Foto dan Film sebagai Rekonstruksi
Sejarah
Review Artikel Bern Huppauf dan
Anne-Marie Willis
·
Foto
Dalam
perkembangan jaman, manusia mulai menciptakan sesuatu yang mempermudah manusia
untuk mengerjakan sesuatu. Dalam hal ini, manusia terus saja menciptakan
inovasi-inovasi baru, dan menciptakan alat yang membuat hidup manusia terasa
lebih mudah dan praktis. Contoh konkrit padahal ini adalah penciptaan foto dan
film sebagai media yang mampu mengkonstruksi suatu kejadian pada masa tertentu.
Dahulu
manusia memulai menciptakan sejarahnya melalui tulisan-tulisan yang dibukukan.
Kemudian tulisan tersebut juga dilengkapi dengan gambar untuk mempermudah
pembaca untuk memahami apa maksud dari penulis. Dahulu, gambar diperoleh dengan
cara yang sangat tradisional yakni menggambar atau melukis. Namun, sesuai
dengan perkembangan zaman, dimana manusia selalu menginginkan kepraktisan maka
manusia mulai berpindah dari lukisan ke fotografi. Selain gambar yang
diciptakan lebih bersifat real dan
lebih cepat, foto ternyata dapat
menjelaskan suatu fenomena lebih luas dari pada suatu lukisan.
Dalam
artikel yang ditulis oleh Anne, terdapat pergunjungan antara foto dan lukisan.
Memang keterkaitan antra foto dengan dengan lukisan tidak dapat dipisahkan.
Foto diciptakan atas landasan dari pakem-pakem yang ada di lukisan, salah satu
yang paling dominan adalah perspektif. Namun, beberapa dari seniman pada saat
itu menganggap bahwa foto merupakan hal yang berbeda dengan lukisan. Dan mereka
tidak mengangap foto sebagai bagaian dari seni. Namun menurut saya, lukisan,
seni dan foto merupakan suatu runtutan sejarah media yang memang memiliki
keterkaitan antar satu dengan yang lain.
Foto
yang memiliki sifat sebagai “ Windows on the Past”, merupakan refleksi yang
membuktikan bahwa foto merupakan memori sosial yang mampu merekonstruksi
kejadian pada masa lalu dan sebagai bukti sejarah dari manusia. Banyak dijumpai
foto-foto zaman dahulu, yang ternyata merupakan sumber sejarah yang mampu
menjelaskan bagaimana dinamikan kehidupan masyarakat pada mas lampau. Seperti
pada contoh gambar di bawah ini yang saya ambil dari salah satu majalah online http://reformata.com,
(03 Juni 2009-renata):
Pada
foto ini dijelaskan bahwa masyarakat Indonesia pada saat itu sangat tertindas, dilihat
dari postur tubuh mereka yang sangat kurus yang membuktikan bahwa sumber pangan
pada saat itu sangat sulit di dapat. Mengkin foto ini di ambil ketika
berlakunya sistem tanam paksa dan kerja rodi yang digalakkan oleh Belanda pada
saat itu. Dari ekspresi masyarakat Indonesia, mereka hanya pasrah terhadap
perbuatan yang dilakukan oleh para tentara gerliyawan Belanda yang terlihat
jelas bahwa mereka sedang menodongkan senjata di kepala penduduk pribumi.
Tetapi
ekspresi berbeda ditunjukan oleh tentara belanda yang ada di posisi yang paling
kanan. Ia terlihat sangat bangga dan senang, karena telah berhasil menaklukan
masyarakat pribumi. Mungkin foto ini diambil
sebagai bukti bahwa para prajurit belanda sangat berkuasa dan memiliki
ketangguhan yang sangat besar. Foto ini menandakan bahwa para tentara Belanda
sangatlah tangguh dan berkuasa pada saat itu. Foto tersebut sebagai bukti akan
sifat foto sebagai “Window of the Past”
yang mampu menceritakan segala macam fenomena yang terjadi pada saat foto
tersebut di ambil.
Dan
kedua adalah foto ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan pertama
kalinya sebagai bukti bahwa Indonesia telah merdeka dan terbebas dari cengraman
penjajah Jepang, terlihat jelas pada foto bagaiman masyarakat sangatlah
antusias dengan pembacaan proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno. Masyarakat
melambai-lambaikan tanganya, dan beberapa ada yang melambaikan bendera
merah-putih sebagai perwujudan dari nasionalisme masyarakat Indonesia. di depan
panggung terlihat adanya ruang kosong yang diberikan dan adanya aparat/poloisi
lokal yang mengamankan tempat tersebut, sebagai bukti bahwa orang yang
berbicara pada saat itu merupakan tokoh penting negara, yankni Soekarno.
·
Film
Seperti pada
foto dan lukisan, film tidak akan ada apabila foto dan lukisan tidak ada. Sebelum
terciptanya alat rekam, film dibuat dari kumpulan-kumpulan merupakan foto yang
disusun sedemikian rupa dan akhirnya foto tersebu seakan-akan bergerak. Jika foto tercipta dari bebrapa
pakem yang ada pada aturan seni, maka film tercipta dari bagian aturan sastra.
Pada masa kemunculan film pertama kali, film hanya bersifat sebagai hiburan
pada masa lalu yang mencampurkan antara unsure suara dan gambar. Tetapi pada
masa dimana terjadi PD I dan II, film diciptkan sebagai bukti sejarah, dan
merekam bagaiman kehidupan pada masa itu. Sehingga pada saat ini, foto dan film
mulai dijadikan sebagai sumber sejarah dan diciptakan sebagai bentuk dari
memori sosial yang merekam segala peristiwa.
Seperti pada
film yang berjudul Penghianatan G30S/PKI, yang memang sengaja dibuat untuk merekonstruksi
kejadian masa lalu yakni sebagai pergantian masa Orde Lama ke Orde Baru. Tokoh
yang diperankanpun berbeda dengan yang asli, dalam film tersebut mereka
hanyalah seorang aktor yang berperan sebagai para tokoh negara. Hal yang sama
juga dijelaskan oleh Anne oada artikelnya yang membahas tentang penayangan
drama-sejarah pada TV yang berjudul “Days
of Hope” yang ternyata juga sama menceritakan sejarah. Namun pada film Days of Hope, terdapat pergunjingan
apakah ini memang kejadian nyata ataukah hanyalah karangan narasi saja.
Selain itu, film
yang merekonstruksi kejadian masa lalu, adalah film yang dipelopori oleh Jeff
Chiba Steans yang mengabungkan antara foto dan wawancara mendalam kepada para
informan (yang berada dalam foto). Dalam film Chiba yang berjudul “ One Big Hapa Family” dimana ia mencoba
merekonstruksi koleksi foto keluarga yang ia miliki. Dalam film tersebut
dijelaskan sangat rinci bagaimana kehidupan para masyarakay Jepang yang berada
di Canada melalui foto-foto yang ia dapatkan dari keluarga besarnya.
Memang
pada saat terjadinya PDII, yang melanda berbagai negara di diduna ini
menjadikan eksistensi dan ketertarikan masyarakat untuk membuat data histori
melalui foto dan film mulai beradapada titik puncaknya. Film dan foto memang
sengaja dibuat, sebagai bukti bahwa PD II, memang mempengaruhi berbagai
perkembangan suatu wilayah negara. Contohnya saja pada film Chiba, yang
menjelaskan migrasinya masyarakat Jepang ke Canada dikarenakan jepang kalah
pada PD II dikarenakan dua kota yang paling berpotensial di jepang telah di
bombardier oleh belanda dengan bom nuklir, yang mampu meluluhlantakan kedua
kota tersebut. Seihngga masyarakat muali bermigrasi dan memulali kehidupanya di
Canada.
Sebagai
suatu media, film, foto, dan video merupakan produksi dari sejarah. Dengan
kemajuan teknologi, foto, film dan video dijadikan sebagi bahan ajaran yang
lebih sederhana dan lebih mudah dimengerti dari pada penggunaan bukupada sistem
pengajaran dalam kelas. Dari pada membaca buku, atau mengartikan sebuah foto,
film memang lebih mudah dipahami. Dibandingkan dengan film, dalam artikel yang
ditulis oleh anne marie willis foto memiliki peran yang lebih luas dari pada
film. Dikerenakan foto dianggap lebih fleksibel yang mampu merekam suatu
peritiwa. Mengingat bahwa sifat foto yang diusung oleh anne sebagai “windows of
the past”


0 komentar:
Posting Komentar