Indonesia Milik Kita- (sebuah kritik seni)

Jumat, 10 Mei 2013
Indonesia Milik Kita


Lukisan Oleh : ZHiRENK (Batu, Indonesia Milik Kita-2013)
Artikel oleh : Vita Iga Anjani

Dikarenakan saya bukanlah sebuah praktisis seni, maka saya akan menyesuaikan sebuah lukisan dengan realitas sosial-kultural yang ada di Indonesia. lukisan merupakan sebuah objek dari benda seni, sedangkan kegiatan melukis merupakan sarana utama untuk mengungkapkan keindahan yang sangat erat dengan nilai emosianal dari seorang pelukis melalui berbagai macam pendekatan (Kartika 2004:11). Komunikasi yang dilakukan oleh seorang seniman ini, dilakukan melaui simbol-simbol tertentu. sehingga terjadilah sebuah interaksi komunikasi dari seorang seniman ke publik atas pesan dan nilai dalam lukisan. Disini saya melihat sebuah karya seni sebagai bentuk komunakasi visual dari seorang seniman kepada publik atas aspirasi dan kritik dari realita sosial yang ada di sekililing para seniman. Komunikasi Visual merupakan sebuah studi mengenai bentuk komunikasi yang terdapat pada sistem tingkatan formalisasi yang tinggi, sistem grafis, gambar gerak,  sistem warna, sampai pada studi tanda-tanda ikonik (Prieto 1966; Bertin 1967 ; Itten 1961; Pierce, 1931; dalam Eco, 2009).
Saya meyakini salah satu ungkapan bahwa “Seorang Seniman adalah Wakil Tuhan di Dunia” dimana seorang seniman memiliki kebebasan komunikasi kepada publik tentang kehidupan sosial yang melingkupinya. Salah satunya adalah karya dari ZHiRENK salah satu pelukis kota Batu yang berjudul “ Indonesia Milik Kita” (140 X 180 cm). Disini Pelukis mencoba mengkritisi alur pendidikan di Indonesia yang penuh problematika. Seni merupakan bagian dari pemberontakan yang secara bersamaan mengingkari dan mengagungkan. Seperti yang telah dikatakan oleh Camus, 
Ia menolak dunia karena hal-hal yang tidak ada padanya. Pemberontakan dapat ditemukan pada seni dalam keadaanya yang murni, dalam komposisi primitifnya, di luar sejarah. Karena itulah seni dapat memberi kita perspektif ke dalam isi pemberontakan” (Albert Camus, 1952)
Mengapa harus masyarakat Papua , bukanya Jawa sebagai centra pendidikan di Indonesia yang seharusnya menjadi objek dari lukisan ini ?. Hal ini dikarenakan masyarakat Papua merupakan salah satu masyarakat yang sangat tidak teradili di Indonesia, yang menyebabkan mereka menjadi masyarakat asing di negrinya sendiri. Contohnya saja kasus Freeport yang samapi saat ini menjadikan pribumi sebagai budak mereka. Sebenarnya kekayaan alam  masyarakat Papua melebihi yang dimiliki oleh Jawa, namun keterbatasan akses dan kurangnya komunikasi dengan pihak yang bersangkutan menjadikan masyarakat papua dan beberapa masyarakat non-Jawa yang berada di perbatasan terisolir dari negara ini. Bagaimana tidak ?, wacana wajib beajar 9 tahun dari pemerintah merupakan rencana yang terlalu kejam bagi masyarakat non-Jawa, tidak hanya pada Papua, namun juga di Kalimantan, Aceh, Sumatra, dan masyarakat perbatasan yang lain. Bagaimana bisa, pemerintah mewajibkan belajar 9 tahun, namun tidak mampu memfasilitasi masyarakatnya untuk mendapatkan pendidikan yang kurang layak ?. Rupanya pihak yang bersangkutan atas pendidikan di Negara ini harus melakukan pemantauan khusus terhadap berjalanya sistem pendidikan secara merata di Indonesia.
Kembali kepada pendidikan. Pensil merupakan salah satu bentuk dari simbol pendidikan. Hasrat dari pelukis untuk mengambarkan pensil tersebut tergolong kecil sebagi sebuah dan tidak begitu mencolok, namun memiliki makna yang paling dalam pada lukisan ini. Pensil yang kecil ini menunjukan kecilnya pendidikan yang diterima oleh anak-anak Papua. Disini masyarakat Papua mewakili masyarakat non-Jawa lainya (khusunya pada wilayah perbatasan dan terpencil) dalam sulitnya menempuh pendidikan sebagai bekal hidup mereka di Negri ini. Hal ini ditunjukan dengan sulitnya akses yang harus dilalui oleh anak-anak ini menuju ke sekolah. Seperti yang telah ditunjukan oleh Media beberapa lalu, serta dalam catatan jurnalis “Meraba Indonesia” oleh Ahmad Yunus dan Farid Gaban dimana mereka mendeskrisikan tidak meratanya pendidikan yang harus diterima oleh masyrakat non-Jawa.
Para anak-anak di daerah non-Jawa dan daerah perbatasan harus menempuh jalan yang panjang untuk bersekolah. Setidaknya, ia harus bangun dan berjalan dalam gelapnya pagi buta dengan melewati sungai dan beberapa bukit, hanya untuk pergi bersekolah. Namun, hal apa yang mereka dapatkan tidak setara dengan perjuangan mereka ketika berangkat ke sekolah. Disekolah, mereka mendapatkan materi yang tidak sama seperti di Jawa yang lebih maju. Selain itu, tenaga pendidik di daerah tersebut kebanyakan merupakan tentara yang sedang bertugas di daerah tersebut. Berbeda sekali dengan di Jawa, dimana para pelajar mampu mendapatkan pendidikan secara layak dengan adanya fasilitas yang sangat memadai serta mudahnya akses menuju sekolah. Hanya karna Jawa merupakan centra dari Jawa.
Intinya, bagaimana negara ini bisa maju, apabila negara ini kurang meperhatikan masyarakatnya di daerah perbatasan yang sebenarnya merupakan benteng dari negara ini. Tanpa adanya pembekalan dan pondasi yang cukup, apakah negara ini masih tetap bertahan?. Melalui lukisan ini, Pelukis hendak menunjukan realita yang sedang menimpa saudara kita di daerah perbatasan, di daerah Negara ini yang belum terjamah oleh pendidikan yang layak.

Refrensi :

·         Kartika, Sony Dharsono. 2004. Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains.
·         Camus, Albert, Dalam 1998. Seni, Politik dan Pemberontakan. Yogjakarta : Yayasan Bentang Budaya



0 komentar:

Posting Komentar

 
 

© 2010 ETNOFOTOGRAFI, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV