Kiprah Megawati dalam Kursi Politik di Indonesia

Minggu, 28 Juli 2013
0 komentar

Kiprah Megawati dalam Kursi Politik di Indonesia


Dunia sudah diselimuti oleh kebudayaan patriaki dalam kurun waktu yang sangat lama. Sehingga, masyarakat luas sudah terbiasa dengan peran laki-laki dalam memipin suatu kelompok. Hal ini menyebabkan posisi perempuan menjadi tergeser, yang seakan-akan menjadi budak dari kaum patriaki. Ketika wanita memiliki peran dalam kepemimpinan pasti banyak pergunjingan, baik dari kaum patriki dan masyarakat luas. karena wanita dianggap kurang luwes apabila harus menjalani  kehidupan seorang pemimpin yang terlanjur keras, tegas, dan diktarorat.
Selama ini politik sangat identik dengan kehidupan maskulin, yang mencakup kemandirian, kebebesan berpendapat, dan tindakan agresif. Ketiga aktifitas tersebut dirasa kurang pas bagi kaum wanita yang cenderung bersikap halus. Sehingga sangat jarang sekali ditemukan dalam dalam sistem politik Indonesia ditemukan campur tanggan wanita di kursi politik. Dalam kehidupan bermasyarakatpun, masyarakat bersikap acuh, dan enggan ketika seorang wanita mencoba membangun kekuasaan politis (kepemimpinan). Selain itu, minimnya gambaran umum mengenai pemimpin perempuan sangatlah minim, sehingga secara kultural sagat sedikit refrensi bagi perempuan yang ingin menjadi seorang pemimpin[1].
Makna yang selama ini dipahami oleh beberapa masyarakat luas adalah definisi kata politik yang sangat identik dengan cara untuk merebut kekuasaan. Oleh karenanya, berpolitik harus dilakukan secara culas, keras, kotor, manipulative, dan tega. Sehingga sifat tersebut tidak cocok dengan sifat perempuan untuk berkiprah dalam politk. Sebagai cara lainya, apabila seorang perempuan yang inggin menjabat sebagai pemimpin ia harus membuang sifat feminimnya dan bersifat layaknya seorang laki-laki yang maskulin, dalam posisi ini wanita dituntut untuk menjadi seorang laki-laki dalam memimpin suatu kelompok[2].
Namun, sekarang zaman telah berubah, dimana cirri kepemimpina seoran perempuan tidak harus bertolak belakang dengan sisi feminis wanita. Sebaliknya, mereka sekarang lebih mengagung-agungkan sifat feminis seperti lemah lembut menjadi salah satu senjata utama untuk memasuki bidang politik dan bisnis. Hingga pada akhirnya, laki-laki sudah mulai menghargai wanita tidak lagi sebagai lawan, namun sebagai mitra yang cukup membantu. Seperti yang elah dinyatakan oleh majalah Time pada tahun 1990[3], dimana telah ditemukanya secara gamblang adanya tren baru peran wanita dalam berbagai bidang, karena semakin banyak ditemukanya jabatan kekuasaan di dunia bisnis dan politis yang dipengan oleh kaum perempuan yang sanagt berkompeten. Yang dimaksud dengan gaya baru di sisni adalah, dimana para perempuan tidak lagi bersifat maskulin lagi, tapi lebih menunjukan sisi feminim dengan menggunakan pendekatan layaknya seorang ibu yang penuh kasih sayang dan penuh perhatian dalam menjalani kepimimpinan mereka.
Sudah saatnya kursi kepemimpinan saat ini yang didominasi oleh sifat maskulin, perlu dihiasi lagi dengan bingkai sisi yang sedikit feminim. Sehingga defenisi baru menggenai kekuasaan terlahir kembalin dengan gabungan antara sifat maskulin dan feminim, yang bisa dicapai oleh kedua jenis gender, sehingga tidak ditemukanya lagi diskriminasi antar kedua gender.  Indonesia telah menciptakan sejarah hebat bagi kaum wanita yang dahulunya tertindas oleh budaya kaum patriarki yang diawali oleh Kartini atas penyamarataan gender dalam memperoleh sebuah pendidikan. Setelah Kartini berkonstribusi dalam emansipasi wanita pada masa kolonial dulu, sekarang giliran Megawati. Megawati merupakan presiden pertama Indonesia yang menjabat pada dekade 2001-2004 dan merupakan simbol kesetaraan gender pada bidang politik di Indonesia.
Megawati dan Kedudukanya Sebagai Seorang Presiden
Megawati memiliki nama lengkap Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri, namun lebih akrap dikenal sebagai Megawati Soekarnoputri (Mbak Mega). Ia lahir di Yogjakarta pada tanggal 23 januari tahun 1947. Ia merupakan keturunan dari presiden pertama Indoneisa yang sangat revolusioner yakni Soekarno dengan istri pertamanya Fatmawati. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kiprahnya di dunia politik Indonesia mengalami berbagai cerita hitam dan putih selama ia menjabat, bahkan sampai turun jabatanpun, cerita mengenai Megawati masih cukup hangat untuk dibicarakan. Megawati merupakan presiden ke 5 dan satu-satunya, bahkan yang pertama menjabat sebagai presiden di Indonesia. Adanya tindakan pro dan kontra dalam masa kepemimpinanya, turut memberikan warna dalam kehidupanya.
Naiknya kiprah seorang politikus wanita, termasuk seorang Megawati menggalami jalan yang tidaklah mudah. Serangan dan pertikaian berdarah merupakan jalan yang harus dilalui oleh politikus perempuan di dunia. Pada tanggal 27 juli 1996 terjadi sebuah pertikaian besar-besaran, yang dikenal sebagai peristiwa Sabtu Kelabu atau peristiwa Kudatuli[4] menjadi titik awal seorang Megawati menduduki kursi kepemimpinan Indonesia. Menerut penyidikan yang dilakukan oleh Komnas HAM, peristiwa ini setidaknya memakan korban 5 orang[5], 149 luka-luka, dan 136 orang ditahan. Hal ini terjadi ketika terpecahnya PDI menjadi dua kubu, yakni kubu PDI Megawati dan PDI Soejadi. Peristiwa itu terjadi karena adanya perebutan kantor DPP partai PDI di jln Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai oleh Megawati.
Penyerbuan, atau lebih tepatnya pengambilan secara paksa kantor DPP-PDI ini di pelopori oleh pendukung Soerjadi dengan mengatasnamakan ketidakpuasan akibat kogres PDI yang dilakukan di Medan. Pemberontakan yang terjadi di daerah Jakarta pusat, akhirnya meluas ke daerah Selemba, Kramat, dan Surabaya. Adapun kerugian material yang berupa 56 gedung dan 197 mobil rusak dan terbakar, sehingga Total kerugian diperkirakan sebesar Rp 100 Miliar. Dikarenakan fraksi dari Megawti merasa dirugikan, maka peristiwa ini berakhir di meja hijau dengan dihukumnya Soejadi selama 13 tahun.
Kiprahnya di dunia politik terus berlanjut hingga pada pemilu pada tahun 2001 ia memenangkan kursi politik dan menjabat sebagai seorang presiden hingga tahun 2004. Kepemimpinannya identik dengan “sedikit bicara dan banyak bertindak”. Dengan ditamabahnya kharismatik dariseorang ayah sang proklamator bangsa Soekaro, Megawati dengan caranya sendiri, tanpa banyak bicara secara konsisten mampu melawan kekerasan secara beran idan tegas. Ia merupakan salah satu politisi perempuan yang mampu melawan kepemerintahan Soeharto melalui kogres terbuka Luar Biasa PDI di Surabaya tahun 1993. Kemudian setelah Megawati mengadakan perlawanan terbuka terhadap kekuasaan yang reprensif, nyali tokoh-tokoh yang lain bersama kekuatan rakyat mulai bangkit. Sehingga Megawati menjadi simbol dan inspirator atas perlawanan terhadap kekuasaannya yang dianggap otoriter saat itu.
Kepemimpinya yang berkarakter dan visioner tersebut terlihat juga dalam ketegaanya menolak sebuahgrasi para terpidana mati dalam kasus narkoba. Dia mengaku sebagai seorang ibu, hatinya menanggis ketika menggambil keputusan untuk menolak grasi itu. tapi demi masa depan generasi penerus bangsa, dia harus menggambil keputusan yang secara nuraniah, tidak ia kehendaki. Selain itu karakteristik kepemimpinanya yang sangat kuat terlihat juga dari beberapa keputusanya yang tidak populis. Seperti keputusan mengenai kenaikan harga BBM, dengan mengikuti standar nilai dan harga di dunia internasional. Keputusan ini tidak begitu saja diterima oleh masyarakat luas. Hal ini ditunjukan dengan demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa saat itu yang menolak secara tegas keaniakan harga BBM.
Sikap feminis juga ditunjukan ketika ia menjalani kepemimpinanya sebagai prsiden. Hal ini dibuktikanya dengan keputusan Megawati yang sangat controversial saat itu, dengan diberinya restu kepada Soetijoso/Sutiyoso untuk menjabat kembali sebagai Gubernur DKI Jakarta. Keputusan ini merpakan keptusan yang sangat controversial, mengingat Sutiyoso merupakan lawanya dalam Kudeta Peristiwa 27 Juli (Kudatuli). Namun, keputusan Megawati denganmemberikan restunya kepada Sutiyoso, dianggap tidak memberikan dampakpositif pada Megawati. Hal tersebut dikarenakan Sutiyoso tidak berpihak kepada masyarakat cilik[6].
Megawati sebagai Simbol Emansipasi dan Kesetaraan Gender
Dengan diangkatnya Megawati menjadi presiden pertama di Indonesia, merupakan titik awal munculnya kesetaraan gender dan emansipasi wanita di Indonesia. Dimana sebelumnya Indoneisa sangat identik dengan budaya patriarki, kini sediki-demi sedikit mitos mengenai politik dan patriarki mulai runtuh. Wanita yang dahulu dianggap hanya mahir dan identitik dengan pekerjaan Rumah Tangga, kini bisa naik derajat akibat adanya emansipasi waita dari Kartini yang diteruskan oleh Megawati.
Menurut Megawati, kaum perempuan harusnya dengan penuh arif dan bijaksana mampu membantu kaum laki-laki agar mereka dapat bebesa dan terbatas dari pola piker lama yang menempatkan kaum laki-laki pada suatu tingkat yang memprihatinkan. “dalam melakakn hal ini, tidak perlu dijalankan cara-cara yang berdampak melecehkan dan merendahkan kaum laki-laki” katanya. Sebagai seorang perempuan, Megawati sadar akan posisinya sebagai seorang ibu, suami, dan pemimpin saat itu. Ia tidak menginginkan adanya konflik antar gender, dengan diangkatnya ia menjadi seorang presiden perempuan. Megawati menawarkan suatu stragegi bagi kaum perempuan dengan memberikakan posisi pada wanita sebagai ibu bangsa, ibu masyarakat, dan sebagai ibu yang sejati. Dengan adanya strategi seperti ini, maka tidak ada alasan lagi bagi perempuan untuk melakukan sebuah tindakan/tuntutan yang hanya akan menimbulkan reaksi penolakan dari kaum laki-laki yang masih cenderung berpikir dan berpaling ke belakang dengan mengatas namakan budaya Patriarki[7].
Kesimpulan

Rupa-rupanya apabila dicermati, beberapa politikus dunia yang sempat dilirik oleh dunia memiliki hubungan genealogis ataupun mengalami perkawinan dengan politikus laki-laki. Seperti Benazir Bhuto (Pakistan) dan Gloria Arroyo (Filiphina) yang merupakan anak kandung dari mantan presiden di negri masing-masing, dan memiliki reputasi yang besar dan kuat pada masanay. Sementara Cory Aquino (Filiphina) dan Sirimavo Bandaranaike (Sri Lanka) merupakan istri dari oposan di negaranya. Sehingga terliahat bahwa naiknya perempuan ke tampuk kekuaasaan politik masih tidak dapat dilepaskan dari uluran tangan laki-laki baik itu ayah ataupun suami, dimana laki-laki disini merupakan faktor paling penting dalam menggugah emosi dan memperkuat dukungan massa. Seberapa banyak dukungan massa yang diberikan tidak terlepas dari politikus laki-laki dibalik ketenaran dan keberhasilan seorang politikus perempuan untuk menduduki kursi kepemerintahan.
Megewati rupan-rupanya bernaung pada payung ayahnya sang proklamator Ir. Soekarno sebagai presiden pertama di Indonesia. Pemanfaatan situasi oleh Megawti ini atas reputasi ayahnya ini ternyata merupakan senjata yang ampuh untuk memperoleh suara dari rakyat untuk masa kepermerinyahanya. Masyarakat yang rindu akan sosok Soekarno setelah kekejaman politik Orde Baru-Soeharto dimanfaatkan oleh Magawati. Sehingga pada pemilu pada tahun 2000, ia menjabat kursi kepresidenan di Indonesia. Dalam kampanyenya, Megawati selalu mencantumkan gambar ayahnya, Soekarno dalam setiap kampanye politiknya. Hal ini untuk menarik perhatian massa,bahwa ia adalah keturunan Soekarno yang mampu berperan seperti ayahnya dalam memanajemen negara. Kerinduan masyarakat Indonesia akan sosok Soekarno akhirnya terlimpahkan pada kepemimpinan Megawati.
Dalam masa permerintahan Megawati sebagai presiden pertama perempuan di Indoneisa, mengalami berbagai intrik dan konflik yang ada. Disini saya melihat bahwa adanya permainan politik yang telihat jelas sebagai kepemimpinan yang bersifat balas dendam. Megawati sebagai putri dari Soekarno membalas perlakuan Soeharto terhadap ayahnya Soekarno dengan mengungkapkan fakta sejarah. Beberapa dampak negatif dari kepemerintahan Soeharto terkuak ketika Megawati menjabat sebagai seorang presiden. Selain itu, Megawati merupakan satu-satunya presiden bahkan kaum politisi yang sanggup meolak masa kepemerintahan Soeharto ketika masa Orde-Baru. Terlihat dari diselenggarakan Kongres PDI di Surabaya pada tahun 1993. Hanya sedikit tokoh yang berani bertindak dan bersuara melawan kehendak pemerintah ketika itu. Pada saat tokoh-tokoh politis pada saat itu masih menutup mulut dan cenderung pasif dalam menghadapi pemerintahan Orde Baru yang Otoriter, Megawati dengan caranya, tanpa banyak bicara secara konsisten telah berani dan berhasil melawan Soeharto tanpa kekerasan. Sehingga Megawati mendapatkan gelarnya sebagai Ibu Reformasi Indonesia.
Sehingga terjadilah sebuah permainan politik dari ketiga presiden yang sangat fenomenal pada abad 20 ini. Dalam permaian politik yang diusung oleh Megawati, ia menggunakan aturan normatif. Dalam aturan normatif ia tidak mengenal mana hal yang baik dan mana yang buruk, sehingga dalam melakukan sistem ini mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kursi politik yang ia kehendaki. Selain berhasil membersihkan nama ayahnya yang dituduh sebagai pencetus PKI di Indoneisa, ia juga mampu menduduki kursi politik di Indonesia. Aturan politik normative ini cukup memerankan kegiatan politik di Indonesia, yang didominasi oleh sistem korupsi di dalamnya. Yang menjadikan politik di Indonesia tidak pernah stabil.

Refrensi :
·         Siti Musadah dan Anik Farida, 2005, Perempuan dan Politik, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Artikel :
·         Artikel oleh Ch. Robin Simanullang dalam http://www.tokohindonesia.com/ Presiden Berkepribadian Kuat
·         Artikel oleh Ahmad Toriq dalam http://news.detik.com Mengintip Kisah Cinta Taufiq Kiemas dan Megawati Soekarnoputi



[1] Mulia dan Farida, 2005,  Perempuan dan Politik hal 4-5
[2] Mulia dan Farida, 2005,  Perempuan dan Politik hal 15-18
[3] Dalam Mulia dan Farida, 2005,  Perempuan dan Politik hal 6
[5] yang terdiri atas dua personel militer dan tiga orang sipil. Yakni Kol CZI (Purn) Budi Purnama (Mantan Komandan Detasemen Intel Kodam Jaya) dan Lettu Inf Suharto (mantan Komandan BKI-C Detasemen Intel Kodam Jaya) adalah dua anggota militer yang dimintai pertanggungjawaban. Sedang tiga orang sipil adalah Mochamad Tanjung (buruh), Jonathan Marpaung (wiraswasta), dan Rahimmi Ilyas (karyawan ekspedisi). Seorang lagi, Djoni Moniaga, seorang buruh, yang diajukan juga sebagai terdakwa, telah meninggal dunia.( http://www.unisosdem.org/article_printfriendly.php?aid=2247&coid=3&caid=22 )
[7] Artikel Ch. Robin Simanullang ,  Megawati dan Kesetaraan Gender dalam http://www.tokohindonesia.com
[8] Ahmad Toriq- Mengintip Kisah CInta Taufiq Kiemas dan Megawati Soekarnoputri dalam http://news.detik.com
Baca selengkapnya »
 
 

© 2010 ETNOFOTOGRAFI, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV