Behind The Scane Perkawinan Jawa

Jumat, 11 Januari 2013

Tidak Hanya Sebuah Pernikahan



Pernikahan merupakan tahap seseorang untuk memulai kehidupan yang baru. Begitulah tanggapan orang-orang pada hal ini. Dalam ilmu sosial, khususnya Antropologi, Pernikahan merupakan ritual khusus sesorang untuk memasuki dunia yang baru. Sehingga Pernikahan termasuk dari kategorisasi Inisiasi. Menurut A Van Gennep Inisiasi merupakan Ritual khusus untuk memperingati perpindahan status seseorang atau bertepatan pada suatu acara penting. Dan pernikahan inilah salah satunya. Dikarenakan pernikahan merupakan suatu acara yang besar, maka diperlukanya persiapan yang khusu dalam menyiapkan suatu Pernikahan. seperti makanan yang disuguhkan oleh tamu, dan memasang tenda. Dalam kehidupan orang Jawa, apabila seorang kerabat atau tentangga memiliki suatu Hajat seperti ernikahan, maka sanak saudara dan tetangga orang yang bersangkutan akan ikut dalam mempersiapkan pesta dua keluarga yang disebut dengan Pernikahan ini.
Seperti yang saya lihat dari beebrapa pernikahan di lingkungan saya yang tergolong masyarakat penganut budaya Jawa, sebagai wujud tenggangrasa, dan perwujutan atas rasa solidaritas yang tinggi terhadap sesama orang Jawa, persiapan suatu pernikahan pasti akan dilakukan secara maksimal. Dalam persiapan ini, terbagi dua kelompok yakni kelompok laki-laki (nyinoman) dan perempuan (mbiodo) dimana semua kerabat, teman dan tetangga ikut berbaur jadi satu untuk mempersiapkan pernikahan secara sukarela. Dalam suatu pernikahan orang jawa pastinya terdapat dua kelompok itu. Nyinoman selalu bekerja satu hari sebelum hari pernikahan untuk menyiapkan dekorasi, menata terop, dan melek'an atau begadang sampai pagi. Biasanya pada kelompok masyarakat Jawa yang belum tersebtuh pengaruh dari islamisasi, begadang dilakukan dengan cara minum arak, kopi, merokok, dengan cara ngiling bareng-bareng. Barbeda dengan masyarakat Jawa yang sudah tersentuh oleh penggaruh Islam, kegiatan meminum arak tradisional mulai ditinggalkan, mungkin hanya merokok nemun tidak pada semua orang, hanya tertentu saja. Selain sebagai penata dekorasi,seorang nyioman terkadang juga membantu untuk menyebarluaskan surat undangan.
Berbeda dengan seorang nyinoman, seorang mbiodo yang didominasi oleh kaum hawa ini, justru lebih bekerja ekstra keras 1 minggu sebelum pernikahan, sampai hari pernikahan tersebut di gelar. Kelompok mbiodo ini, oleh sang tuan rumah diberikan otoritas penuh terhadap segala urusan yang berhubungan dengan dapur dan makanan. Keberadaan seorang mbiodo dahulu sangat dibutuhkan dan justru menjadi sesuatu yang sangat vital no dua, setelah adanya penghulu dalam sebuah pernikahan. Dalam kelompok Mbiodo terdapat berbagai macam divisi, yang menangani berbagai urusan dapur. hal ini dimaksudkan agar makanan yang disuguhkan tidak telat, dan akan selalu ada. Seorang mbiodo dalam mengerjakan pekerjaanya, selalu di bubuhi oleh percakapan khas ibu-ibu seperti ngossip untuk mencairkan suasana di dapur. dan sebagai sarana hiburan bagi mereka. Selain itu solidaritas para Mbiodo ini sangat terlihat jelas, bahkan pada para wanita yang baru dikenalnya. Berikut adalah foto-foto para mbiodo yang saya ambil ketika salah satu saudara saya sedang melakukan upacara pernikahan di daerah Nganjuk, Jawa Timur


Mbiodo part I : time to take a break, setelah rempong melayani tamu, dan mempersiapkan makanan
Mbiodo part II : bagian khusus krupuk dan jajanan
Mbiodo Part III : bagian khusus divisi pawon, memasak dan segalanya, divisi paling rempong se jagad Mbiodo
Mbiodo Part IV : divisi packing jajan(berkat) yang selalu di dominasi olehorang tua
Keberadaan seorang mbiodo yang didominasi oleh kaum hawa, merupakan bentuk integritas masyarakat Jawa terhadap kehidupan para Wanita. Dimana seorang wanita merupakan koki, dan penguasa dapur. Dikarenakan, pada masyarakat Jawa penilaian terhadap seorang wanita yang baik untuk dinikahi adalah 3M, yakni Masak, Manak, Macak (masak, melahirkan, berdandan). Sehingga masak seakan-akan menjadi patokan dan kewajiban khusus bagi seorang wanita. Sedangkan pada seorang Sinoman, biasanya hanya bertugas untuk mengantarkan makanan pada tamu (sebagai pramusaji ketika proses pernikahan berlangsung).
Keadaan seperti yang saya jelaskan diatas hanya dapat ditemui pada upacara pernikahan masyarakat Jawa yang masih tradisional. Namun hal berbeda terlihat ketika pernikahan pada masyarakat Jawa yang modern. Pernikahan masyarakat Jawa modern, tidak menggunakan mbiodo dan nyinoman dalam acara pernikahanya. Masyarakat Jawa modern sekarang menyerahkan semua acara perikahan kepada Wedding Organiser (WO) mulai dari persiapan dekorasi, hingga urusan dapurpun, semua diserahkan pada WO. Namun terkadang banyak pula yang menyerahkan urusan dapur ini kepada jasa catering, namun masih mempergunakan bantuan dari seorang nyinoman, namun keberadaan mbiodo pada masyarakat Jawa modern, hanya sebatas formalitas untuk berkumpul dan bergurau saja. dan tidak lagi memasak seperti yang terjadi pada masyrakat tradisional. Hal ini disebabkan karena adanya suatu gengsi pada masyarakat Jawa modern, untuk menaikan nilai strata mereka sedikit naik di mata para tamu, karena adanya kerjasama antara WO dan jasa catering yang membutuhkan uang yang tidak sedikit. Selain itu, wanita jawa menggalami pergeseran gender, dimana dahulu wanita yang memegang dapur, sekarang seorang koki (pria) yang memegang penuh kendali atas dapur dalam suatu upacara pernikahan. Kemunduran gender ini dibuktikan oleh beberapa wanita Jawa saat ini yang lebih memilih menjadi wanita karir, daripada menjadi ibu rumah tangga yang mengurus dapur dan rumah. 

Foto : Dokumen Pribadi 

0 komentar:

Posting Komentar

 
 

© 2010 ETNOFOTOGRAFI, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV