Dinamika Jawanisasi di Indonesia
Jepang
memiliki national culturnya yakni, Yosakoi yang merupakan tradisi menari
bersama yang dilakukan oleh puluhan orang. Selain trdisi Yosakoi, jepang memliki cirri khasnya sendiri, yang menandakan jati
dirinya bahwa mereka adalah orang Jepang, yakni pakaian tradisional Yukata. Selain Jepang, masih banyak
negara di dunia ini yang memiliki identitas national mereka seperti, Korea
memiliki Hanbok, dan india memiliki Sarri, dimana mereka menciptakan pakaian
tradisional yang mereka miliki sebagai
wujud dari identitas national mereka. Sehingga apabila kita mendengar nama dari
suatu negara, pasti kita akan langsung merujuk kepada kebudayaan nasional mereka,
sebagai wujud dari identitas national yang mereka miliki. Selain pakaian,
makanan dan budaya nasional juga dapat dijadikan sebagai identitas national.
Identitas national ini memang segaja dibuat untuk menciptakan ideology yang
sama, dan menyamakan semua orang bahwa mereka adalah satu. Sehingga dalam
mengatur dan menata sistem dalam masyarakat, pemerintah akan lebih mudah untuk
mensosialisasikan rencana-rencana untuk menciptakan negara yang sejahtera,
dikarenakan mereka memiliki latar belakang budaya yang sama. Selain itu, tujuan dari penciptaan identitas
national ini, menunjukkan bahwa mereka adalah negara maju atau negara
berkembang yang akan bertransformasi menjadi negara maju. Kita bisa melihat
bahwa hampir semua negara maju, memiliki identitas national yang sama, seperti
contoh di Jepang. Namun hal serupa sangat sulit ditemukan pada negara
berkembang seperti Indonesia yang tidak memiliki identitas nasional ataupun
budaya nasional. Ada yang berpedapat bahwa identitas national yang dimiliki
oleh Indonesia adalah Pancasila, menurut saya hal itu merupakan kesalahan,
dikarenakna Pancasila hanyalah berupa visi dan misi negara yang sampai sekarang
belum teralisasikan.
Indonesia
pada saat Orde Lama, yakni masa kepemimpinan Soekarno menyebutkan bahwa
Indonesia merupakan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), dimana kesatuan
merujuk pada keberagaman latar budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Namun, pada
masa kepemimpinan Soeharto (orde baru), ia ingin mengubah Indonesia yang merupakan negara kesatuan (NKRI) menjadi
negara serikat (Republik Serikat Indonesia/RSI/RI) seperti Amerika,
Jerman, India, Malaysia, Pakistan, dll[1].
Namun, hal tersebut sangat sulit diaplikasikan kepada negara yang sudah
terlanjur menjadi negara kesatuan, dikarenakan Indonesia bukanlah negara yang
solid seperti Amerika ataupun Jerman, yang federalis di satu pihak saja.
Indonesia sejak awal sudah tercerai berai oleh keadaan geografisnya yang menjadikan
Indonesia menjadi negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau yang
dipisahkan oleh lautan luas. Akibat dari
pemisahan ini, Indonesia memiliki keberagaman etnis yang cukup kuat dalam
setiap wilayahnya. Dipengaruhi dari iklim, mata pencaharian, sistem religi dan
letak geografis (gunung/laut). Pada setiap Pulau, Provinsi, Kota ,Kecamatan,
Desa, sampai pada ke Suku yang merupakan kelompok masyarakat terkecil, Indonesia
memiliki keberagaman budaya yang berbeda antara kelompok yang satu dengan yang
lain. Kalimantan, merupakan rumah bagi suku Dayak, yang memiliki keberagaman
budaya pada setiap sukunya, tradisi yang paling dikenal merupakan tradisi mangayau (berburu kepala) yang lama
kelamaan sudah mulai hilang. Bali, terkenal dengan tarian pendet, dan memiliki budaya Bali sendiri. Aceh, memiliki tarian saaman, dan memiliki kebudayaan Aceh
sendiri, Papua, memiliki kebudayaan Papua sendiri, dan hal tersebut juga berlaku
pada setiap wilayah di Indonesia.
Tentu
saja, hal ini sangat sulit untuk membentuk ataupun menciptakan “kesatuan dan
persatuan” pada seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, pembentukan negara Indonesia
Serikat juga dipersulit atas merebaknya kasus disintregasi sosial-budaya pada
saat itu. Yang ditakutkan akan penciptaan negara serikat ini, akan banyak
terciptanya negara bagian yang “merdeka”. Dari ketakutan inilah Negara
Indoenesia Serikat belum terealisasikan hingga sekarang[2]. Walaupun cita-cita Soeharto dalam menciptakan
Negara Indonesia Serikat bisa dikatakan gagal, namun kecerdasanya mampu
menciptakan inovasi baru bagi sejarah Indonesia. Soeharto menciptakan ide untuk
mensentralisasikan Indonesia untuk memiliki satu budaya nasional, sebagai
identitas nasional Indonesia dengan mengangkat budaya Jawa. Namun hal ini saya
anggap “sedikit” berhasil, dikarenakan semboyan masyarakat Indonesia yang sudah
mendarah daging, yakni semboyan Bhineka
Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda namun tetap satu.
Dalam
menciptakan identitas nasional, Soeharto mengangkat budaya Jawa sebagai budaya
nasional. Budaya Jawa ini rencananya akan diperkenalkan dan diaplikasikan
kedalam tiap-tiap kehidupan sub-kebudayaan masyarakat Indonesia yang notabenya
memiliki latar
belakang
kebudayaan yang sangat beragam. Proses menjadikan budaya jawa pada setiap
sub-sub kebudayaan di Indonesia dikenal sebagai proses Jawanisasi. Pemilihan
Jawa sebagai penciptaan budaya nasional ini dikarenakan Jawa merupakan pusat
pemerintahan dari Indonesia. Selain itu, jumlah penduduk jawa di Indonesia
sekitar 70% dari keseluruhan masyarakat Indonesia. Sehingga jawa memang segaja
di pilih, dikarenakan hampir seluruh kegiatan bersifat kenegaraan berada di
Jawa.
Sehingga
jawa kini seakan-akan telah diubah menjadi uber
alles[3],
dimana Jawa dijadikan sebagai dewa di tanah Indonesia, semua kegiatan
pembangunan dilaksanakan di tanah Jawa, Jawa menjadi sentral para perantau
mencari kerja, Jawa dijadikan sebagai pusat pendidikan yang unggul dibandingkan
wilayah lain. Pembangunan yang hanya terkonsentrasi pada tanah jawa,
menyebabkan kemunduran di semua wilayah luar Jawa, terkhususnya bagian timur
Indonesia. Sehingga daerah luar Jawa, sangat minim mendapatkan perhatian dari
pemerintah pusat, daerah luar jawa semakin tertinggal dan mereka seakan-akan
bukanlah bagian dari Indonesia. Pada saat inilah banyak bermunculanya negara
etnik untuk menyuarakan suara dari masyarakat non-jawa yang merasa
termajinalakan di tanahnya sendiri. Dan Soeharto merencanakan penghapusan
negara etnik melalui Jawanisasi.
Disadari
atau tidak, ide Jawanisasi ini telah menciptakan gagalnya solidaritas bangsa,
dimana banyak kita temui pada saat Orde Baru perselisihan antar budaya, dan
banyak provinsi-provinsi di Indonesia ingin keluar dan membentuk sistem pemerintahan
yang bebas. Hal ini dikeranakan proses jawanisasi yang pertama dilakukan denga
cara menerapkan sistem kepemerintahan
Jawa ke seluruh daerah di Indonesia,
seperti RT, RW, Lurah, Camat, dan Provinsi. Dengan cara ini sistem
pemerintah pada suatu daerah yang merupakan salah satu dari budaya dari nenek
moyang mereka yang secara turun-temurun diturunkan dari generasi ke generasi
menjadi hilang akibat penciptaan proses Jawanisasi ini. Selain itu, para
pemerintah pusat juga mengirimkan delagasi dari Jawa, seperti bupati, gubernur,
TNI, Polri untuk memimpin kantor-kantor wilayah pada suatu daerah yang berada
di luar tanah Jawa. Selain pengiriman para kaum atas ini, pemerintah juga
sengaja mengirimkan masyarakat Jawa ke luar jawa (trasmigrasi) yang sebelumnya
telah diberikan modal dan disuruh untuk mengolahnya di daerah tujuan mereka.
Sehinga masyarakat non-Jawa merasa bahwa dirinya telah di jajah oleh keberadaan
masyarakat jawa yang lebih unggul daripada masyarakat pribumi setempat.
Akibat
dari jawanisasi ini, banyak putra daerah menempati posisi sebagai anak tiri
pada wilayahnya sendiri(Kalimantan secara umum, Kalimantan Tanggah secara
khusus). Kedudukan kunci dan strategis pada tiap-tiap sistem pemerintahan lokal
yang seharusnya ditempati oleh para putra daerah diganti oleh orang-orang pusat
(jawa). Dengan demikian semua pendatang yang datang dari pusat (jawa) mencari
kekayaan yang sebesar-besarnya. Setelah pejabat dari pusat ini mengeruk
kekayaan daerah lokal, maka selanjutnay dilakukanlah droppingsecara berkelanjutan. Akibatnya daerah yang kaya semacam
Kalimantan memiliki masyrakat pribumi yang tepuruk dan berselimut kemiskinan.
Kasus
yang melanda deaerah Kalimntan ini, dimana keberadaan masyarakat pribumi yakni
orang Dayak, digeserkan oleh kedudukan masyarakat Jawa yang lebih tinggi dari
mereka. Sebelumnya pemerintah wilayah Kalimantan selalu dipilih dari masyarakat
Dayak, dikarenakan dianggap mampu mengayomi masyarakat Kalimantan. Namun hal
ini berubah sesuai dengan ide Jawanisasi yang diciptakan oleh para pemerintah
rezim orde baru. Selain itu, masyarakat Dayak juga merasakan langsung akibat
dari politik pembangunan Orde Baru (khususnya Jawanisasi) yang telah
dipraktekan selama 32 tahun lebih (terhitung periode Habibi), maka masyarakat
Kalimantan Tengah memaknai proses pembangunan ini sebagai bentuk yang sangat
identik akan perampokan besar-besaran terhadap sumber daya/kekayaan lokal oleh
pemerintah pusat, serta penghancuran besar-besaran pada budaya lokal (Dayak)
yang menjadikan masyarakat pribumi sebagai warga asing di tanah mereka sendiri[4]. Masyarakat
Dayak Ngaju Kalteng merasakan dan melihat sendiri bagaiman konsep kemerdekaan
yang diusung oleh pemerintahan Orde Baru tidak lain merupakan lawan kata dari
penjajahan bengsa sendiri yang terbungkus dibawah kata pembangunan.
Faktanya,
konsep pembangunan yang dilakukan oleh Orde Baru semakain menambah keterpurukan
dan memarjinalkan masyarakat Dayak. Jika memang hal ini dianggap sebagai rangka
dalam pembangunan Kalimantan yang lebih baik, maka pernyataan ini adalah
kesalahan fatal, dikarenakan keberhasilan dari sistem pembangunan ini hanya
dirasakan oleh segelintir kaum elite, sedangkan dibalik itu semua kemiskinan
dan penderitaan yang amat sangat dirasakan oleh masyarakat lokal[5].
Sehingga dalam menciptakan suara masyaarakat pribumi, maka masyarakat lokal
(Kalimantan) menciptakan LSM yang bertujuan untuk mewakili mereka dalam
menyuarakan isi hatinya, salah satunya adalah
Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak dan Daerah Kalimantan Tenggah (LMMDD-KT)
dan Hatantiring (yang diketuai oleh Ir. Saptono) yang menolak secara tegas jika
orang Dayak disingkirkan secara sistematis dan menciptakan orang Dayak yang
notabenya sebagai masyarakat asli dipaksa untuk menjadi penonton ketikan tanah
mereka dijarah oleh kepemerintahan Orde Baru yang semena-mena. Tujuan
penciptaan LMMDD-KT dan Hatantiring adalah menciptakan “Putra Daerah” agar
penduduk asli dan orang-orang pribumi menjadi tuan dikampung sendiri dan
kemudian secara bersama-sama menata kehidupan di Kalteng. Tidak hanya Dayak,
ternyata dampak jawanisasi yang digembor-gemborkan pada masa pemerintahan Orde
Baru sebagai alih-alih penciptaan budaya nasional sebagai identitas nasional
juga berimbas pada keterpurukan budaya lokal pada daerah Pekanbaru, Riau.
Pengeroposan budaya lokal di Pekanbaru ini disebabkan oleh pengaruhnya kemajuan
teknologi terutama dalam bidang media-kominakasi radio dan televisi.
Dalam
artikel Suryadi yang berjudul “Identity,
Media, and The Margins: Radio in Pekanbaru, Riau(Indonsia)” menceritakan
usaha-usaha yang dilakukan oleh masyarakat Riau untuk menunjukan identitas
mereka dibawah gemboran Jawanisasi yang digalakkan oleh pemerintahan Orde Baru.
Ide ini ia peroleh dari Michele Ford, yang mengangkat topic “Siapakah Orang
Riau” yang identitasnya mulai tergeser dengan adanya penciptaan budaya
lnasional di zaman kepemerintahan Soeharto. Proses jawanisasi secara
terselubung disuntikan pada mainset masyarakat luas Indonesia dengan
menciptakan TV lokal pertama di Indonesia yakni TVRI (Televisi Republik
Indonesia) dan Radio Republik Indonesia (RII). Dalam penyiaranya TVRI dan RII
(pada daerah lokal dan non-lokal) selalu dipenuhi dengan berita yang selalu
memberitakan semua kejadian di lingkup daerah Jawa, terkhususnya Jakarta dan
sekitarnya. Selain berita, ada juga acara yang menghibur, dalam konteks ini
acara-acara yang diciptakan memnag sengaja untuk kosumsi para masyarakat Jawa baik yang ada di jawa
ataupun di luar Jawa, seperti pewayangan, keroncongan, seni ludruk dll.
Karena
adanya rencana dari Soeharto mengenai jawanisasi kepada seluruh masyarakat luas
di Indonesia, menyebabkan masyarakat lokal, khususnya pada daerah non Jawa,
mulai berlomba-lomba untuk menunjukkan identitas mereka melalui siaran-siaran
lokal seperti radio lokal, ataupun TV lokal, untuk menunjukan kepada Indonesia
“bahwa kami ada”, sebagai penolakan atas rencana Soeharto untuk men-jawa-kan
Indonesia. Dalam penyiranya radio dan TV lokal ini mengunakan bahasa lokal
mereka sebagai tanda bahwa orang Riau masih ada.
Seperti penciptaan TV lokal RTV[6]
(Riau Televisi), Acara-acara dalam kedua media tersebut juga berupa sindiran
yang berisikan tentang kejahatan Soeharto kepada masyarakat Pribumi di Riau.
Tidak hanya itu, mereka selalu membanggakan budaya asli mereka dalam setiap
penyiaran kedua media ini. Dalam penyiran radio sangat erat dengan yang
dinamakan “titip salam” ataupun “request lagu”.
Khusus pada “request lagu”, karena
pada sat ini Riau sedang mengalami guncangan identitas akibat Jawanisasi, Riau
mencoba menciptakan Band lokal/Indie dan artis-atis lokal sebagai wujud akan
kecintaan mereka atas budaya Riau, tentunya dalam menyayikan lagu ini, bahasa
yang digunakan berupa bahasa daerah/bahasa lokal mereka. Artis-artis lokal ini
mulai rekaman pada industry perekaman lokal, dan mulai memproduksi
kaset-kasetnya walaupun penyebaranya hanya bersifat lokal saja. Rekaman pertama
kali dilakukan pada tahun 1970 di Sumatra Barat dimana mereka mengakulturasikan
musik tradisional dan musik pop.
![]() |
| gambar dari BatikIndonesia.com |
Akibat
dari rencana Jawanisasi pada kedua contoh wilayah di Indonesia yakni Kalimantan
dan Pekanbaru pada rezim Orde Baru memang tidak berhasil secara maksimal. Namun
rasa traumatis yang dimiliki oleh daerah-daerah non Jawa setelah adanya rencana
Jawanisasi, justru menciptakan rasa cinta yang berlebihan kepada budaya lokal
masyarakat pribumi dan ingin melepaskan dirinya dari genggaman Indonesia
terlebih setelah berakhirnya masa Orde Baru dan ditambah pula dengan kemunduran
Soeharto pada tahun 1999. Setelah masa Orde Baru, kemudian lahirlah era
Reformasi, dimana pada masa itu, banyak sekali negara etnik yang bermunculan,
dengan mengusung kecintaannya pada budaya lokal mereka. Dan mereka mulai
mempertunjukan kecintaanya ini kepada pemerintah pusat melalui media penyiaran
salah satunya yakni siaran radio lokal[7].
Dari teori perspektif membuktikan bahwa presentasi dari budaya etnik di dalam
program radio lokal menguatkan kekuatan lokal dan perbedaan dari mereka.
Seperti yang dikatakan oleh Jenifer Lindsey “radio menginspirasikan suara dari
masyarakat marjinal”. Dalam penyiaranya, radio lokal menggunakan bahasa lokal
(yang sebelumnya berbahasa Indonesia) yang terdiri dari 12 bahasa regional, dan
membangun siaran pedesaan yang mencangkup 41 bahasa lokal dan dielek. Rencana
jawanisasi terhenti bersamaan
Dengan runtuhnya rezim Orde Baru, yang
mengakibatkan proses jawanisasi di semua sub kultur di Indonesia tidak
sempurna, ditunjukkan dengan presentasi banyaknya masyarakat lokal yang
mencintai budayanya sendiri semakin meningkat. Proses jawanisasi yang paling
berhasil sampai sekarang hanyalah menjadikan Jawa sebagai sentral pemerintahan,
ekonomi, dan pendidikan saja (tidak lebih dari itu).
Menurut
saya, rencana jawanisasi pada semua sub-kultur di Indonesia tidak mati begitu
saja dengan diiringi runtuhnya rezim Orde Baru. Jawanisasi kembali hadir di
Indonesia setelah adanya kecaman dari Malaysia yang mengakui bahwa batik dan
reog Ponorogo adalah salah satu dari budaya Malaysia. Terlebih kepada batik,
yang merupakan kebudayaan asli hasil karya tangan-tangan masyarakat Jawa.
Setelah adanya kecaman dari Malaysia mengenai batik ini, Indonesia mulai
menggalakkan rencana Jawanisasi secara terselubung, dengan menciptakan
batik-batik khas daerah (non jawa) dalam alih-alih agar batik tidak dicuri oleh
Malaysia. Dan dengan sangat mengejutkan ternyata rencana ini berhasil. Selain
itu, konsep pariwisata di Indonesia juga hanya terkonsentrasi pada wilayah Jawa
dan Bali saja. Dalam hal ini, saya berpendapat mungkin Jawanisasi kembali
direalisasikan di Indonesia melalui upaya-upaya pemberdayaan budaya Jawa,
terkhususnya pada batik dan pagelaran wayang kulit. Dimana pada saat ini,
ketertarikan para masyarakat asing (terutama eropa dan jepang) sangat tertarik
kepada kudua jenis budaya ini. Hal ini dimanfaatkan oleh pemerintah untuk
menambah keuntungan Indonesia dalam sektor kepariwisataanya. Saya tidak berani
berasumsi apakah proses jawanisasi memang senggaja diciptakan kembali atau
tidak, namun saya hanya berpendapat bahwa proses jawanisasi mulai direncanakan
kembali pada era Globalisasi saat ini. Selain sebagai penambahan devisa bagi
Indonesia, pengembalian proses Jawanisasi ini, juga diciptakan sebagai tameng
terhadap ancaman Globalisasi khususnya westernisasi yang sedang menggeser kebudayaan Indonesia.
Daftar Pustaka :
- Bintang Pamungkas, Sri. 2001. Dari Orde Baru ke Indonesia Baru lewat Reformasi Total. Jakrta: Erlangga.
- Kusni, JJ. 2001. Negara Etnik/Beberapa Gagasan Pemberdayaan Suku Dayak. Jogjakarta:FuSPAD
- Suryadi. Identity, Media, and the Margins: Radio in Pekanbaru, Riau (Indonesia), Journal of Southest Asian Studies, 36 (1), pp 131-151 February 2005. The National University of Singapore
[2]
Pamungkas, 2000, hal. 61
[3]
Pamungkas, 2000, hal. 47
[4]
Kusni, 2001, hal. 47
[5]
Kusni, 2001 hal 48
[6]
RTV dibuat pada tanggal 20 Mey 2001 yang dibawahi naungan Jawa Pos. RTV khusus
mebicarakan tentang isu-isu “Riau Merdeka” yakni revitalisasi dari orang-orang
yang menginginkan Riau menjadi Provinsi sendiri (2003)
[7]
yang sebelumnya pada masa Orde Baru radio lokal diawasi langsung dari pusat
(jawa). Namun setelah berakhirnya masa Orde Baru, semakin marak radio-radio dan
televise lokal mengkritisi kerjapemerintah dan mulai banyak ditemukan media
sejenis bermunculan pada wilayah lokal, dan terlepas dari campur tanggan
Pemerintah, walaupun sebagian masih ada dibawah pengawasan langsung dari
pemerintah pusat.


3 komentar:
Aku urang banjar.....
Jawa dasar bangsat... sejarah asal-usul suku banjar sebagai foto copy jawa kini sudah berhasil, apa buktinya ; sekarang urang banjar yang mengaku berpendidikan selalu mengambil rujukan dari hikayat banjar I dan II karya JJ. Ras seorang ilmuan Belanda (belanda hanya ingin memecah belah, karena jawa pada saat itu di kuasai belanda), dan versi-versi sesudahnya yang di tulis oleh orang banjar itu sendiri memenuhi pesanan penguasa jawa (dasar orang banua yang rela menjual harga diri) dan tulisan-tulisan orang jawa yang berani sok tahu menulis sejarah orang banjar.
Jika hikayat yang datangnya dari orang asli banua (banjar & dayak) selalu di katakan mitos atau mitologi, dan target serangan kepada generasi-generasi muda yang terpelajar karena di ajarkan di sekolah-sekolah mulai SD sampai Perguruan Tinggi, kalau begini terus maka kaum muda nantinya menganggap sejarah buatan jawa yang di ajarkan di sekolah ada mutlak benar dan cerita dari orang tuanya sendiri akan di anggap dongeng atau mitos, sehingga sejarah yang sebenarnya akan terkubur dan kepalsuan akan bangkit.
Jika berfikir memakai otak mana yang lebih tahu sejarah suatu suku bangsa ?
a. suku bangsa itu sendiri
b. selain suku bangsa itu
Tentu semua itu bukan tidak mempunyai tujuan politik....
Jika kita semua tidak kritis dan diam saja maka suatu saat kita sesama orang kalimantan yang secara genetik memang satu keluarga akan perang saudara di buatnya...
apa hak jawa ingin menguasai alam kalimantan... sedangkan jaman kemerdekaan jawa itu (RI Jogja dan sekitarnya) di serang oleh belanda dan Soekarno-Hatta di tangkap kemudian Aceh membantu menampung Pemerintahan Darurat RI, Divisi IV ALRI yang di pimpin oleh Brigjend. Hasan Basri kalimantan membuat serangan besar dan mendesak Tentara Belanda sehingga memberitahukan kepada Dunia Internasional bahwa perlawanan masih kuat dan dahsyat terhadap Belanda, jika tidak maka RI Jogja di anggap bubar oleh Dunia Internasional/PBB, sehingga terjadilah KMB (Konfrensi Meja Bundar) yang di wakili Negara-Negara Federasi yang ada di Nusantara (Dewan Banjar, Kalimantan Barat, Sumatra, Sulawesi dll) yang menyatakan belanda mengakui kedaultan RIS (Republik Indonesia Serikat termasuk RI jogja bagian dari RIS).
Setelah Jawa (RI Jogja) tertolong kemudian dengan kelicikannya ia ingin menguasasi Negara-Negara Federasi tersebut dengan cara halus (Jawa tidak tahu balas budi) dengan cara membesar-besarkan majapahit sebagai landasan persatuan bangsa indonesia sedangkan sejarahnya sendiri kabur dan hanya dari berita dari Kitab Negarakertagama karangan mpu prapanca (syair pujangga) sebagai salah satu permulaan strategi jawanisasi.
Sebenarnya jawa tidak di benci oleh suku lain tetapi akibat perbuatan kebanyakan orang-orang jawa yang meng iris-iris hati suku lain sehingga jawa di benci.
Iri.......
Koe iku NGIRI...
Posting Komentar