Tampilkan postingan dengan label foto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label foto. Tampilkan semua postingan

Bombing Competition-Pentas Seni 2 (bangkitnya graffity di Malang)

Jumat, 11 Januari 2013
0 komentar
Pentas Seni 2, merupakan acara yang dipelopori oleh Mahasiswa Jusrusan Pend Seni Rupa dan Desain Universitas Negri Malang. Salah satu acaranya adalah Bombing Competation.Dimana acara ini bertujuan untuk mengembangkan potensi para bomber dalam mengembangkan kreatifitasnya. Selain itu, acara ini diperuntukan sebagai tahap awal untuk menghidupkan kembali Urban-Art di Malang. Dimana kegiatan Bombing di Malang tidak seramai seperti dahulu. Selain untuk mengaktifkan kembali bombing di Malang, Acara Pentas seni ini juga bentuk dari para Mahasiswa di UM, sebagai apresiasi mereka terhadap budaya lokal, dan tradisi kesenian daerah. pada malam puncak Acara Pentas Seni 2, terdapat beberapa acara yang menunjukkan kesenian daerah, khusunya daerah jawa. Berikut merupakan Foto yang saya peroleh ketika saya mengikuti salah satu bomber  :
Gambar ketika sayaikut salah satu bomber memeli cat semprot, sebelum mengikuti kontes bombing


Daftar ulang dan Pembagian 1 Pilo, pada setiap peserta



Its BOMBING TIME part I : salah satu Bomber mulai bekarya (Bejo), Karakter



Its BOMBING TIME part II : Karakter


Its BOMBING TIME part III: Dump ft Ari Art, Wild, Old School


Its BOMBING TIME part IV, Karakter


Its BOMBING TIME partV : Teknik Stensil


Its BOMBING TIME part VI


Its BOMBING TIME part VII-Wild 



Its BOMBING TIME partVIII


Its BOMBING TIME part IX: Solidaritas antar Bomber dalam Kompetisi *so sweet

Its BOMBING TIME part X
Pada sela-selaacara bombing competition, beberapa anak Ngaco menorehkann tagging

FINAL-Karakter

FINAL - Old Style

Setelah bombing competition usai, ada acara seminar kecil yang dibawakan oleh Ngaco Fams. Ngaco Sendiri merupakan komunitas bomber pertama di Malang, dan menjadi bintang tamu pada kompetisi ini. Setelah kompetisi ini uasai, ada acara singkat sharing-sharing antara bomber Malang dan Ngaco Fams. DAn pada Malam hari sekitar jam 10 malam, ketika acara puncak dari kompetisi ini, ada performing art dari Ngaco Fams.
Baca selengkapnya »

Behind The Scane Perkawinan Jawa

0 komentar

Tidak Hanya Sebuah Pernikahan


Baca selengkapnya »

Bombardir Modernisasi VS Perlawanan Tradisional

Minggu, 06 Januari 2013
0 komentar
Eksistensi Pertunjukan Kesenian Wayang Malangan dalam Arus Modernisasi

Dalam kenyataannya seni pertunjukan merupakan suatu peristiwa multikompleks yang melibatkan berbagai aspek kegiatan dalam suatu masyarakat. Richard Schechner (1988) mengemukakan pendapatnya bahwa pertunjukan diartikan sebagai “suatu aktivitas yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam suatu ruang dan waktu tertentu”. Dapat dikatakan bahwa studi tentang pertunjukan tidaklah hanya mendekati suatu peristiwa yang terjadi di dalam pentas saja, tetapi melibatkan seluruh aspek yang merpakan akibat dari munculnya suatu ide sebagai penyebab adanya suatu pertunjukan.
Untuk menggenal suatu wilayah salah satu hal yang harus dilakukan adalah mengetahui identitas dari wilayah tersebut. Identitas tersebut bisa diperoleh dari hal yang paling menonjol dari sautu wilayah. Seperti pada kota Malang yang terkenal dengan kualitas apelnya yang cukup baik. Selain apel, Malang juga memiliki ikon dari salah satu kesenian budayanya yakni Topeng Malangan. Topeng malangan berbeda dengan topeng-topeng yang dimiliki oleh daerah lain, sehingga kesenian topeng ini menjadi cukup khas, dan menjadi daya tarik bagi masyarakat luas. Hal yang paling membedakan topeng malangan dengan topeng yang lain adalah pada ukiranya. Seperti yang dijelaskan oleh Handoyo selaku pengerajin topeng malangan bahwa ukiran dari karakter wajah yang sangat mendetail inilah yang menjadi karakteristik topeng malangan sendiri. Topeng malangan sendiri memiliki 48 jenis, dimana setiap karakter topeng ini memiliki fungsi dan ceritanya masing-masing.
Dalam penggunaanya, topeng malangan sendiri lebih sering digunakan sebagai bagian dari salah satu seni pertunjukan yakni pertunjukan seni Tari Topeng Malangan dan Pertunjukan Seni Wayang Topeng Malangan.
Eksistensi kesenian Topeng Malangan
            Dahulu, kesenian ini merupakan kesenian yang diminati oleh para petinggi daerah yang dipelopori oleh Soewono pada tahun 1991 lalu. Namun dengan adanya bombardier dari budaya pop, modern yang dibawa oleh para pendatang (khususnya para mahasiswa dari luar daerah yang kuliah di Malang) yang membawa beberapa unsure-unsur modernitas masuk ke wilayah Malang. Pernyataan Boas tersebut cukup mewakili keberadaan topeng malangan yang sekarang merupakan kesenian yang sudah terpinggirkan.

            Keberadaan kesenian wayang topeng ini berada di Malang Selatan, tepatnya berada di Desa Pakisaji, dusun Kedungmonggo. Dimana wilayah tersebut merupakan wilayah yang terpinggirkan di daerah Malang. Fenomena yang terjadi pada kebaradaan topeng malangan ini seperti yang dikatakan Boas dalam studinya mengenai culture area, salah satunya adalah mengenai teori marginal survival[1] dimana suatu unsur-unsur baru yang masuk ke dalam suatu wilayah akan mengeser dan mendesak unsure-unsur yang lama ke darah-daerah pinggir (jauh dari pusat). Marginal memiliki arti “yang terpinggirkan” sedangkan survival berarti “ sasuatu yang tetap hidup”. Sehingga Koentjaraningrat memberikan arti bahwa marginal survival adalah suatu unsure yang masih dan tetap hidup di daerah pinggiran.
Salah satu pemikiran dari studi antropologi yang berdasarkan pada asumsi bahwa kebudayaan itu bersifat tidak berlanjut (discontinuous) serta pernyataan yang mengatakan bahwa kondisi masyarakat yang memiliki latar belakang budaya yang kompleks, dimana perbedaan ini dijadikan suatu identitas bagi si pemilik budaya tersebut (Federict Barth 1988). Karenan adanya cirri yang ditentukan oleh kelompok itu sendiri, yang kemudian membentuk pola tersendiri antara sesamanya. Suatu asumsi yang menyatakan bahwa kebudayaan pada setiap suku bangsa mampu mempertahankan budayanya dengan cara tidak mengacuhkan suku atau bangsa-bangsa sudah terlalu umum untuk dibicarakan lagi sehingga menciptakan sesuatu yang disebutkan oleh Barth[2] mengenai batasan etnik. Dimanan batasan etnic merupakan suatu yang bertahan da berkembang yang mempunyai rasa kesatuan yang kuat, dan membentuk suatu interaksi kelompok sendiri yang akan melahirkan suatu cirri kelompok tersebut untuk digunakan sebgai pengakuan dari wilayahnya serta untuk menunjukan bahwa kelompok tersebut berbeda dari kelompok tersebut berbeda dari kelompok lain.
Selain itu batasan-batasan etnik ini akan bertahan dengan adanya isolasi budaya dan sosial, dan suatu pembaharuan dalam interaksi yang sebabkan oleh pemisahan dan penyatuan (Federik Barth, 1988). Karena adanya batasan etnik ini, menjadikan topeng malangan masih berada dalam posisinya walaupun mendapatkan penekanan terhadap arus modernisasi yang semakin memuncak. Selain itu, adanya batasan etnik pada kesenian topeng malangan dan terhadap kesenian yang lain membuat kesenian topeng ini masih tetap pada posisnya, walaupun terisolir dalam wilayahnya sendiri. 
Handoyo sebagai pengerajin sekaligus pelaku kesenian topeng malangan merasa iba melihat fenomena pada saat ini dimana masyarakat Malang mulai meninggalkan kesenian tradisi khususnya pada kesenian topeng malangan. Dari rasa iba tersebut, pada sekitar tahun 2007 Handoyo mencoba melestarikan kembali kesenian tradisi ini dengan cara membuat pagelaran wayang setiap malam senin legi. Dan hal tersebut rutin di lakukan setiap satu bulan sekali. Handoyo tidak peduli dengan penonton yang melihat kesenian ini. Baik ada penonton ataupun tidak, Handoyo beserta pelaku kesenian topeng malangan yang lain akan tetap menyelenggarakan wayang dan tari topeng malangan.
Pengerajin tesubut adalah Handoyo, dan pemiliki Padepokan Asmorobanggun
Selain itu, Hanoyo juga memperkenalkan kesenian topeng malangan ini kepada para pemuda di desanya. Seperti mengajarkan membuat topeng malangan, mengajarkan music karawitan (khusus topeng malangan), dan mengajarkan tari topeng malangan kepada generrasi muda yang ingin mempelajari dan mendalami kesenian ini. Terutama pada anak-anak dan remaja. Selain itu handoyo tidak memunggut biaya sepeserpun dalam mengajarkan kesenian tpeng malangan ini, semuanya dilakukanya secara gratis dan tanpa mengharapkan adanya imbalan.
 “ … seumpamane aku medit ilmu, topeng malangan mbeseok iki bakalan punah, bakalan gakonok. Mankane aku ngajari kesenian topeng malangan ini gratis nang arek-arek enom ndek deso iki, kasarane seandainya saja lek aku wes mati mben, lek guduk generasi muda seng ngelanjutno te sopo mane mbak ?, wong gratis ae jarang seng gelem belajar opo mane lek dikongkon mbayar ? hahahah (kemudian tertawa) … “ (seandainya aku ini tidak orang yang pelit ilmu, maka kehadiran topeng malangan di tahun mendatang akan punah, akan tidak ada. Sehingga saya mengajari kesenian topeng malangan ini secara gratis kepada pemuda di desa ini, kasarnya seandainya saja kalau saya sudah mati nanti, kalau bukan pemuda-pemuda ini yang melanjutkan kesenian ini, mau siapa lagi mbak ?, orang gratis saja sudah jarang orang inggin belajar, apalagi kalau disuruh mbayar ?)
Seperti yang dikatakan oleh Nurul salah satu Mahasiswa ITS bahwasanya pada saat ini, keberadaan topeng melangan sedang mengalami masa renainsence-nya. Dimana kesenian topeng malangan yang sempat mati suri ini, kembali dilahirkan lagi oleh Handoyo seperti yang saya jelaskan di atas. Sehingga topeng malangan ini sedang mengalami proses revivalisme yang tidak terlepas dari gelombang globalisasi pada saat ini yang bergerak justru dari arus bawah (masyarakat pribumi).
 Gerakan revivalisme kesenian topeng malangan ini menunjukan bahwa globalisasi tak selalu di usung oleh media dan masyarakat kelas atas dan pedatang seperti yang kita bayangkan selama ini juga, tapi juga orang-orang akar rumput (masyarakat pribumi) yang ternyata juga memiliki kekautan dan otoritas yang penuh dalam melakukan gerakan “globalisasi arus bawah tersebut” (Davidson dan Henley, 2007). Sehingga di sini terjadi proses pengaktifan kembali pertunjukan kesenian topeng malangan sebagai ajang untuk mendapatkan pengakuan kembali “legitimasi” terhadap masyarakat tradisional yang selama ini menjadi korban dari kemajuan pembangunan modernitas, dan untuk menghadapi diskriminasi dari arus modernisasi yang semakin membahana. Revivalisme topeng malangan ini di daerah Pakisaji juga menunjukkan bahwa masyarakat tradisional telah memasuki kembali sebuah arena kekuasaan dalam menentukan identitasnya, seperti yang telah terjadi pada kondisi masyarakat dalam lingkup tempat dan waktu yang berbada.



[1] Koentjaraningrat, Teori Antropologi 1 hal 125-126
[2] Barth, Federik, 1988, Kelompok Etnik dan Batasanya, Jakatra:UI Press
Baca selengkapnya »

Batu Menggungat

Senin, 31 Desember 2012
0 komentar
Sebuah Romantisasi Masyarakat Kota Batu Menggenang Munir
MENAFSIR MUNIR=MENOLAK LUPA

Foto ini saya dapatkan di perempatan jalan Galeri Raos. Gambar Mural tersebut merupakan hasil dari karya Bomber, Muralis dan Seniman Jogjakarta, BAtu, dan Malang

Sebuah Festival, Sebuah Upacara, Sebuah Pentas Rakyat  "MENAFSIR MUNIR MENOLAK LUPA". Dedikasi masyarakat kota Batu untuk sosok pendekar yang dipujanya. Masyarakat Batu mengajak masyarakat luas untuk kembali bernostalgia mengenang 9 tahun kematian Munir, dan 9 tahun keadilan dan janji-janji berada dalam tanah, dan tidak pernah muncul di permukaan.

Masyarakat Batu memang sangat bangga memiliki putra daerah yang mampu menjadi seorang pendekar Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Namun setelah kematian Munir yang penuh misteri itu muncul ke permukaan, ditambah pula oleh bumbu-bumbu dari media massa yang turut memeriahkan peristiwa ini, masyarakat Batu benar-benar merasa kehilanggan putra daeah kebanggaanya. Apalagi setelah mengetahui bahwa kematian munir itu lama-kelamaan tidak mendapatkan perhatian dari khalayak media massa yang dahulu turut andil dalam menyebarluaskan berita ini. Masyarakat mulai kecewa dan mulai geram dengan gelagat Pemerintah yang seakan-akan lupa terhadap sosok Munir ini.

Setelah 9 tahun terdiam, Masyarakat Kota Batu bergejolak, dan telah meradang yang ditunjukkan dalam pesta rakyat  "MENAFSIR MUNIR MENOLAK LUPA" sebuah acara untuk menggenang Sang Pendekar dari kota Batu. Kematian munir yang memiliki misteri yang begitu kompleks, menyimpan sebuah luka bagi beberapa masyarakat Batu. Melalui sebuah Seni, Masyarakat Batu memohon kepada pemerintah untuk meminta keadilan bagi Munir.  Seperti yang dikatakan oleh Butet Kertarajasa, sebagai salah satu bintang tamu “Kami ini seperti debt collector kultural. Pemerintah SBY punya hutang menyelesaikan kasus Munir, jadi kami tagih melalui kesenian,”. memang kita tidak bisa memunafikkan apabila kasus kematian Munir ini masih belum menemui titik terangnya.

Seperti yang telah saya kutip dari sistus resmi Kota Batu, bahwa acara tersebut senggaja didedikasikan sebagai bentuk apresiasi masyarakat Batu yang Bangga memiliki pendekar daerah seperti Munir. Dalam situs tersebut, Eddy Rumpoko selaku Walikota menambahkan bahwa ia akan membanggun monumen resmi untuk mengenang kejayaan Munir, dan sebagai tanda bahwa Munir merupakan salah satu Putra yang dibanggakan oleh Kota Batu. Acara tersebut mendatangkan seniman-seniman jogja yang berkerjasama dengan seniman Batu dan Malang, dan membuat pertunjukan seni yang memukau.

Bukan hanya para seniman, para Siswa-Siswi SD-SMP di kota batu juga turut memeriahkan acara ini dengan cara mewarnai poster-poster munir seperti pada gamabar dibawah ini. 

Foto ini saya dapatkan di depan SMPN 3 Batu. Gambar-gambar tersebut merupakan hasil dari kreasi para Siswa (SMP) sekota Batu

Gambar di atas merupakan karya dari Diki Maulid S salah satu murid SMPN 3 yang juga turut memberikan suaranya atas ketidak adilan kasus kematian Munir

gambar di atas merupakan salah satu karya dari siswa SD yang turut meramaikan acara ini. Dimana pada pagi harinya diadakan acara mewarnai bersama di Alun-alun Kota Batu
Tidak hanya dipasang memutari bentuk alun-alun Kota Batu, Tetapi karya-karya anak SD se kota Batu ini juga di pasang dibeberapa pohon di Alun-alun Kota Batu

Namun menurut hemat saya, acara ini tidak sepenuhnya didedikasikan untuk menggenang jasa-jasa Munir ataupun sebagai perwujudan untuk menggambil keadilan yang hilang dari kasus kematian Munir. Tetapi juga sebagai wujud untuk meningkatkan sektor kepariwisataan di kota Batu, yang telah bangga mendedikasikan dirinya sebagai sebuah Kota Pariwisata. Bukan hanya acara menggenang jasa-jasa munir saja, tetapi juga awal dari bisnis kepariwisataan yang sepertinya akan berjalan di tahun 2012. Mungkin pembangunan monumen Munir ini juga diperuntukan untuk para wisatawan yang inggin menggenag sosok Pendekar HAM dari kota Batu.

Terlepas dari itu semua, dengan diadakan acara ini, pemerintah dan masyarakat Batu sanagt berharap apabila kasus Munir yang semakin hari semakin hilang dituntaskan dan sesegara mungkin mendapatkan keadilanya. Tidak hanya itu, acara ini juga merupakan bentuk protes untuk Pemerintah bahwa sebagai masyarakat yang telah terbuai oleh janji-janji itu benar-benar mengharapkan janji tersebut ada dilaksanakan. Pada semua gambar di atas, menunjukan bahwa acara ini ditujukan untuk



Baca selengkapnya »

Foto dan Film sebagai Rekonstruksi Sejarah

Rabu, 26 Desember 2012
0 komentar

Foto dan Film sebagai Rekonstruksi Sejarah
Review Artikel Bern Huppauf dan Anne-Marie Willis


·         Foto
Dalam perkembangan jaman, manusia mulai menciptakan sesuatu yang mempermudah manusia untuk mengerjakan sesuatu. Dalam hal ini, manusia terus saja menciptakan inovasi-inovasi baru, dan menciptakan alat yang membuat hidup manusia terasa lebih mudah dan praktis. Contoh konkrit padahal ini adalah penciptaan foto dan film sebagai media yang mampu mengkonstruksi suatu kejadian pada masa tertentu.
Dahulu manusia memulai menciptakan sejarahnya melalui tulisan-tulisan yang dibukukan. Kemudian tulisan tersebut juga dilengkapi dengan gambar untuk mempermudah pembaca untuk memahami apa maksud dari penulis. Dahulu, gambar diperoleh dengan cara yang sangat tradisional yakni menggambar atau melukis. Namun, sesuai dengan perkembangan zaman, dimana manusia selalu menginginkan kepraktisan maka manusia mulai berpindah dari lukisan ke fotografi. Selain gambar yang diciptakan lebih bersifat real dan lebih cepat, foto ternyata dapat menjelaskan suatu fenomena lebih luas dari pada suatu lukisan.
Dalam artikel yang ditulis oleh Anne, terdapat pergunjungan antara foto dan lukisan. Memang keterkaitan antra foto dengan dengan lukisan tidak dapat dipisahkan. Foto diciptakan atas landasan dari pakem-pakem yang ada di lukisan, salah satu yang paling dominan adalah perspektif. Namun, beberapa dari seniman pada saat itu menganggap bahwa foto merupakan hal yang berbeda dengan lukisan. Dan mereka tidak mengangap foto sebagai bagaian dari seni. Namun menurut saya, lukisan, seni dan foto merupakan suatu runtutan sejarah media yang memang memiliki keterkaitan antar satu dengan yang lain. 
Foto yang memiliki sifat sebagai “ Windows on the Past”, merupakan refleksi yang membuktikan bahwa foto merupakan memori sosial yang mampu merekonstruksi kejadian pada masa lalu dan sebagai bukti sejarah dari manusia. Banyak dijumpai foto-foto zaman dahulu, yang ternyata merupakan sumber sejarah yang mampu menjelaskan bagaimana dinamikan kehidupan masyarakat pada mas lampau. Seperti pada contoh gambar di bawah ini yang saya ambil dari salah satu majalah online http://reformata.com, (03 Juni 2009-renata):

Pada foto ini dijelaskan bahwa masyarakat Indonesia pada saat itu sangat tertindas, dilihat dari postur tubuh mereka yang sangat kurus yang membuktikan bahwa sumber pangan pada saat itu sangat sulit di dapat. Mengkin foto ini di ambil ketika berlakunya sistem tanam paksa dan kerja rodi yang digalakkan oleh Belanda pada saat itu. Dari ekspresi masyarakat Indonesia, mereka hanya pasrah terhadap perbuatan yang dilakukan oleh para tentara gerliyawan Belanda yang terlihat jelas bahwa mereka sedang menodongkan senjata di kepala penduduk pribumi.
Tetapi ekspresi berbeda ditunjukan oleh tentara belanda yang ada di posisi yang paling kanan. Ia terlihat sangat bangga dan senang, karena telah berhasil menaklukan masyarakat  pribumi. Mungkin foto ini diambil sebagai bukti bahwa para prajurit belanda sangat berkuasa dan memiliki ketangguhan yang sangat besar. Foto ini menandakan bahwa para tentara Belanda sangatlah tangguh dan berkuasa pada saat itu. Foto tersebut sebagai bukti akan sifat foto sebagai “Window of the Past” yang mampu menceritakan segala macam fenomena yang terjadi pada saat foto tersebut di ambil.
Dan kedua adalah foto ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan pertama kalinya sebagai bukti bahwa Indonesia telah merdeka dan terbebas dari cengraman penjajah Jepang, terlihat jelas pada foto bagaiman masyarakat sangatlah antusias dengan pembacaan proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno. Masyarakat melambai-lambaikan tanganya, dan beberapa ada yang melambaikan bendera merah-putih sebagai perwujudan dari nasionalisme masyarakat Indonesia. di depan panggung terlihat adanya ruang kosong yang diberikan dan adanya aparat/poloisi lokal yang mengamankan tempat tersebut, sebagai bukti bahwa orang yang berbicara pada saat itu merupakan tokoh penting negara, yankni Soekarno.

·         Film
Seperti pada foto dan lukisan, film tidak akan ada apabila foto dan lukisan tidak ada. Sebelum terciptanya alat rekam, film dibuat dari kumpulan-kumpulan merupakan foto yang disusun sedemikian rupa dan akhirnya foto tersebu seakan-akan  bergerak. Jika foto tercipta dari bebrapa pakem yang ada pada aturan seni, maka film tercipta dari bagian aturan sastra. Pada masa kemunculan film pertama kali, film hanya bersifat sebagai hiburan pada masa lalu yang mencampurkan antara unsure suara dan gambar. Tetapi pada masa dimana terjadi PD I dan II, film diciptkan sebagai bukti sejarah, dan merekam bagaiman kehidupan pada masa itu. Sehingga pada saat ini, foto dan film mulai dijadikan sebagai sumber sejarah dan diciptakan sebagai bentuk dari memori sosial yang merekam segala peristiwa.
Seperti pada film yang berjudul Penghianatan G30S/PKI, yang memang sengaja dibuat untuk merekonstruksi kejadian masa lalu yakni sebagai pergantian masa Orde Lama ke Orde Baru. Tokoh yang diperankanpun berbeda dengan yang asli, dalam film tersebut mereka hanyalah seorang aktor yang berperan sebagai para tokoh negara. Hal yang sama juga dijelaskan oleh Anne oada artikelnya yang membahas tentang penayangan drama-sejarah pada TV yang berjudul “Days of Hope” yang ternyata juga sama menceritakan sejarah. Namun pada film Days of Hope, terdapat pergunjingan apakah ini memang kejadian nyata ataukah hanyalah karangan narasi saja.
Selain itu, film yang merekonstruksi kejadian masa lalu, adalah film yang dipelopori oleh Jeff Chiba Steans yang mengabungkan antara foto dan wawancara mendalam kepada para informan (yang berada dalam foto). Dalam film Chiba yang berjudul “ One Big Hapa Family” dimana ia mencoba merekonstruksi koleksi foto keluarga yang ia miliki. Dalam film tersebut dijelaskan sangat rinci bagaimana kehidupan para masyarakay Jepang yang berada di Canada melalui foto-foto yang ia dapatkan dari keluarga besarnya.
Memang pada saat terjadinya PDII, yang melanda berbagai negara di diduna ini menjadikan eksistensi dan ketertarikan masyarakat untuk membuat data histori melalui foto dan film mulai beradapada titik puncaknya. Film dan foto memang sengaja dibuat, sebagai bukti bahwa PD II, memang mempengaruhi berbagai perkembangan suatu wilayah negara. Contohnya saja pada film Chiba, yang menjelaskan migrasinya masyarakat Jepang ke Canada dikarenakan jepang kalah pada PD II dikarenakan dua kota yang paling berpotensial di jepang telah di bombardier oleh belanda dengan bom nuklir, yang mampu meluluhlantakan kedua kota tersebut. Seihngga masyarakat muali bermigrasi dan memulali kehidupanya di Canada.
Sebagai suatu media, film, foto, dan video merupakan produksi dari sejarah. Dengan kemajuan teknologi, foto, film dan video dijadikan sebagi bahan ajaran yang lebih sederhana dan lebih mudah dimengerti dari pada penggunaan bukupada sistem pengajaran dalam kelas. Dari pada membaca buku, atau mengartikan sebuah foto, film memang lebih mudah dipahami. Dibandingkan dengan film, dalam artikel yang ditulis oleh anne marie willis foto memiliki peran yang lebih luas dari pada film. Dikerenakan foto dianggap lebih fleksibel yang mampu merekam suatu peritiwa. Mengingat bahwa sifat foto yang diusung oleh anne sebagai “windows of the past”


Baca selengkapnya »

Kliping Koran

Jumat, 02 November 2012
0 komentar


Gambar 1  (JAWA POS/Guslan Gumilang)

Dalam foto 1, terdapat dua buah foto yang berbeda, yang pertama foto tentang poster pemberitahuan tentang bahaya penggunaan narkoba pada kalangan remaja. Sedangkan foto yang kedua menjelaskan kehidupan para remaja yang sedang menikmati dunia malam. Dari foto yang pertama dan yang kedua, saling berkaitan erat antara penggunaan narkoba dengan pergaulan remaja saat ini yang cenderung sering keluar malam bersama teman-temanya. Pergaulan para remaja usia 17-20 tahun mrupakan masa di mana mereka sedang berlomba-lomba mencari jati diri mereka. Sehingga mereka akan mencoba Sesutu yang baru mereka ketahui dalam kehidupannya yang baru. Tetapi di sini saya tidak membahas persoalan remaja, tetapi mengenai media poster/stiker/baliho sebagai sarana penganti media elektronik untuk menginformasikan sesuatu kepada orang yang dituju.
Seperti gambar pertama, yang bergambarkan ada seorang pelajar SMA sedang berdiri di atas poster pemberitahuan tentang bahaya menggunakan Narkoba.  Biasanya tulisan tersebut berisi seperti “ SAY NO TO DRUGS”, “ katakana TIDAK pada NARKOBA”, “Hidup Lebih Indah Tanpa NArkoba”. Kata-kata tersebut sangat umum dijumpai baik di sekolah SMP, SMA, PT/Universitas ataupun di jalanan. Tidak hanya pada pelajar, media jenis tersebut juga berlaku universal, tidak tertuju pada golongan tertentu.sering kita ketahui bahwa media cetak baliho/poster sering diletakkan di tempat yang memiliki spot yang sering dilewati oleh orag banyak. Seperti pada lembaga pendidikan, tembok jalanan/lampu merah, ataupun baliho besar yang sering mewarnai pinggiran jalan.



Gambar 2 (Stiker Bergambar Koruptor- KOMPAS/Agus Susanto 15/12)

                Foto yang kedua berisikan tentang stiker gambar daftar para korupor yang sedang menjadi buronan polisi pada saat itu. Dari foto ini, menjelaskan bahwa media tidak hanya berisikan tentang himbauan penggunaan Narkoba ataupun Sponsor produk semata, melainkan juga bisa menjadi suatu jurus yang jitu untuk menggajak masyarakat untuk besama-sama ikut andil dalam memberantas kejahatan korupsi di Indonesia.  Foto tersebut bukanya berada di kantor/pos polisi, melaikan berada di warung pinggir jalan MH Thamrin, Jakarta. Walaupun stiker gambar di meja warung pinggir jalantersebut terlihat rusak, tetapi foto ini cukup menjelaskan bahwa polisi, ataupun aparat hukum yanglain menginginkan agar para masyarakat juga ikut andil dalam pencarian para koruptor tersebut.
                Terkadang pemberitahuan seperti ini biasa di lakukan di televisi ataupun media cetak yang lain (Koran/majalah). Tetapi hal ini berbeda, pemberitahuan seperti ini justru diberitahukan melalui stiker yang menempel pada meja warung pinggir jalan tersebut. Dilihat dari penggambilan spotnya, sudah jelas warung dipilih dikarenakan warung pinggir jalan pasti akan didatnggi oleh para pengguna jalan yang inggin singgah. Sehingga secara tidak sadar, seseorang yang sedang duduk di kursi/meja tersebut pasti akan menggetahuinya.
                Jika dilihat dari frekuensinya, media cetak (baliho/stiker/poster) cukup efektif untuk memberitahukan suatu peristiwa kepada masyarakat. Dikarenakan jika memang ia adalah pengguna jalan/pengguna warung tersebut yang sering datang pada tempat tersebut, pasti lambat laun akan menghafal apa yang ada atau apa maksud yang terdapat pada media cetak. Sehingga para masyarakat akan segera tanggap jika ia menemui orang yang wajahnya terpampang sebagai list buronan koruptor dan melaporkanya kepada polisi setempat tentang keberadaan para koruptor. Sehingga dari stiker ini, diharapkan presentase terhadap koruptor di Indonesia akan menurun.
                Hanya sebagai tambahan saja, foto tersebut diambil saat si fotografer baru pertama singgah dan datang di warung pinggir jalan tersebut. Terlihat dari ekspresi dua orang yang sedang melihat proses pemotretan. Sepertinya, kedua orang ini mengangap aneh si fotografer, dikarenakan ia melihat pada objek yang ingin di foto oleh fotografer yang menurut kedua orang ini kurang interest bagi mereka. Selain itu, jika si fotografer sudah sering/ menjadi pelanggandi warung tersebut, pemotretan yang ia lakukan tidak akan menarik perhatian dari orang-orang di sekitarnya.



Gambar 3 (Penjelasan Tentang Tsunami-KOMPAS/Yuniadhi Agung)

                Foto berikutnya menjelaskan pemberitahuan tentang Tsunami. Pemberitahuan kali ini menggunakan media baliho sebagai media penyampai pesan. Baliho ini berisikan tentang penyeluhan apa saja yang harus dilakukan ketika terjadi bencana tsunami datang. Baliho ini berada di pesisir kota Cilacap, Jawa Tenggah yang tidak terkena dampak tsunami. Terlihat dari gambar tersebut terdapat pengguna jalan, yang sedang melihat gambar baliho tersebut sambil tetap mengayuh sepedanya. Walaupun di daerah cilacap masih belum terkena bencana tsunami, dinas kelautna setempat mencoba menghimbau warganya untuk berjaga-jaga dan bersiap-siap ketika bencana tsunami datang, dan menimpa kapanpun.
                Baliho tersebut memang terletak di jalan yang sepertinya menjadi jalan yang sering dilalui oleh warga sekitar, dikarenakan pemasangan baliho tersebut berada di jalan menuju ke bibir pantai. Terkadang pemberitahuan tentang penyuluhan tsunami diberitahukan secara langsung kepada warga melalui acara-acara tertentu, tetapi kali ini berbeda, untuk lebih mengingatkan kepada warga bahwa bahaya tsunami dapat datang sewaktu-waktu, maka dinas kelautan besarta pemerinyah sekitar senggaja mamasang penyuluhan tentang bahaya tsunami di pinggir jalan. Mungkin presentasi pembaca dari baliho ini sedikit, dan mungkin para warga hanya akan melihat gambarnya saja, tidak kepada tulisannya. Namun, pemberitahuan seperti ini sudah cukup untuk menghimbau para warga setempat untuk tetap waspada terhadap bencana tsunami yang akan melanda sewaktu-waktu.



Gambar 4 (Menunggu Konsumen-KOMPAS/YUNIADHI AGUNG)

                Foto berikikutnya adalah mengenai pemasangan symbol dollar AS bahwa di tempat tersebut terdapat jasa penukaran uang asing di pinggir jalan di kawasan Kwitang, Jakarta. Terlihat jelas bahwa pedagang valuta asing tersebut sedang menunggu konsumen yang datang untuk menukarkan uang ke dirinya. Mengingat pada saat itu nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat. Terbukti pada selasa 28/3 kurs rupiah naik menjadi Rp 9.050 per satu dollar AS.
                Seperti yang saya sebutkan pada deskripsi yang lain. Tujuan dari pemasangan tanda ini menunjukan bahwa terdapat pemberitahuan jika, “ di sini terima jasa penukaran uang asing”. Seperti yang saya beritahukan di atas, bahwa pada saat itu nilai tukar rupiah terhadap dollar AS meningkat, mungkin bapak ini berkeninginan bahwa akan ada orang yang inggin menukarkan uang rupiahnya dengan dollar AS sebagai investasi jika nilai dollar akan naik kembali.
                Memang kenaikan dollar AS, akan mempengaruhi nilai atau harga barang/pangan/sandang di Indonesia akan ikut naik. Mengingat bahwa dollar merupakan nilai kurs tertinggi saat ini. Jika dilihat dari fenomena saat ini, banyak ditemukan dipinggir jalan terdapat jasa penukaran uang asing yang tidak resmi. Biasanya jasa penukaran ini dilakukan di bank-bank yang bersangkutan. Tetapi manusia inidonesia lebih memilih cara instan, dan mudah untuk menukarkan uang asingnya ke rupiah melalui jasa penukaran uang di jalanan.



Gambar 5 (KOMPAS/AGUS SUSANTO senin 18/12) 

                Gambar ini diambil di tempat pengepul barang bekas dari para pemulung di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Terlihat bahwa ada seorang pemulung yang sedang beristirahat di sebelah poster presiden RI SBY beserta mantan WaPres JK. Ternyata tidak hanya di lembaga pendidikan atau di kantor-kantor petinggi daerah, namun ditempat yang jarang dilirik orang bahkan dianggap hina sekalipun terdapat dua poster  presiden dan mantan presidennya. Hal ini membuktikan bahwa penempatan foto/poster sangatlah elastis, dan tidak tergantung oleh tempat.
Penempatan foto tersebut bukan sebagai pembuktian ideologi yang ada pada diri si pemilik tempat, melainkan sebagai bentuk protes bahwa sulitnya mencari lapangan kerja di ibukota. Walaupun hanya sebagai pemulung ibu kota, ternyata profesi ini juga memiliki saingan yang berat setipa tahunya. Para pemulung akan terus bersaing dengan pemulung yang lain, yang jumlahnya setiap hari semakin meningkat yang kebanyakan dari mereka merupakan pendatang. Sehingga pendapatan sehari-hari para pemulung ini sekian hari semakin sedikit, mengingat bahwa pendapatan mereka sehari-hari memang sudah sedikit.
Selain itu, di sebelah peletakkan foto tersebut, terdapat stiker yang menunjukkan bahwa si pemilik rumah, merupakan golongan keluarga yang cukup terpandang di wilayah tersebut. Disini, stiker berfungsi sebagai tanda dari suatu komunitas, bukan lagi sebagai sebuah pemberitahuan ataupun sebagai peringgatan.



KESIMPULAN :
Di era modern ini, pemberitahuan terhadap Sesutu tidak hanya melalui media elektronik seperti radio, TV ataupun radio, melainkan keberadaan media cetak di era modern ini masih berlaku, bahkan dapat dikatakan bahwa eksstensi dari media cetak ini mulai muncul kembali. Selain biaya yang dikenakan cukup ringgan dibandingkan pemberitahuan melalui media elektronik yang cukup menguras kantong. Tidak hanya itu, keberadaan media cetak, seperti baliho, stiker, ataupin poster dirasa cukup membantu dalam penyampaian suatu hal. Dilihat dari frekuensinya, peletakan jenis media cetak tersebut, selalu berada di spot-spot yang sering dilewati oleh orang banyak, sehingga secara tidak sadar para pengguna jalan akan selalu melihat poster/stiker/baliho yang terpasang di pinggiran jalan. Lain dengan pemberitahuan yang dilakukan oleh edia elektronik yang cenderung hanya satu kali dala setiap penayangannya.
Seperti peletakkan poster ajakan untuk tidak mengunakan narkoba yang selalu ada di setap lembaga pendidikan. Selain penyuluhan yang selalu diberikan oleh guru setempat, poster digunakan sebagai pengingat dan pemberiatahuan terhadap bahaya penggunaan Narkoba. Poster juga ditunjang dengan gambar yang semakin mewakili pemberitahuan apa yang ingin disampaikan.  Dari frekuensinya, para pelajar akan setaip hari melihat poster-poster tersebut sehingga secara tidak sadar ia telah terlatih untuk tidak menggunakan Narkoba dalam bentuk apapun dan pada waktu apapun. Sehingga poster dirasa cukup untuk memberitahukan sesuatu kepada masyarakat luas.


Baca selengkapnya »
 

Labels

 

© 2010 ETNOFOTOGRAFI, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV