaatan situasi oleh Megawti ini atas reputasi ayahnya ini ternyata merupakan senjata yang ampuh untuk memperoleh suara dari rakyat untuk masa kepermerinyahanya. Masyarakat yang rindu akan sosok Soekarno setelah kekejaman politik Orde Baru-Soeharto dimanfaatkan oleh Magawati. Sehingga pada pemilu pada tahun 2000, ia menjabat kursi kepresidenan di Indonesia. Dalam kampanyenya, Megawati selalu mencantumkan gambar ayahnya, Soekarno dalam setiap kampanye politiknya. Hal ini untuk menarik perhatian massa,bahwa ia adalah keturunan Soekarno yang mampu berperan seperti ayahnya dalam memanajemen negara. Kerinduan masyarakat Indonesia akan sosok Soekarno akhirnya terlimpahkan pada kepemimpinan Megawati.
Dalam masa permerintahan Megawati sebagai presiden pertama perempuan di Indoneisa, mengalami berbagai intrik dan konflik yang ada. Disini saya melihat bahwa adanya permainan politik yang telihat jelas sebagai kepemimpinan yang bersifat balas dendam. Megawati sebagai putri dari Soekarno membalas perlakuan Soeharto terhadap ayahnya Soekarno dengan mengungkapkan fakta sejarah. Beberapa dampak negatif dari kepemerintahan Soeharto terkuak ketika Megawati menjabat sebagai seorang presiden. Selain itu, Megawati merupakan satu-satunya presiden bahkan kaum politisi yang sanggup meolak masa kepemerintahan Soeharto ketika masa Orde-Baru. Terlihat dari diselenggarakan Kongres PDI di Surabaya pada tahun 1993. Hanya sedikit tokoh yang berani bertindak dan bersuara melawan kehendak pemerintah ketika itu. Pada saat tokoh-tokoh politis pada saat itu masih menutup mulut dan cenderung pasif dalam menghadapi pemerintahan Orde Baru yang Otoriter, Megawati dengan caranya, tanpa banyak bicara secara konsisten telah berani dan berhasil melawan Soeharto tanpa kekerasan. Sehingga Megawati mendapatkan gelarnya sebagai Ibu Reformasi Indonesia.
Sehingga terjadilah sebuah permainan politik dari ketiga presiden yang sangat fenomenal pada abad 20 ini. Dalam permaian politik yang diusung oleh Megawati, ia menggunakan aturan normatif. Dalam aturan normatif ia tidak mengenal mana hal yang baik dan mana yang buruk, sehingga dalam melakukan sistem ini mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kursi politik yang ia kehendaki. Selain berhasil membersihkan nama ayahnya yang dituduh sebagai pencetus PKI di Indoneisa, ia juga mampu menduduki kursi politik di Indonesia. Aturan politik normative ini cukup memerankan kegiatan politik di Indonesia, yang didominasi oleh sistem korupsi di dalamnya. Yang menjadikan politik di Indonesia tidak pernah stabil.

Refrensi :
·         Siti Musadah dan Anik Farida, 2005, Perempuan dan Politik, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Artikel :
·         Artikel oleh Ch. Robin Simanullang dalam http://www.tokohindonesia.com/ Presiden Berkepribadian Kuat
·         Artikel oleh Ahmad Toriq dalam http://news.detik.com Mengintip Kisah Cinta Taufiq Kiemas dan Megawati Soekarnoputi



[1] Mulia dan Farida, 2005,  Perempuan dan Politik hal 4-5
[2] Mulia dan Farida, 2005,  Perempuan dan Politik hal 15-18
[3] Dalam Mulia dan Farida, 2005,  Perempuan dan Politik hal 6
[5] yang terdiri atas dua personel militer dan tiga orang sipil. Yakni Kol CZI (Purn) Budi Purnama (Mantan Komandan Detasemen Intel Kodam Jaya) dan Lettu Inf Suharto (mantan Komandan BKI-C Detasemen Intel Kodam Jaya) adalah dua anggota militer yang dimintai pertanggungjawaban. Sedang tiga orang sipil adalah Mochamad Tanjung (buruh), Jonathan Marpaung (wiraswasta), dan Rahimmi Ilyas (karyawan ekspedisi). Seorang lagi, Djoni Moniaga, seorang buruh, yang diajukan juga sebagai terdakwa, telah meninggal dunia.( http://www.unisosdem.org/article_printfriendly.php?aid=2247&coid=3&caid=22 )
[7] Artikel Ch. Robin Simanullang ,  Megawati dan Kesetaraan Gender dalam http://www.tokohindonesia.com
[8] Ahmad Toriq- Mengintip Kisah CInta Taufiq Kiemas dan Megawati Soekarnoputri dalam http://news.detik.com
Baca selengkapnya »

Indonesia Milik Kita- (sebuah kritik seni)

Jumat, 10 Mei 2013
0 komentar
Indonesia Milik Kita


Lukisan Oleh : ZHiRENK (Batu, Indonesia Milik Kita-2013)
Artikel oleh : Vita Iga Anjani

Dikarenakan saya bukanlah sebuah praktisis seni, maka saya akan menyesuaikan sebuah lukisan dengan realitas sosial-kultural yang ada di Indonesia. lukisan merupakan sebuah objek dari benda seni, sedangkan kegiatan melukis merupakan sarana utama untuk mengungkapkan keindahan yang sangat erat dengan nilai emosianal dari seorang pelukis melalui berbagai macam pendekatan (Kartika 2004:11). Komunikasi yang dilakukan oleh seorang seniman ini, dilakukan melaui simbol-simbol tertentu. sehingga terjadilah sebuah interaksi komunikasi dari seorang seniman ke publik atas pesan dan nilai dalam lukisan. Disini saya melihat sebuah karya seni sebagai bentuk komunakasi visual dari seorang seniman kepada publik atas aspirasi dan kritik dari realita sosial yang ada di sekililing para seniman. Komunikasi Visual merupakan sebuah studi mengenai bentuk komunikasi yang terdapat pada sistem tingkatan formalisasi yang tinggi, sistem grafis, gambar gerak,  sistem warna, sampai pada studi tanda-tanda ikonik (Prieto 1966; Bertin 1967 ; Itten 1961; Pierce, 1931; dalam Eco, 2009).
Saya meyakini salah satu ungkapan bahwa “Seorang Seniman adalah Wakil Tuhan di Dunia” dimana seorang seniman memiliki kebebasan komunikasi kepada publik tentang kehidupan sosial yang melingkupinya. Salah satunya adalah karya dari ZHiRENK salah satu pelukis kota Batu yang berjudul “ Indonesia Milik Kita” (140 X 180 cm). Disini Pelukis mencoba mengkritisi alur pendidikan di Indonesia yang penuh problematika. Seni merupakan bagian dari pemberontakan yang secara bersamaan mengingkari dan mengagungkan. Seperti yang telah dikatakan oleh Camus, 
Ia menolak dunia karena hal-hal yang tidak ada padanya. Pemberontakan dapat ditemukan pada seni dalam keadaanya yang murni, dalam komposisi primitifnya, di luar sejarah. Karena itulah seni dapat memberi kita perspektif ke dalam isi pemberontakan” (Albert Camus, 1952)
Mengapa harus masyarakat Papua , bukanya Jawa sebagai centra pendidikan di Indonesia yang seharusnya menjadi objek dari lukisan ini ?. Hal ini dikarenakan masyarakat Papua merupakan salah satu masyarakat yang sangat tidak teradili di Indonesia, yang menyebabkan mereka menjadi masyarakat asing di negrinya sendiri. Contohnya saja kasus Freeport yang samapi saat ini menjadikan pribumi sebagai budak mereka. Sebenarnya kekayaan alam  masyarakat Papua melebihi yang dimiliki oleh Jawa, namun keterbatasan akses dan kurangnya komunikasi dengan pihak yang bersangkutan menjadikan masyarakat papua dan beberapa masyarakat non-Jawa yang berada di perbatasan terisolir dari negara ini. Bagaimana tidak ?, wacana wajib beajar 9 tahun dari pemerintah merupakan rencana yang terlalu kejam bagi masyarakat non-Jawa, tidak hanya pada Papua, namun juga di Kalimantan, Aceh, Sumatra, dan masyarakat perbatasan yang lain. Bagaimana bisa, pemerintah mewajibkan belajar 9 tahun, namun tidak mampu memfasilitasi masyarakatnya untuk mendapatkan pendidikan yang kurang layak ?. Rupanya pihak yang bersangkutan atas pendidikan di Negara ini harus melakukan pemantauan khusus terhadap berjalanya sistem pendidikan secara merata di Indonesia.
Kembali kepada pendidikan. Pensil merupakan salah satu bentuk dari simbol pendidikan. Hasrat dari pelukis untuk mengambarkan pensil tersebut tergolong kecil sebagi sebuah dan tidak begitu mencolok, namun memiliki makna yang paling dalam pada lukisan ini. Pensil yang kecil ini menunjukan kecilnya pendidikan yang diterima oleh anak-anak Papua. Disini masyarakat Papua mewakili masyarakat non-Jawa lainya (khusunya pada wilayah perbatasan dan terpencil) dalam sulitnya menempuh pendidikan sebagai bekal hidup mereka di Negri ini. Hal ini ditunjukan dengan sulitnya akses yang harus dilalui oleh anak-anak ini menuju ke sekolah. Seperti yang telah ditunjukan oleh Media beberapa lalu, serta dalam catatan jurnalis “Meraba Indonesia” oleh Ahmad Yunus dan Farid Gaban dimana mereka mendeskrisikan tidak meratanya pendidikan yang harus diterima oleh masyrakat non-Jawa.
Para anak-anak di daerah non-Jawa dan daerah perbatasan harus menempuh jalan yang panjang untuk bersekolah. Setidaknya, ia harus bangun dan berjalan dalam gelapnya pagi buta dengan melewati sungai dan beberapa bukit, hanya untuk pergi bersekolah. Namun, hal apa yang mereka dapatkan tidak setara dengan perjuangan mereka ketika berangkat ke sekolah. Disekolah, mereka mendapatkan materi yang tidak sama seperti di Jawa yang lebih maju. Selain itu, tenaga pendidik di daerah tersebut kebanyakan merupakan tentara yang sedang bertugas di daerah tersebut. Berbeda sekali dengan di Jawa, dimana para pelajar mampu mendapatkan pendidikan secara layak dengan adanya fasilitas yang sangat memadai serta mudahnya akses menuju sekolah. Hanya karna Jawa merupakan centra dari Jawa.
Intinya, bagaimana negara ini bisa maju, apabila negara ini kurang meperhatikan masyarakatnya di daerah perbatasan yang sebenarnya merupakan benteng dari negara ini. Tanpa adanya pembekalan dan pondasi yang cukup, apakah negara ini masih tetap bertahan?. Melalui lukisan ini, Pelukis hendak menunjukan realita yang sedang menimpa saudara kita di daerah perbatasan, di daerah Negara ini yang belum terjamah oleh pendidikan yang layak.

Refrensi :

·         Kartika, Sony Dharsono. 2004. Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains.
·         Camus, Albert, Dalam 1998. Seni, Politik dan Pemberontakan. Yogjakarta : Yayasan Bentang Budaya



Baca selengkapnya »

Bombing Competition-Pentas Seni 2 (bangkitnya graffity di Malang)

Jumat, 11 Januari 2013
0 komentar
Pentas Seni 2, merupakan acara yang dipelopori oleh Mahasiswa Jusrusan Pend Seni Rupa dan Desain Universitas Negri Malang. Salah satu acaranya adalah Bombing Competation.Dimana acara ini bertujuan untuk mengembangkan potensi para bomber dalam mengembangkan kreatifitasnya. Selain itu, acara ini diperuntukan sebagai tahap awal untuk menghidupkan kembali Urban-Art di Malang. Dimana kegiatan Bombing di Malang tidak seramai seperti dahulu. Selain untuk mengaktifkan kembali bombing di Malang, Acara Pentas seni ini juga bentuk dari para Mahasiswa di UM, sebagai apresiasi mereka terhadap budaya lokal, dan tradisi kesenian daerah. pada malam puncak Acara Pentas Seni 2, terdapat beberapa acara yang menunjukkan kesenian daerah, khusunya daerah jawa. Berikut merupakan Foto yang saya peroleh ketika saya mengikuti salah satu bomber  :
Gambar ketika sayaikut salah satu bomber memeli cat semprot, sebelum mengikuti kontes bombing


Daftar ulang dan Pembagian 1 Pilo, pada setiap peserta



Its BOMBING TIME part I : salah satu Bomber mulai bekarya (Bejo), Karakter



Its BOMBING TIME part II : Karakter


Its BOMBING TIME part III: Dump ft Ari Art, Wild, Old School


Its BOMBING TIME part IV, Karakter


Its BOMBING TIME partV : Teknik Stensil


Its BOMBING TIME part VI


Its BOMBING TIME part VII-Wild 



Its BOMBING TIME partVIII


Its BOMBING TIME part IX: Solidaritas antar Bomber dalam Kompetisi *so sweet

Its BOMBING TIME part X
Pada sela-selaacara bombing competition, beberapa anak Ngaco menorehkann tagging

FINAL-Karakter

FINAL - Old Style

Setelah bombing competition usai, ada acara seminar kecil yang dibawakan oleh Ngaco Fams. Ngaco Sendiri merupakan komunitas bomber pertama di Malang, dan menjadi bintang tamu pada kompetisi ini. Setelah kompetisi ini uasai, ada acara singkat sharing-sharing antara bomber Malang dan Ngaco Fams. DAn pada Malam hari sekitar jam 10 malam, ketika acara puncak dari kompetisi ini, ada performing art dari Ngaco Fams.
Baca selengkapnya »

Behind The Scane Perkawinan Jawa

0 komentar

Tidak Hanya Sebuah Pernikahan


Baca selengkapnya »

Bombardir Modernisasi VS Perlawanan Tradisional

Minggu, 06 Januari 2013
0 komentar
Eksistensi Pertunjukan Kesenian Wayang Malangan dalam Arus Modernisasi

Dalam kenyataannya seni pertunjukan merupakan suatu peristiwa multikompleks yang melibatkan berbagai aspek kegiatan dalam suatu masyarakat. Richard Schechner (1988) mengemukakan pendapatnya bahwa pertunjukan diartikan sebagai “suatu aktivitas yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam suatu ruang dan waktu tertentu”. Dapat dikatakan bahwa studi tentang pertunjukan tidaklah hanya mendekati suatu peristiwa yang terjadi di dalam pentas saja, tetapi melibatkan seluruh aspek yang merpakan akibat dari munculnya suatu ide sebagai penyebab adanya suatu pertunjukan.
Untuk menggenal suatu wilayah salah satu hal yang harus dilakukan adalah mengetahui identitas dari wilayah tersebut. Identitas tersebut bisa diperoleh dari hal yang paling menonjol dari sautu wilayah. Seperti pada kota Malang yang terkenal dengan kualitas apelnya yang cukup baik. Selain apel, Malang juga memiliki ikon dari salah satu kesenian budayanya yakni Topeng Malangan. Topeng malangan berbeda dengan topeng-topeng yang dimiliki oleh daerah lain, sehingga kesenian topeng ini menjadi cukup khas, dan menjadi daya tarik bagi masyarakat luas. Hal yang paling membedakan topeng malangan dengan topeng yang lain adalah pada ukiranya. Seperti yang dijelaskan oleh Handoyo selaku pengerajin topeng malangan bahwa ukiran dari karakter wajah yang sangat mendetail inilah yang menjadi karakteristik topeng malangan sendiri. Topeng malangan sendiri memiliki 48 jenis, dimana setiap karakter topeng ini memiliki fungsi dan ceritanya masing-masing.
Dalam penggunaanya, topeng malangan sendiri lebih sering digunakan sebagai bagian dari salah satu seni pertunjukan yakni pertunjukan seni Tari Topeng Malangan dan Pertunjukan Seni Wayang Topeng Malangan.
Eksistensi kesenian Topeng Malangan
            Dahulu, kesenian ini merupakan kesenian yang diminati oleh para petinggi daerah yang dipelopori oleh Soewono pada tahun 1991 lalu. Namun dengan adanya bombardier dari budaya pop, modern yang dibawa oleh para pendatang (khususnya para mahasiswa dari luar daerah yang kuliah di Malang) yang membawa beberapa unsure-unsur modernitas masuk ke wilayah Malang. Pernyataan Boas tersebut cukup mewakili keberadaan topeng malangan yang sekarang merupakan kesenian yang sudah terpinggirkan.

            Keberadaan kesenian wayang topeng ini berada di Malang Selatan, tepatnya berada di Desa Pakisaji, dusun Kedungmonggo. Dimana wilayah tersebut merupakan wilayah yang terpinggirkan di daerah Malang. Fenomena yang terjadi pada kebaradaan topeng malangan ini seperti yang dikatakan Boas dalam studinya mengenai culture area, salah satunya adalah mengenai teori marginal survival[1] dimana suatu unsur-unsur baru yang masuk ke dalam suatu wilayah akan mengeser dan mendesak unsure-unsur yang lama ke darah-daerah pinggir (jauh dari pusat). Marginal memiliki arti “yang terpinggirkan” sedangkan survival berarti “ sasuatu yang tetap hidup”. Sehingga Koentjaraningrat memberikan arti bahwa marginal survival adalah suatu unsure yang masih dan tetap hidup di daerah pinggiran.
Salah satu pemikiran dari studi antropologi yang berdasarkan pada asumsi bahwa kebudayaan itu bersifat tidak berlanjut (discontinuous) serta pernyataan yang mengatakan bahwa kondisi masyarakat yang memiliki latar belakang budaya yang kompleks, dimana perbedaan ini dijadikan suatu identitas bagi si pemilik budaya tersebut (Federict Barth 1988). Karenan adanya cirri yang ditentukan oleh kelompok itu sendiri, yang kemudian membentuk pola tersendiri antara sesamanya. Suatu asumsi yang menyatakan bahwa kebudayaan pada setiap suku bangsa mampu mempertahankan budayanya dengan cara tidak mengacuhkan suku atau bangsa-bangsa sudah terlalu umum untuk dibicarakan lagi sehingga menciptakan sesuatu yang disebutkan oleh Barth[2] mengenai batasan etnik. Dimanan batasan etnic merupakan suatu yang bertahan da berkembang yang mempunyai rasa kesatuan yang kuat, dan membentuk suatu interaksi kelompok sendiri yang akan melahirkan suatu cirri kelompok tersebut untuk digunakan sebgai pengakuan dari wilayahnya serta untuk menunjukan bahwa kelompok tersebut berbeda dari kelompok tersebut berbeda dari kelompok lain.
Selain itu batasan-batasan etnik ini akan bertahan dengan adanya isolasi budaya dan sosial, dan suatu pembaharuan dalam interaksi yang sebabkan oleh pemisahan dan penyatuan (Federik Barth, 1988). Karena adanya batasan etnik ini, menjadikan topeng malangan masih berada dalam posisinya walaupun mendapatkan penekanan terhadap arus modernisasi yang semakin memuncak. Selain itu, adanya batasan etnik pada kesenian topeng malangan dan terhadap kesenian yang lain membuat kesenian topeng ini masih tetap pada posisnya, walaupun terisolir dalam wilayahnya sendiri. 
Handoyo sebagai pengerajin sekaligus pelaku kesenian topeng malangan merasa iba melihat fenomena pada saat ini dimana masyarakat Malang mulai meninggalkan kesenian tradisi khususnya pada kesenian topeng malangan. Dari rasa iba tersebut, pada sekitar tahun 2007 Handoyo mencoba melestarikan kembali kesenian tradisi ini dengan cara membuat pagelaran wayang setiap malam senin legi. Dan hal tersebut rutin di lakukan setiap satu bulan sekali. Handoyo tidak peduli dengan penonton yang melihat kesenian ini. Baik ada penonton ataupun tidak, Handoyo beserta pelaku kesenian topeng malangan yang lain akan tetap menyelenggarakan wayang dan tari topeng malangan.
Pengerajin tesubut adalah Handoyo, dan pemiliki Padepokan Asmorobanggun
Selain itu, Hanoyo juga memperkenalkan kesenian topeng malangan ini kepada para pemuda di desanya. Seperti mengajarkan membuat topeng malangan, mengajarkan music karawitan (khusus topeng malangan), dan mengajarkan tari topeng malangan kepada generrasi muda yang ingin mempelajari dan mendalami kesenian ini. Terutama pada anak-anak dan remaja. Selain itu handoyo tidak memunggut biaya sepeserpun dalam mengajarkan kesenian tpeng malangan ini, semuanya dilakukanya secara gratis dan tanpa mengharapkan adanya imbalan.
 “ … seumpamane aku medit ilmu, topeng malangan mbeseok iki bakalan punah, bakalan gakonok. Mankane aku ngajari kesenian topeng malangan ini gratis nang arek-arek enom ndek deso iki, kasarane seandainya saja lek aku wes mati mben, lek guduk generasi muda seng ngelanjutno te sopo mane mbak ?, wong gratis ae jarang seng gelem belajar opo mane lek dikongkon mbayar ? hahahah (kemudian tertawa) … “ (seandainya aku ini tidak orang yang pelit ilmu, maka kehadiran topeng malangan di tahun mendatang akan punah, akan tidak ada. Sehingga saya mengajari kesenian topeng malangan ini secara gratis kepada pemuda di desa ini, kasarnya seandainya saja kalau saya sudah mati nanti, kalau bukan pemuda-pemuda ini yang melanjutkan kesenian ini, mau siapa lagi mbak ?, orang gratis saja sudah jarang orang inggin belajar, apalagi kalau disuruh mbayar ?)
Seperti yang dikatakan oleh Nurul salah satu Mahasiswa ITS bahwasanya pada saat ini, keberadaan topeng melangan sedang mengalami masa renainsence-nya. Dimana kesenian topeng malangan yang sempat mati suri ini, kembali dilahirkan lagi oleh Handoyo seperti yang saya jelaskan di atas. Sehingga topeng malangan ini sedang mengalami proses revivalisme yang tidak terlepas dari gelombang globalisasi pada saat ini yang bergerak justru dari arus bawah (masyarakat pribumi).
 Gerakan revivalisme kesenian topeng malangan ini menunjukan bahwa globalisasi tak selalu di usung oleh media dan masyarakat kelas atas dan pedatang seperti yang kita bayangkan selama ini juga, tapi juga orang-orang akar rumput (masyarakat pribumi) yang ternyata juga memiliki kekautan dan otoritas yang penuh dalam melakukan gerakan “globalisasi arus bawah tersebut” (Davidson dan Henley, 2007). Sehingga di sini terjadi proses pengaktifan kembali pertunjukan kesenian topeng malangan sebagai ajang untuk mendapatkan pengakuan kembali “legitimasi” terhadap masyarakat tradisional yang selama ini menjadi korban dari kemajuan pembangunan modernitas, dan untuk menghadapi diskriminasi dari arus modernisasi yang semakin membahana. Revivalisme topeng malangan ini di daerah Pakisaji juga menunjukkan bahwa masyarakat tradisional telah memasuki kembali sebuah arena kekuasaan dalam menentukan identitasnya, seperti yang telah terjadi pada kondisi masyarakat dalam lingkup tempat dan waktu yang berbada.



[1] Koentjaraningrat, Teori Antropologi 1 hal 125-126
[2] Barth, Federik, 1988, Kelompok Etnik dan Batasanya, Jakatra:UI Press
Baca selengkapnya »

Dinamika Jawanisasi di Indonesia

Selasa, 01 Januari 2013
3 komentar


Dinamika Jawanisasi di Indonesia


Jepang memiliki national culturnya yakni, Yosakoi yang merupakan tradisi menari bersama yang dilakukan oleh puluhan orang. Selain trdisi Yosakoi, jepang memliki cirri khasnya sendiri, yang menandakan jati dirinya bahwa mereka adalah orang Jepang, yakni pakaian tradisional Yukata. Selain Jepang, masih banyak negara di dunia ini yang memiliki identitas national mereka seperti, Korea memiliki Hanbok, dan india memiliki Sarri, dimana mereka menciptakan pakaian tradisional yang  mereka miliki sebagai wujud dari identitas national mereka. Sehingga apabila kita mendengar nama dari suatu negara, pasti kita akan langsung merujuk kepada kebudayaan nasional mereka, sebagai wujud dari identitas national yang mereka miliki. Selain pakaian, makanan dan budaya nasional juga dapat dijadikan sebagai identitas national. Identitas national ini memang segaja dibuat untuk menciptakan ideology yang sama, dan menyamakan semua orang bahwa mereka adalah satu. Sehingga dalam mengatur dan menata sistem dalam masyarakat, pemerintah akan lebih mudah untuk mensosialisasikan rencana-rencana untuk menciptakan negara yang sejahtera, dikarenakan mereka memiliki latar belakang budaya yang sama.  Selain itu, tujuan dari penciptaan identitas national ini, menunjukkan bahwa mereka adalah negara maju atau negara berkembang yang akan bertransformasi menjadi negara maju. Kita bisa melihat bahwa hampir semua negara maju, memiliki identitas national yang sama, seperti contoh di Jepang. Namun hal serupa sangat sulit ditemukan pada negara berkembang seperti Indonesia yang tidak memiliki identitas nasional ataupun budaya nasional. Ada yang berpedapat bahwa identitas national yang dimiliki oleh Indonesia adalah Pancasila, menurut saya hal itu merupakan kesalahan, dikarenakna Pancasila hanyalah berupa visi dan misi negara yang sampai sekarang belum teralisasikan.
Indonesia pada saat Orde Lama, yakni masa kepemimpinan Soekarno menyebutkan bahwa Indonesia merupakan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), dimana kesatuan merujuk pada keberagaman latar budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Namun, pada masa kepemimpinan Soeharto (orde baru), ia ingin mengubah Indonesia yang  merupakan negara kesatuan (NKRI) menjadi negara serikat (Republik Serikat Indonesia/RSI/RI) seperti Amerika,


 Jerman, India, Malaysia, Pakistan, dll[1]. Namun, hal tersebut sangat sulit diaplikasikan kepada negara yang sudah terlanjur menjadi negara kesatuan, dikarenakan Indonesia bukanlah negara yang solid seperti Amerika ataupun Jerman, yang federalis di satu pihak saja. Indonesia sejak awal sudah tercerai berai oleh keadaan geografisnya yang menjadikan Indonesia menjadi negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau yang dipisahkan oleh lautan luas.  Akibat dari pemisahan ini, Indonesia memiliki keberagaman etnis yang cukup kuat dalam setiap wilayahnya. Dipengaruhi dari iklim, mata pencaharian, sistem religi dan letak geografis (gunung/laut). Pada setiap Pulau, Provinsi, Kota ,Kecamatan, Desa, sampai pada ke Suku yang merupakan kelompok masyarakat terkecil, Indonesia memiliki keberagaman budaya yang berbeda antara kelompok yang satu dengan yang lain. Kalimantan, merupakan rumah bagi suku Dayak, yang memiliki keberagaman budaya pada setiap sukunya, tradisi yang paling dikenal merupakan tradisi mangayau (berburu kepala) yang lama kelamaan sudah mulai hilang. Bali, terkenal dengan tarian pendet, dan memiliki budaya Bali sendiri. Aceh, memiliki tarian saaman, dan memiliki kebudayaan Aceh sendiri, Papua, memiliki kebudayaan Papua sendiri, dan hal tersebut juga berlaku pada setiap wilayah di Indonesia.

Tentu saja, hal ini sangat sulit untuk membentuk ataupun menciptakan “kesatuan dan persatuan” pada seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, pembentukan negara Indonesia Serikat juga dipersulit atas merebaknya kasus disintregasi sosial-budaya pada saat itu. Yang ditakutkan akan penciptaan negara serikat ini, akan banyak terciptanya negara bagian yang “merdeka”. Dari ketakutan inilah Negara Indoenesia Serikat belum terealisasikan hingga sekarang[2].  Walaupun cita-cita Soeharto dalam menciptakan Negara Indonesia Serikat bisa dikatakan gagal, namun kecerdasanya mampu menciptakan inovasi baru bagi sejarah Indonesia. Soeharto menciptakan ide untuk mensentralisasikan Indonesia untuk memiliki satu budaya nasional, sebagai identitas nasional Indonesia dengan mengangkat budaya Jawa. Namun hal ini saya anggap “sedikit” berhasil, dikarenakan semboyan masyarakat Indonesia yang sudah mendarah daging, yakni semboyan Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda namun tetap satu.
Dalam menciptakan identitas nasional, Soeharto mengangkat budaya Jawa sebagai budaya nasional. Budaya Jawa ini rencananya akan diperkenalkan dan diaplikasikan kedalam tiap-tiap kehidupan sub-kebudayaan masyarakat Indonesia yang notabenya memiliki latar


belakang kebudayaan yang sangat beragam. Proses menjadikan budaya jawa pada setiap sub-sub kebudayaan di Indonesia dikenal sebagai proses Jawanisasi. Pemilihan Jawa sebagai penciptaan budaya nasional ini dikarenakan Jawa merupakan pusat pemerintahan dari Indonesia. Selain itu, jumlah penduduk jawa di Indonesia sekitar 70% dari keseluruhan masyarakat Indonesia. Sehingga jawa memang segaja di pilih, dikarenakan hampir seluruh kegiatan bersifat kenegaraan berada di Jawa. 
Baca selengkapnya »
 
 

© 2010 ETNOFOTOGRAFI, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV