Tidak Hanya Sebuah Pernikahan
Pernikahan merupakan tahap seseorang untuk memulai kehidupan yang baru. Begitulah tanggapan orang-orang pada hal ini. Dalam ilmu sosial, khususnya Antropologi, Pernikahan merupakan ritual khusus sesorang untuk memasuki dunia yang baru. Sehingga Pernikahan termasuk dari kategorisasi Inisiasi. Menurut A Van Gennep Inisiasi merupakan Ritual khusus untuk memperingati perpindahan status seseorang atau bertepatan pada suatu acara penting. Dan pernikahan inilah salah satunya. Dikarenakan pernikahan merupakan suatu acara yang besar, maka diperlukanya persiapan yang khusu dalam menyiapkan suatu Pernikahan. seperti makanan yang disuguhkan oleh tamu, dan memasang tenda. Dalam kehidupan orang Jawa, apabila seorang kerabat atau tentangga memiliki suatu Hajat seperti ernikahan, maka sanak saudara dan tetangga orang yang bersangkutan akan ikut dalam mempersiapkan pesta dua keluarga yang disebut dengan Pernikahan ini.
Seperti yang
saya lihat dari beebrapa pernikahan di lingkungan saya yang tergolong
masyarakat penganut budaya Jawa, sebagai wujud tenggangrasa, dan perwujutan
atas rasa solidaritas yang tinggi terhadap sesama orang Jawa, persiapan suatu
pernikahan pasti akan dilakukan secara maksimal. Dalam persiapan ini, terbagi
dua kelompok yakni kelompok laki-laki (nyinoman) dan perempuan (mbiodo)
dimana semua kerabat, teman dan tetangga ikut berbaur jadi satu untuk
mempersiapkan pernikahan secara sukarela. Dalam suatu pernikahan orang
jawa pastinya terdapat dua kelompok itu. Nyinoman selalu bekerja satu
hari sebelum hari pernikahan untuk menyiapkan dekorasi, menata terop, dan melek'an
atau begadang sampai pagi. Biasanya pada kelompok masyarakat Jawa yang belum
tersebtuh pengaruh dari islamisasi, begadang dilakukan dengan cara minum arak,
kopi, merokok, dengan cara ngiling bareng-bareng. Barbeda dengan
masyarakat Jawa yang sudah tersentuh oleh penggaruh Islam, kegiatan meminum
arak tradisional mulai ditinggalkan, mungkin hanya merokok nemun tidak pada
semua orang, hanya tertentu saja. Selain sebagai penata dekorasi,seorang nyioman
terkadang juga membantu untuk menyebarluaskan surat undangan.
Berbeda
dengan seorang nyinoman, seorang mbiodo yang didominasi oleh kaum
hawa ini, justru lebih bekerja ekstra keras 1 minggu sebelum pernikahan, sampai
hari pernikahan tersebut di gelar. Kelompok mbiodo ini, oleh sang tuan
rumah diberikan otoritas penuh terhadap segala urusan yang berhubungan dengan
dapur dan makanan. Keberadaan seorang mbiodo
dahulu sangat dibutuhkan dan justru menjadi sesuatu yang sangat vital no
dua, setelah adanya penghulu dalam sebuah pernikahan. Dalam kelompok Mbiodo terdapat berbagai macam divisi, yang menangani berbagai urusan dapur. hal ini dimaksudkan agar makanan yang disuguhkan tidak telat, dan akan selalu ada. Seorang mbiodo dalam mengerjakan pekerjaanya, selalu di bubuhi oleh percakapan khas ibu-ibu seperti ngossip untuk mencairkan suasana di dapur. dan sebagai sarana hiburan bagi mereka. Selain itu solidaritas para Mbiodo ini sangat terlihat jelas, bahkan pada para wanita yang baru dikenalnya. Berikut adalah foto-foto
para mbiodo yang saya ambil ketika
salah satu saudara saya sedang melakukan upacara pernikahan di daerah Nganjuk,
Jawa Timur
| Mbiodo part I : time to take a break, setelah rempong melayani tamu, dan mempersiapkan makanan |
| Mbiodo part II : bagian khusus krupuk dan jajanan |
| Mbiodo Part III : bagian khusus divisi pawon, memasak dan segalanya, divisi paling rempong se jagad Mbiodo |
| Mbiodo Part IV : divisi packing jajan(berkat) yang selalu di dominasi olehorang tua |
Keberadaan
seorang mbiodo yang didominasi oleh kaum hawa, merupakan bentuk integritas
masyarakat Jawa terhadap kehidupan para Wanita. Dimana seorang wanita merupakan
koki, dan penguasa dapur. Dikarenakan, pada masyarakat Jawa penilaian terhadap
seorang wanita yang baik untuk dinikahi adalah 3M, yakni Masak, Manak, Macak (masak, melahirkan, berdandan). Sehingga masak
seakan-akan menjadi patokan dan kewajiban khusus bagi seorang wanita. Sedangkan
pada seorang Sinoman, biasanya hanya bertugas untuk mengantarkan makanan pada
tamu (sebagai pramusaji ketika proses
pernikahan berlangsung).
Keadaan
seperti yang saya jelaskan diatas hanya dapat ditemui pada upacara pernikahan
masyarakat Jawa yang masih tradisional. Namun hal berbeda terlihat ketika
pernikahan pada masyarakat Jawa yang modern. Pernikahan masyarakat Jawa modern,
tidak menggunakan mbiodo dan nyinoman dalam acara pernikahanya.
Masyarakat Jawa modern sekarang menyerahkan semua acara perikahan kepada Wedding Organiser (WO) mulai dari persiapan dekorasi, hingga
urusan dapurpun, semua diserahkan pada WO. Namun terkadang banyak pula yang
menyerahkan urusan dapur ini kepada jasa catering,
namun masih mempergunakan bantuan dari seorang nyinoman, namun keberadaan mbiodo
pada masyarakat Jawa modern, hanya sebatas formalitas untuk berkumpul dan
bergurau saja. dan tidak lagi memasak seperti yang terjadi pada masyrakat
tradisional. Hal ini disebabkan karena adanya suatu gengsi pada masyarakat Jawa modern, untuk menaikan nilai strata
mereka sedikit naik di mata para tamu, karena adanya kerjasama antara WO dan
jasa catering yang membutuhkan uang
yang tidak sedikit. Selain itu, wanita jawa menggalami pergeseran gender,
dimana dahulu wanita yang memegang dapur, sekarang seorang koki (pria) yang memegang penuh kendali atas dapur dalam suatu
upacara pernikahan. Kemunduran gender ini dibuktikan oleh beberapa wanita Jawa
saat ini yang lebih memilih menjadi wanita karir, daripada menjadi ibu rumah
tangga yang mengurus dapur dan rumah.
Foto : Dokumen Pribadi
0 komentar:
Posting Komentar