U3

Jumat, 31 Januari 2014
U3 = UNIT TIGA
 Aspirasi Masyarakat dalam Seni


Unit 3 (U3) Pasar Besar Kota Batu berbeda dengan unit yang lain. Di Unit 3 ini menurut saya pasar yang tidak sekedar sebagai tempat jual beli. Tapi bagi pengunjung (rata-rata menengah ke bawah) selain membeli sesuatu, area ini juga berfungsi sebagai tempat untuk jalan-jalan, bersantai atau mencari hiburan, terutama pria. Di unit 3 ini orang bisa sekedar melihat barang loakan. Menonton TV bekas yang dijual. Nimbrung nonton goyangan seronok penyanyi dangdut yang diputar penjual vcd. Membeli bunga untuk upacara ritual. Membaca buku bekas di loakan buku bekas. Membeli cincin emas atau palsu. Mencari alat-alat pertanian dan pertukangan. Tukar tambah HP lengkap dengan aksesoris. Ngobrol santai di warung sempit. Semua ada di sini ! Sebuah gambaran pasar yang komplit, tentang perputaran uang seret dan yang mengalir lancar (Watoni, 2013).
U3 (Unit 3/Pasar Rombeng) merupakan salah satu unit di Pasar Besar Kota Batu, yang hanya khusus menjual barang-barang bekas, atau bisa disebut sebagai pasar loak. Namun, sisi yang ingin diangkat oleh Watoni yakni posisi para pedagang di U3 yang masih bertahan dalam gencaran arus modernisasi yang juga didukung dengan posisi kota Batu sebagai Kota Pariwisata yang semakin mamajukan sektor ke-modern-an yang ia miliki. Terlepas dari itu semua, para pedagang yang berada di U3 khususnya masih tetap eksis dan memiliki pelanggan tetap. Dari keseluruhan toko di U3 hanya sekitar 55% yang masih membuka tokonya. Hal ini dikarenakan ketatnya persaingan di dalam pasar, dimana banyak para konsumen menginkan barang kekinian-modern, sedangkan mayoritas penjual di U3 menjual barang bekas/loak, atau barang-barang yang bisa dikatakan out of date, sehinga banyak para pedagang di U3 ini banyak yang gulung tikar. Selain itu, pelukis juga ingin menunjukan eksistensi U3 dalam masa modern ini. Namun, keberadaan U3 yang tetap konsisten dalam memperdagangkan barang-barang bekas (out of date, second) jelas tergeser dengan keberdaan pasar modern yang semakin marak bermunculan. Dalam menyelami kehidupan dari objek yang akan ia angkat ke dalam lukisan, selama 3 tahun ia mencoba terjun langsung ke lapangan dan mengikuti arus yang berada di U3. Hingga akhirnya ia menemukan nilai-nilai eksotisme di U3 dan ia abadikan dalam karyanya dan dipamerkan pada 8-15 Juli 2013 lalu.
Pelukis juga ingin menunjukan sisi lain dari U3 yang terlanjur medapatkan streotipe negatif pada masyarakat karena banyak fenomena pancamakara (judi, togel, tjap tjiki, prostitusi, miras) terjadi di U3 ini. Namun, terlepas dari kegiatan pancamakara yang ada di U3, pelukis ingin menunjukan adanya ‘wajah-wajah’ lain di U3 ini, seperti yang ditunjukan oleh kedua lukisan di bawah ini. Piliang (dalam Walker,2010) mengatakan bahwa dunia desain ingin menjelaskan tentang benda yang sekaligus menjelaskan keadaan kemanusian itu sendiri, begitu juga dalam seni yang mampu menunjukan sisi lain yang ingin ditunjukan oleh seorang seniman, terlepas dari unsur estetikanya, yakni mengenai kehidupan sosial budaya yang melingkupi seniman(objek dari si seniman untuk ber-seni). Dalam tulisan kali ini, saya akan membahas tentang perbandingan dua lukisan karya Watoni dalam pameran U3 (Unit 3/Pasar Rombeng) dan melihat beberapa fenomena (baik sosial dan budaya) yang muncul di U3.

Yang pertama adalah karyanya yang berjudul “Legenda Kaset-2013” (120 x 150 cm/125 x 107 (panel)). Pada lukisan ini, ia melukiskan sosok orang yang menjual kaset tape lama yang bernama Aji. Aji merupakan orang pertama yang menjual kaset tape di Batu pada tahun 1989. Aji (50) sendiri merupakan keturunan dari Dayak-Ngaju sehingga ia memiliki tampang khas orang dayak, dan memiliki kulit yang kuning bersih, mungkin inilah yang membedakanya dari pedagang U3 yang lain. Aji membuka lapaknya pada jam 8 pagi hingga jam 3 sore, tepatnya di tangga pintu masuk sebelah bawah U3. Yang saya ingat dari Aji, selain penampilan fisiknya adalah, kebiasaanya yang setiap hari menyetel musik dangdut angkatan 80an seperti Elvi Sukaesih, Roma Irama, Rita Sugiarto dll. Selain sebagai penjual ia juga merupakan kolektor, sekaligus pengepul kaset tape. Ia sendiri menjuluki lapak daganganya sebagai “Gudang Kaset Tape” di Malang. Dalam koleksinya ia menyimpan kaset tape original tidak hanya dari dalam negri saja, namun juga dari luar negri.

Kaset Tape muncul pada tahun 1970-an sebagai bentuk dari penyempurnaan piringan hitam, dan keuntungan dari kaset tape sendiri adalah dapat dibawa ke mana-mana. Aji menjual kaset tape ini mulai dari tahun 70-an hingga 2000-an, mulai dari musik klasik, jazz, rock, metal, disco, electric, R n’ B, pop, hingga musik khas tradisi Indonesia, seperti dangdut (dangdut, koplo, remix), keroncong, lagu-lagu daerah (tari), rekaman Kartolo hingga Warkop, namun yang menyita perhatian saya adalah, ia juga memiliki rekaman pidato Bung Karno yang juga ada di lapak daganganya. Semua kaset tape yang ada di gudangnya hanya dijual sebesar @ Rp 5.000 dari berbagai genre lagu, hingga tahun pembuatan, baik itu langka atau tidak.

Alasan ia menjual kaset tape adalah kecintaanya terhadap musik yang sampai sekarang menjadi pedoman bagi dirinya. Selain itu, alasan lainya adalah karena ia mempercayai bahwa hingga saat ini masih ada beberapa orang yang masih membutuhkan kaset tape ini, sehingga sampai saat ini, ia masih tetap bertahan untuk menjual kaset tape, dan kepercayaanya pun terbukti, langanan setianyapun juga bermacam-macam, muali dari belantik (penjual/pengembala sapi), mahasiswa, politikus, hingga kolektor kaset tape yang berasal dari Eropa (Belanda).

Yang kedua adalah lukisan Watoni yang berjudul “Head of Copy-2013” (170 x 150 cm). Dalam lukisannya yang kedua ini, ia melukiskan sosok penjual kaset CD di U3. Berbeda dengan Aji yang menjual kaset tape dan tergolong jadul/kuno/out of date Eko Win menjual kaset CD yang berkesan millennium dan modern pastinya. Dilihat dari bentuk fisiknya saja, kita sudah mengetahu perbedaanya yang sangat jauh. Eko Win menjual kaset CD seperti musik dangdut (terutama koplo), keroncongan, lagu khas Malaysia, Lagu India (ost Film), lagu band-band Indonesia, Film kartun anak-anak dari cerita Barat (Spongebob, Teletubies, Dora, Shaun the Sheep, Barbie, Disney dll) hingga yang tradisional (Timun Mas, si Kancil, Bawang Merah-Putih dll) dan film-film Indonesia. Yang menjadi pembeda di sini adalah, ia juga menjual rekaman dari pertunjukan kesenian Jawa Timur seperti Bantengan, Jaranan, dan Reog Ponorogo yang saat ini digandrungi oleh masyarakat Batu.

Eko Win merupakan seorang Sastrawan Batu yang bisa dikatakan “sedang terjebak” di dalam keheningan U3. Dalam dunia sastra ia akrab di kenal sebagai Eko Winarto. Eko Win merupakan seorang sastrawan angkatan 70’-80’an dan sering menciptakan cerpen bagi anak-anak dan puisi. Karyanya yang cukup fenomenal adalah puisinya yang berjudul “KIOS” yang secara garis besar menceritakan bagaimana perjalanan seorang penjual rokok gendong hingga mendapatkan sebuah kios kecil (seperti asongan namun lebih besar dan terbuat dari seng, dan sering ditemukan di pingir jalan). Selain itu, puisi yang sangat berkesan bagi dirinya sendiri adalah sebuah puisi yang berjudul “Aku”, yang menceritakan refleksi dari perjalanan rohani dan pergolakan religius dalam kehidupanya, hingga ia menenmukan nilai religius yang sampai saat ini ia yakini. Hingga setelah puisi “Aku” ini, Eko Win sudah tidak pernah menyentuh pena lagi, dan memutuskan untuk istirahat dari dunia sastra. Yang cukup disayangkan, Eko Win tidak memiliki salinan naskah dari karya-karyanya, hampir semuanya sudah hilang. Selain menjadi sastrawan, ia juga memiliki jasa rekaman dan menyutradai beberapa pegelaran kesenian daerah seperti kesenian Bantengan, Reog, dan Jaran Kepang yang kemudian ia jadikan menjadi CD/VCD dan kemudian dijual.

Apabila kita membicarakan Pasar, pasti kita akan menemukan berbagai macam fenomena budaya yang sangat kompleks baik yang menyangkut kegiatan ekonomi hingga terlepas dari perputaran ekonomi di pasar seperti yang akan saya bahas kali ini. Pasar sendiri merupakan sebuah tempat para pedagang untuk besaing dalam menjajakan daganganya. Sehingga dalam hal ini pasti terdapat sifat kompetitif pada setiap pedagang dalam U3 dengan para pedagang di pasar modern. Dengan melihat perkembangan zaman yang ‘modern’ pasti pasar juga akan mengikuti permintaan konsumen sesuai dengan perkembangan waktu yang terus berjalan. Namun, nuansa tradisional dan modern di U3 berjalan berinringan. Inilah yang menjadi nilai plus dari keberadaan U3. Kegigihan para pedagang yag masih mengusung nilai-nilai tradisional menjadi alasan mengapa pasar ini masih tetap berdiri dalam gencatan arus modern dalam perputaran pasar.
Benda seni (lukisan) dalam hal ini saya maknai sebagai sarana komunikasi yang menghubungkan antara seniman dan publik, dimana si seniman ingin menunjukan realita sosial yang melingkupinya. Begitupula yang ingin dilakukan oleh Watoni, melalui lukisan yang ia ciptakan, ia ingin menunjukan sisi lain yang terselubung dan jarang diketahui oleh masyarakat tentang kehidupan di U3. Lukisan dalam hal ini saya ibaratkan sebagai sebuah “forma” yang ingin menunjukan temporalitas keberadaan U3 yang masih memiliki nilai eksistensi saat ini. Melalui berbagai macam potret berbagai profesi di U3, tubuh (bentuk fisik dari objek lukisan Watoni yang melingkupi mimic, tubuh dan ekspresi) berfungsi sebagai temporalitas waktu yang harus dihayati, dan sebagai penunjuk waktu.
Pastinya, setiap individu di dunia ini memiliki perbedaan perspeksi dalam memandang suatu objek, terutama dalam seni (Lukis) yang memiliki pemaknaan yang bebas. Dalam melihat fenomena di dalam U3, saya menggunakan pendekatan estetika yang menekankan aspek seni dan desain dalam melihat daya tarik eksentrik dalam sebuah lukisan dengan menggunakan tiga perspeksi salah satunya simbol yang ingin menunjukan tentang isi yang terkandung dalam sebuah lukisan (Walker, 2010). Simbol yang sangat menonjol dalam kedua lukisan ini adalah profesi dari masing-masing objek yang menjual musik dalam bentuk yang berbeda yakni kaset tape dan kaset CD/VCD, yang masing-masing benda menunjukan perjalanan waktu antara yang ‘baru’ yang ditunjukan oleh kaset CD/VCD dan yang ‘lama’ dengan ditunjukan oleh kaset tape.
Geertz (1983) mengatakan bahwa seni merupakan bagian dari sistem budaya, dimana seni diberikan, diletakan, dan dibiasakan oleh masyarakat sebagai pedoman interaksi. Dalam hal ini kajian antropologi digunakan untuk melakukan transkip atas fenomena masyarakat yang berkaitan dengan seni beserta dinamikanya. Dinamika budaya yang tertuang dalam lukisan Watoni menunjukan adanya pergeseran dari tradisional ke modern dalam sistem pasar. Pada dasarnya, pasar akan selalu menyediakan apapun kebutuhan konsumen, dengan berjalanya waktu dan semakin meningkatnya kebutuhan manusia, pasar akan selalu mengikuti arus ini, sehingga sesuatu yang baru akan terus bermunculan di dalam pasar. Berbeda dengan apa yang terjadi di U3, tidak seperti pasar-pasar yang lain U3 selalu konsisten dengan sisi ‘lama’ ‘tradisional’ dan ‘bekas’, justru yang terjadi dalam U3 ini sisi modern dan tradisional berjalan dengan beriringan.
Selain itu, dengan adanya keberdaan U3 menunjukan bahwa tidak selamanya manusia akan terlena dengan suasana modern saat ini, dan masih tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional yang mereka bawa. Hal ini ditunjukan oleh benda-benda yang dijual oleh para pedagang di U3 yang menjual barang-barang mistis (patung, batu akik, pusaka, keris), renaisens, retro, dll. Walaupun beberapa barang yang dijual merupakan barang second use, tidak menghalangi konsumen untuk membeli barang di U3. Hal ini dikarenakan banyak barang-barang bekas ini dijamin keaslianya. Seperti pada pedagang arloji yang menjual beberapa arloji asli dari Paris beserta sertifikatnya, kasat tape original yang dimiliki oleh Aji. Walaupun second atau baru, lama atau baru, kuno atau baru, keberadaan U3 ini menunjukan adanya sebuah wadah bagi orang-orang yang ingin terlepas sejenak dari lingkup kekinian/modern. Dan sebagai penunjuk pula tentang keberadaan masayarakat yang setia dengan sisi tradisional (minoritas) dalam kehidupan masyarakat yang modern (mayoritas).
 Refrensi :
  • Sunardi, ST. Vodka dan Birahi seorang Nabi . Yogyakarta: Jalasutra
  • Sumardjo, Jakob. 2000. Sosiologi Seniman Indonesia. Bandung: ITB
  • Walker, John A. 2010. Desain, Sejarah, Budaya. Yogjakarta: Jalasutra
Artikel
  • Mundayat. Aria Arif, Djoko Pekik “ Seni Sebagai Ekspresi Kritik”, dalalm Ahimsa Putra, Heddy. 2006, Esai-Esai Antropologi . Yogjakarta



0 komentar:

Posting Komentar

 
 

© 2010 ETNOFOTOGRAFI, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV