Foto dan Film sebagai Rekonstruksi Sejarah

Rabu, 26 Desember 2012

Foto dan Film sebagai Rekonstruksi Sejarah
Review Artikel Bern Huppauf dan Anne-Marie Willis


·         Foto
Dalam perkembangan jaman, manusia mulai menciptakan sesuatu yang mempermudah manusia untuk mengerjakan sesuatu. Dalam hal ini, manusia terus saja menciptakan inovasi-inovasi baru, dan menciptakan alat yang membuat hidup manusia terasa lebih mudah dan praktis. Contoh konkrit padahal ini adalah penciptaan foto dan film sebagai media yang mampu mengkonstruksi suatu kejadian pada masa tertentu.
Dahulu manusia memulai menciptakan sejarahnya melalui tulisan-tulisan yang dibukukan. Kemudian tulisan tersebut juga dilengkapi dengan gambar untuk mempermudah pembaca untuk memahami apa maksud dari penulis. Dahulu, gambar diperoleh dengan cara yang sangat tradisional yakni menggambar atau melukis. Namun, sesuai dengan perkembangan zaman, dimana manusia selalu menginginkan kepraktisan maka manusia mulai berpindah dari lukisan ke fotografi. Selain gambar yang diciptakan lebih bersifat real dan lebih cepat, foto ternyata dapat menjelaskan suatu fenomena lebih luas dari pada suatu lukisan.
Dalam artikel yang ditulis oleh Anne, terdapat pergunjungan antara foto dan lukisan. Memang keterkaitan antra foto dengan dengan lukisan tidak dapat dipisahkan. Foto diciptakan atas landasan dari pakem-pakem yang ada di lukisan, salah satu yang paling dominan adalah perspektif. Namun, beberapa dari seniman pada saat itu menganggap bahwa foto merupakan hal yang berbeda dengan lukisan. Dan mereka tidak mengangap foto sebagai bagaian dari seni. Namun menurut saya, lukisan, seni dan foto merupakan suatu runtutan sejarah media yang memang memiliki keterkaitan antar satu dengan yang lain. 
Foto yang memiliki sifat sebagai “ Windows on the Past”, merupakan refleksi yang membuktikan bahwa foto merupakan memori sosial yang mampu merekonstruksi kejadian pada masa lalu dan sebagai bukti sejarah dari manusia. Banyak dijumpai foto-foto zaman dahulu, yang ternyata merupakan sumber sejarah yang mampu menjelaskan bagaimana dinamikan kehidupan masyarakat pada mas lampau. Seperti pada contoh gambar di bawah ini yang saya ambil dari salah satu majalah online http://reformata.com, (03 Juni 2009-renata):

Pada foto ini dijelaskan bahwa masyarakat Indonesia pada saat itu sangat tertindas, dilihat dari postur tubuh mereka yang sangat kurus yang membuktikan bahwa sumber pangan pada saat itu sangat sulit di dapat. Mengkin foto ini di ambil ketika berlakunya sistem tanam paksa dan kerja rodi yang digalakkan oleh Belanda pada saat itu. Dari ekspresi masyarakat Indonesia, mereka hanya pasrah terhadap perbuatan yang dilakukan oleh para tentara gerliyawan Belanda yang terlihat jelas bahwa mereka sedang menodongkan senjata di kepala penduduk pribumi.
Tetapi ekspresi berbeda ditunjukan oleh tentara belanda yang ada di posisi yang paling kanan. Ia terlihat sangat bangga dan senang, karena telah berhasil menaklukan masyarakat  pribumi. Mungkin foto ini diambil sebagai bukti bahwa para prajurit belanda sangat berkuasa dan memiliki ketangguhan yang sangat besar. Foto ini menandakan bahwa para tentara Belanda sangatlah tangguh dan berkuasa pada saat itu. Foto tersebut sebagai bukti akan sifat foto sebagai “Window of the Past” yang mampu menceritakan segala macam fenomena yang terjadi pada saat foto tersebut di ambil.
Dan kedua adalah foto ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan pertama kalinya sebagai bukti bahwa Indonesia telah merdeka dan terbebas dari cengraman penjajah Jepang, terlihat jelas pada foto bagaiman masyarakat sangatlah antusias dengan pembacaan proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno. Masyarakat melambai-lambaikan tanganya, dan beberapa ada yang melambaikan bendera merah-putih sebagai perwujudan dari nasionalisme masyarakat Indonesia. di depan panggung terlihat adanya ruang kosong yang diberikan dan adanya aparat/poloisi lokal yang mengamankan tempat tersebut, sebagai bukti bahwa orang yang berbicara pada saat itu merupakan tokoh penting negara, yankni Soekarno.

·         Film
Seperti pada foto dan lukisan, film tidak akan ada apabila foto dan lukisan tidak ada. Sebelum terciptanya alat rekam, film dibuat dari kumpulan-kumpulan merupakan foto yang disusun sedemikian rupa dan akhirnya foto tersebu seakan-akan  bergerak. Jika foto tercipta dari bebrapa pakem yang ada pada aturan seni, maka film tercipta dari bagian aturan sastra. Pada masa kemunculan film pertama kali, film hanya bersifat sebagai hiburan pada masa lalu yang mencampurkan antara unsure suara dan gambar. Tetapi pada masa dimana terjadi PD I dan II, film diciptkan sebagai bukti sejarah, dan merekam bagaiman kehidupan pada masa itu. Sehingga pada saat ini, foto dan film mulai dijadikan sebagai sumber sejarah dan diciptakan sebagai bentuk dari memori sosial yang merekam segala peristiwa.
Seperti pada film yang berjudul Penghianatan G30S/PKI, yang memang sengaja dibuat untuk merekonstruksi kejadian masa lalu yakni sebagai pergantian masa Orde Lama ke Orde Baru. Tokoh yang diperankanpun berbeda dengan yang asli, dalam film tersebut mereka hanyalah seorang aktor yang berperan sebagai para tokoh negara. Hal yang sama juga dijelaskan oleh Anne oada artikelnya yang membahas tentang penayangan drama-sejarah pada TV yang berjudul “Days of Hope” yang ternyata juga sama menceritakan sejarah. Namun pada film Days of Hope, terdapat pergunjingan apakah ini memang kejadian nyata ataukah hanyalah karangan narasi saja.
Selain itu, film yang merekonstruksi kejadian masa lalu, adalah film yang dipelopori oleh Jeff Chiba Steans yang mengabungkan antara foto dan wawancara mendalam kepada para informan (yang berada dalam foto). Dalam film Chiba yang berjudul “ One Big Hapa Family” dimana ia mencoba merekonstruksi koleksi foto keluarga yang ia miliki. Dalam film tersebut dijelaskan sangat rinci bagaimana kehidupan para masyarakay Jepang yang berada di Canada melalui foto-foto yang ia dapatkan dari keluarga besarnya.
Memang pada saat terjadinya PDII, yang melanda berbagai negara di diduna ini menjadikan eksistensi dan ketertarikan masyarakat untuk membuat data histori melalui foto dan film mulai beradapada titik puncaknya. Film dan foto memang sengaja dibuat, sebagai bukti bahwa PD II, memang mempengaruhi berbagai perkembangan suatu wilayah negara. Contohnya saja pada film Chiba, yang menjelaskan migrasinya masyarakat Jepang ke Canada dikarenakan jepang kalah pada PD II dikarenakan dua kota yang paling berpotensial di jepang telah di bombardier oleh belanda dengan bom nuklir, yang mampu meluluhlantakan kedua kota tersebut. Seihngga masyarakat muali bermigrasi dan memulali kehidupanya di Canada.
Sebagai suatu media, film, foto, dan video merupakan produksi dari sejarah. Dengan kemajuan teknologi, foto, film dan video dijadikan sebagi bahan ajaran yang lebih sederhana dan lebih mudah dimengerti dari pada penggunaan bukupada sistem pengajaran dalam kelas. Dari pada membaca buku, atau mengartikan sebuah foto, film memang lebih mudah dipahami. Dibandingkan dengan film, dalam artikel yang ditulis oleh anne marie willis foto memiliki peran yang lebih luas dari pada film. Dikerenakan foto dianggap lebih fleksibel yang mampu merekam suatu peritiwa. Mengingat bahwa sifat foto yang diusung oleh anne sebagai “windows of the past”


0 komentar:

Posting Komentar

 
 

© 2010 ETNOFOTOGRAFI, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV