Kiprah Megawati dalam Kursi Politik di Indonesia
Dunia sudah diselimuti oleh kebudayaan
patriaki dalam kurun waktu yang sangat lama. Sehingga, masyarakat luas sudah
terbiasa dengan peran laki-laki dalam memipin suatu kelompok. Hal ini
menyebabkan posisi perempuan menjadi tergeser, yang seakan-akan menjadi budak
dari kaum patriaki. Ketika wanita memiliki peran dalam kepemimpinan pasti
banyak pergunjingan, baik dari kaum patriki dan masyarakat luas. karena wanita
dianggap kurang luwes apabila harus
menjalani kehidupan seorang pemimpin
yang terlanjur keras, tegas, dan diktarorat.
Selama ini politik sangat identik dengan
kehidupan maskulin, yang mencakup kemandirian, kebebesan berpendapat, dan
tindakan agresif. Ketiga aktifitas tersebut dirasa kurang pas bagi kaum wanita
yang cenderung bersikap halus. Sehingga sangat jarang sekali ditemukan dalam
dalam sistem politik Indonesia ditemukan campur tanggan wanita di kursi
politik. Dalam kehidupan bermasyarakatpun, masyarakat bersikap acuh, dan enggan
ketika seorang wanita mencoba membangun kekuasaan politis (kepemimpinan).
Selain itu, minimnya gambaran umum mengenai pemimpin perempuan sangatlah minim,
sehingga secara kultural sagat sedikit refrensi bagi perempuan yang ingin
menjadi seorang pemimpin[1].
Makna yang selama ini dipahami oleh
beberapa masyarakat luas adalah definisi kata politik yang sangat identik
dengan cara untuk merebut kekuasaan. Oleh karenanya, berpolitik harus dilakukan
secara culas, keras, kotor, manipulative, dan tega. Sehingga sifat tersebut
tidak cocok dengan sifat perempuan untuk berkiprah dalam politk. Sebagai cara
lainya, apabila seorang perempuan yang inggin menjabat sebagai pemimpin ia
harus membuang sifat feminimnya dan bersifat layaknya seorang laki-laki yang
maskulin, dalam posisi ini wanita dituntut untuk menjadi seorang laki-laki
dalam memimpin suatu kelompok[2].
Namun, sekarang zaman telah berubah,
dimana cirri kepemimpina seoran perempuan tidak harus bertolak belakang dengan
sisi feminis wanita. Sebaliknya, mereka sekarang lebih mengagung-agungkan sifat
feminis seperti lemah lembut menjadi salah satu senjata utama untuk memasuki
bidang politik dan bisnis. Hingga pada akhirnya, laki-laki sudah mulai
menghargai wanita tidak lagi sebagai lawan, namun sebagai mitra yang cukup
membantu. Seperti yang elah dinyatakan oleh majalah Time pada tahun 1990[3],
dimana telah ditemukanya secara gamblang adanya tren baru peran wanita dalam
berbagai bidang, karena semakin banyak ditemukanya jabatan kekuasaan di dunia
bisnis dan politis yang dipengan oleh kaum perempuan yang sanagt berkompeten. Yang
dimaksud dengan gaya baru di sisni adalah, dimana para perempuan tidak lagi
bersifat maskulin lagi, tapi lebih menunjukan sisi feminim dengan menggunakan
pendekatan layaknya seorang ibu yang penuh kasih sayang dan penuh perhatian
dalam menjalani kepimimpinan mereka.
Sudah saatnya kursi kepemimpinan saat
ini yang didominasi oleh sifat maskulin, perlu dihiasi lagi dengan bingkai sisi
yang sedikit feminim. Sehingga defenisi baru menggenai kekuasaan terlahir
kembalin dengan gabungan antara sifat maskulin dan feminim, yang bisa dicapai
oleh kedua jenis gender, sehingga tidak ditemukanya lagi diskriminasi antar
kedua gender. Indonesia telah
menciptakan sejarah hebat bagi kaum wanita yang dahulunya tertindas oleh budaya
kaum patriarki yang diawali oleh Kartini atas penyamarataan gender dalam memperoleh sebuah pendidikan. Setelah Kartini berkonstribusi dalam emansipasi wanita pada masa
kolonial dulu, sekarang giliran Megawati. Megawati merupakan presiden pertama
Indonesia yang menjabat pada dekade 2001-2004 dan merupakan simbol kesetaraan gender pada bidang politik di Indonesia.
Megawati dan
Kedudukanya Sebagai Seorang Presiden
Megawati memiliki nama lengkap Dyah
Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri, namun lebih akrap dikenal sebagai
Megawati Soekarnoputri (Mbak Mega). Ia lahir di Yogjakarta pada tanggal 23
januari tahun 1947. Ia merupakan keturunan dari presiden pertama Indoneisa yang
sangat revolusioner yakni Soekarno dengan istri pertamanya Fatmawati. Ia
merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kiprahnya di dunia politik Indonesia
mengalami berbagai cerita hitam dan putih selama ia menjabat, bahkan sampai
turun jabatanpun, cerita mengenai Megawati masih cukup hangat untuk
dibicarakan. Megawati merupakan presiden ke 5 dan satu-satunya, bahkan yang
pertama menjabat sebagai presiden di Indonesia. Adanya tindakan pro dan kontra
dalam masa kepemimpinanya, turut memberikan warna dalam kehidupanya.
Naiknya kiprah seorang politikus wanita,
termasuk seorang Megawati menggalami jalan yang tidaklah mudah. Serangan dan
pertikaian berdarah merupakan jalan yang harus dilalui oleh politikus perempuan
di dunia. Pada tanggal 27 juli 1996 terjadi sebuah pertikaian besar-besaran,
yang dikenal sebagai peristiwa Sabtu Kelabu atau peristiwa Kudatuli[4]
menjadi titik awal seorang Megawati menduduki kursi kepemimpinan Indonesia. Menerut
penyidikan yang dilakukan oleh Komnas HAM, peristiwa ini setidaknya memakan
korban 5 orang[5],
149 luka-luka, dan 136 orang ditahan. Hal ini terjadi ketika terpecahnya PDI
menjadi dua kubu, yakni kubu PDI Megawati dan PDI Soejadi. Peristiwa itu
terjadi karena adanya perebutan kantor DPP partai PDI di jln Diponegoro 58
Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai oleh Megawati.
Penyerbuan, atau lebih tepatnya
pengambilan secara paksa kantor DPP-PDI ini di pelopori oleh pendukung Soerjadi
dengan mengatasnamakan ketidakpuasan akibat kogres PDI yang dilakukan di Medan.
Pemberontakan yang terjadi di daerah Jakarta pusat, akhirnya meluas ke daerah
Selemba, Kramat, dan Surabaya. Adapun kerugian material yang berupa 56 gedung
dan 197 mobil rusak dan terbakar, sehingga Total kerugian diperkirakan sebesar
Rp 100 Miliar. Dikarenakan fraksi dari Megawti merasa dirugikan, maka peristiwa
ini berakhir di meja hijau dengan dihukumnya Soejadi selama 13 tahun.
Kiprahnya di dunia politik terus
berlanjut hingga pada pemilu pada tahun 2001 ia memenangkan kursi politik dan
menjabat sebagai seorang presiden hingga tahun 2004. Kepemimpinannya identik
dengan “sedikit bicara dan banyak bertindak”. Dengan ditamabahnya kharismatik
dariseorang ayah sang proklamator bangsa Soekaro, Megawati dengan caranya
sendiri, tanpa banyak bicara secara konsisten mampu melawan kekerasan secara
beran idan tegas. Ia merupakan salah satu politisi perempuan yang mampu melawan
kepemerintahan Soeharto melalui kogres terbuka Luar Biasa PDI di Surabaya tahun
1993. Kemudian setelah Megawati mengadakan perlawanan terbuka terhadap
kekuasaan yang reprensif, nyali tokoh-tokoh yang lain bersama kekuatan rakyat
mulai bangkit. Sehingga Megawati menjadi simbol dan inspirator atas perlawanan
terhadap kekuasaannya yang dianggap otoriter saat itu.
Kepemimpinya yang berkarakter dan
visioner tersebut terlihat juga dalam ketegaanya menolak sebuahgrasi para
terpidana mati dalam kasus narkoba. Dia mengaku sebagai seorang ibu, hatinya
menanggis ketika menggambil keputusan untuk menolak grasi itu. tapi demi masa
depan generasi penerus bangsa, dia harus menggambil keputusan yang secara
nuraniah, tidak ia kehendaki. Selain itu karakteristik kepemimpinanya yang
sangat kuat terlihat juga dari beberapa keputusanya yang tidak populis. Seperti
keputusan mengenai kenaikan harga BBM, dengan mengikuti standar nilai dan harga
di dunia internasional. Keputusan ini tidak begitu saja diterima oleh
masyarakat luas. Hal ini ditunjukan dengan demonstrasi besar-besaran oleh
mahasiswa saat itu yang menolak secara tegas keaniakan harga BBM.
Sikap feminis juga ditunjukan ketika ia
menjalani kepemimpinanya sebagai prsiden. Hal ini dibuktikanya dengan keputusan
Megawati yang sangat controversial saat itu, dengan diberinya restu kepada
Soetijoso/Sutiyoso untuk menjabat kembali sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Keputusan ini merpakan keptusan yang sangat controversial, mengingat Sutiyoso
merupakan lawanya dalam Kudeta Peristiwa 27 Juli (Kudatuli). Namun, keputusan
Megawati denganmemberikan restunya kepada Sutiyoso, dianggap tidak memberikan
dampakpositif pada Megawati. Hal tersebut dikarenakan Sutiyoso tidak berpihak
kepada masyarakat cilik[6].
Megawati sebagai Simbol
Emansipasi dan Kesetaraan Gender
Dengan diangkatnya Megawati menjadi
presiden pertama di Indonesia, merupakan titik awal munculnya kesetaraan gender
dan emansipasi wanita di Indonesia. Dimana sebelumnya Indoneisa sangat identik
dengan budaya patriarki, kini sediki-demi sedikit mitos mengenai politik dan
patriarki mulai runtuh. Wanita yang dahulu dianggap hanya mahir dan identitik
dengan pekerjaan Rumah Tangga, kini bisa naik derajat akibat adanya emansipasi
waita dari Kartini yang diteruskan oleh Megawati.
Menurut Megawati, kaum perempuan
harusnya dengan penuh arif dan bijaksana mampu membantu kaum laki-laki agar
mereka dapat bebesa dan terbatas dari pola piker lama yang menempatkan kaum
laki-laki pada suatu tingkat yang memprihatinkan. “dalam melakakn hal ini, tidak perlu dijalankan cara-cara yang berdampak
melecehkan dan merendahkan kaum laki-laki” katanya. Sebagai seorang
perempuan, Megawati sadar akan posisinya sebagai seorang ibu, suami, dan
pemimpin saat itu. Ia tidak menginginkan adanya konflik antar gender, dengan
diangkatnya ia menjadi seorang presiden perempuan. Megawati menawarkan suatu
stragegi bagi kaum perempuan dengan memberikakan posisi pada wanita sebagai ibu
bangsa, ibu masyarakat, dan sebagai ibu yang sejati. Dengan adanya strategi
seperti ini, maka tidak ada alasan lagi bagi perempuan untuk melakukan sebuah
tindakan/tuntutan yang hanya akan menimbulkan reaksi penolakan dari kaum
laki-laki yang masih cenderung berpikir dan berpaling ke belakang dengan
mengatas namakan budaya Patriarki[7].
Kesimpulan
Rupa-rupanya apabila dicermati, beberapa
politikus dunia yang sempat dilirik oleh dunia memiliki hubungan genealogis
ataupun mengalami perkawinan dengan politikus laki-laki. Seperti Benazir Bhuto
(Pakistan) dan Gloria Arroyo (Filiphina) yang merupakan anak kandung dari
mantan presiden di negri masing-masing, dan memiliki reputasi yang besar dan
kuat pada masanay. Sementara Cory Aquino (Filiphina) dan Sirimavo Bandaranaike
(Sri Lanka) merupakan istri dari oposan di negaranya. Sehingga terliahat bahwa
naiknya perempuan ke tampuk kekuaasaan politik masih tidak dapat dilepaskan
dari uluran tangan laki-laki baik itu ayah ataupun suami, dimana laki-laki
disini merupakan faktor paling penting dalam menggugah emosi dan memperkuat
dukungan massa. Seberapa banyak dukungan massa yang diberikan tidak terlepas
dari politikus laki-laki dibalik ketenaran dan keberhasilan seorang politikus
perempuan untuk menduduki kursi kepemerintahan.
Megewati rupan-rupanya bernaung pada
payung ayahnya sang proklamator Ir. Soekarno sebagai presiden pertama di
Indonesia. Pemanfaatan situasi oleh Megawti ini atas reputasi ayahnya ini
ternyata merupakan senjata yang ampuh untuk memperoleh suara dari rakyat untuk
masa kepermerinyahanya. Masyarakat yang rindu akan sosok Soekarno setelah
kekejaman politik Orde Baru-Soeharto dimanfaatkan oleh Magawati. Sehingga pada
pemilu pada tahun 2000, ia menjabat kursi kepresidenan di Indonesia. Dalam
kampanyenya, Megawati selalu mencantumkan gambar ayahnya, Soekarno dalam setiap
kampanye politiknya. Hal ini untuk menarik perhatian massa,bahwa ia adalah
keturunan Soekarno yang mampu berperan seperti ayahnya dalam memanajemen
negara. Kerinduan masyarakat Indonesia akan sosok Soekarno akhirnya
terlimpahkan pada kepemimpinan Megawati.
Dalam
masa permerintahan Megawati sebagai presiden pertama perempuan di Indoneisa,
mengalami berbagai intrik dan konflik yang ada. Disini saya melihat bahwa
adanya permainan politik yang telihat jelas sebagai kepemimpinan yang bersifat
balas dendam. Megawati sebagai putri dari Soekarno membalas perlakuan Soeharto
terhadap ayahnya Soekarno dengan mengungkapkan fakta sejarah. Beberapa dampak
negatif dari kepemerintahan Soeharto terkuak ketika Megawati menjabat sebagai
seorang presiden. Selain itu, Megawati merupakan satu-satunya presiden bahkan
kaum politisi yang sanggup meolak masa kepemerintahan Soeharto ketika masa
Orde-Baru. Terlihat dari diselenggarakan Kongres PDI di Surabaya pada tahun
1993. Hanya sedikit tokoh yang berani bertindak dan bersuara melawan kehendak
pemerintah ketika itu. Pada saat tokoh-tokoh politis pada saat itu masih
menutup mulut dan cenderung pasif dalam menghadapi pemerintahan Orde Baru yang
Otoriter, Megawati dengan caranya, tanpa banyak bicara secara konsisten telah
berani dan berhasil melawan Soeharto tanpa kekerasan. Sehingga Megawati
mendapatkan gelarnya sebagai Ibu Reformasi Indonesia.
Sehingga terjadilah
sebuah permainan politik dari ketiga presiden yang sangat fenomenal pada abad
20 ini. Dalam permaian politik yang diusung oleh Megawati, ia menggunakan
aturan normatif. Dalam aturan normatif ia tidak mengenal mana hal yang baik dan
mana yang buruk, sehingga dalam melakukan sistem ini mereka akan menghalalkan
segala cara untuk mendapatkan kursi politik yang ia kehendaki. Selain berhasil
membersihkan nama ayahnya yang dituduh sebagai pencetus PKI di Indoneisa, ia
juga mampu menduduki kursi politik di Indonesia. Aturan politik normative ini
cukup memerankan kegiatan politik di Indonesia, yang didominasi oleh sistem
korupsi di dalamnya. Yang menjadikan politik di Indonesia tidak pernah stabil.
Refrensi :
·
Siti Musadah dan Anik Farida, 2005, Perempuan dan Politik, Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama
Artikel
:
·
Artikel oleh Ch. Robin Simanullang dalam
http://www.tokohindonesia.com/
Presiden Berkepribadian Kuat
·
Artikel oleh Ahmad Toriq dalam http://news.detik.com
Mengintip Kisah Cinta Taufiq Kiemas dan Megawati Soekarnoputi
[1]
Mulia dan Farida, 2005, Perempuan dan Politik hal 4-5
[2] Mulia
dan Farida, 2005, Perempuan dan Politik hal 15-18
[3]
Dalam Mulia dan Farida, 2005, Perempuan dan Politik hal 6
[5] yang terdiri
atas dua personel militer dan tiga orang sipil. Yakni Kol CZI (Purn)
Budi Purnama (Mantan Komandan Detasemen Intel Kodam Jaya) dan Lettu Inf Suharto
(mantan Komandan BKI-C Detasemen Intel Kodam Jaya) adalah dua anggota militer
yang dimintai pertanggungjawaban. Sedang tiga orang sipil adalah Mochamad
Tanjung (buruh), Jonathan Marpaung (wiraswasta), dan Rahimmi Ilyas (karyawan
ekspedisi). Seorang lagi, Djoni Moniaga, seorang buruh, yang diajukan juga
sebagai terdakwa, telah meninggal dunia.( http://www.unisosdem.org/article_printfriendly.php?aid=2247&coid=3&caid=22
)
[6]
Ch. Robin Simanullang dalam http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/247-presiden-berkepribadian-kuat?start=4
[7]
Artikel Ch. Robin Simanullang , Megawati dan Kesetaraan Gender dalam http://www.tokohindonesia.com
[8]
Ahmad Toriq- Mengintip Kisah CInta Taufiq
Kiemas dan Megawati Soekarnoputri dalam http://news.detik.com
.jpg)
