Foto Sebagai Memori Sosial
(sorce by : The One Big
Happa Familly-Jeff Chiba Steans)
Perjalanan masyarakat Jepang ke Canada menuai beberapa pergunjinggan yang
menciptakan jurang perbedaan antara masyarakat asli Canada dan masyarakat
pendatang Jepang. Setelah kalahnya para tentara jepang dalam PD II, dan
dijatuhkanya bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki, jepang mengalami kemunduran
baik dalam bidang ekonomi dan SDA manusia, mengingat kedua tempat tersebut merupakan
pusat dari pertumbuhan ekonomi di jepang, dan merupakan kota yang berpenggaruh
di Jepang. Sehingga pada saat itu banyak
para penduduk jepang yang bermigrasi ke berbagai luar negri termasuk Canada.
gambar 1 migrasi masyarakat jepang
secara besar-besaran setelah PD II
Perpindahan masyarakat jepang ke Canada ini menciptakan deskriminasi
antara masyarakat Canada (asli) dan masyarakat Jepang (pendatang). Dimana
masyarakat mulai dikucilkan, dan dianggap sebagai “The Other”. Menurut saya,
hal ini juga terjadi pada masyarakat Cina di Indonesia dan masyarakat kulit
hitam di Amerika, dimana mereka dianggap sebagai kaum minoritas yang selalu
dilihat hal negatifnya saja. Sehingga masyarakat Canada selalu menekan posisi
masyarakat Jepang di Canada. Pendiskriminasian ini, samapai melarang masyarakat
jepang untuk memancing, dan berburu di wilayah Canada. Karena banyaknya
masyarakat Jepang yang bermigrasi ke wilayah Canada, terdapat satu wilayah
(yakni kota Kelowna yang melarang masyarakat jepang untuk masuk ke dalam
wilayahnya.
gambar 2 bentuk diskriminasi
masyarakat Canada kepada Jepang
gambar 3 pemberitaan media massa
Canada tentang masyarakat jepang, dimana masyarakat Canada selalu memojokkan
masyarakat Jepang
Dari deskriminasi yang diberikan oleh masyarakat Canda kepada Jepang
membuat masyarakat Jepang memiliki solidaritas persaudaraan yang kuat antar
sesamanya, walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah, cukup persamaan bahwa
mereka adalah masyarakat Jepang yang bermigrasi (perantau) ke Canada saja,
cukup mengikat tali persaudaraan mereka, dan melakukan pernikahan. Pada awalnya
mereka hanya melakukan pernikahan dengan masyarakat jepang saja, tetapi dengan
berjalanya waktu, pernikahan ini berlangsung dengan masyarakat asli Canada,
yang dalam ilmu sosial pernikahan ini disebut sebagai pernikahan intermarriage yang merupakan pernikahan
campuran antar ras yang melibatkan ras Mongoloid,Kaukasoid dan Negroid.
gambar 4 pernikahan masyrakat Jepang
dengan penduduk Canada,
Berlangsungnya pernikahan intermarriage
ini, menurut saya merupakan tindakan yang bertujuan untuk menekan tindakan
diskriminasi dan pengakuan sebagai warga Canada. Memang pernikahan ini cukup
berhasil, dimana sekarang masyarakat Canada sudah memulai menerima masyarakat
Jepang. Sehingga penyebaran masyarakat jepang ini sudah sangat luas. Untuk
mengikat tali persaudaraan ini, maka masyarakat jepang juga mendirikan NAJC
(National Assosiation of Japanese-Canadian), yang berisikan masyarakat jepang
yang tinggal di Canada, maupun keturunan Jepang yang ada di Canada (keturunan
asli ataupun campuran). Setipa beberapa bulan sekali, mereka mengadakan
pertemuan, seperti layaknya arisan keluarga, dimana mereka melakukan kegitan
seperti out bond, kegiatan
perkemahan, dan nostalgia (mengenang budaya jepang bersama). Hal ini dibuktikan
dengan film yang dibuat oleh salah satu keturunan intermarriage (Jepang-Canada) yang berjudul “One Big Happa Familly”
yang disutradarai oleh Jeff Chiba Steans. Happa
sendiri memiliki arti daun yang jatuh dan menyebar ke seluruh tempat. Happa
sendiri sebagai simbolisasi masyarakat dan keturunan jepang di Canada yang
telah menyebar ke seluruh wilayah di Canada.
gambar 5 bentuk solidaritas masyarakat
Jepang, yang menyebut dirinya sebagai "One Big Happa Familli"
Dari
film yang dibuat oleh Chiba, ia mencoba menceritakan runtutan migrasi
masyarakat Jepang, mulai dari awal keberangkatan, hinga mereka sampai ke
Canada, dan bagaimana kehidupan mereka di sana pertama kali. Chiba
mengandalakan foto sebagai data utamanya yang merupakan fakta perjalanan
masyarakat jepang. Foto-foto yang ia
peroleh ia susun sedemikian rupa hingga menjadi data historis. Dalam film yang
ia buat, ia juga menyajikan foto-foto dan tidak lupa ia juga menjelaskan
foto-foto tersebut secara rapi, penyelasan seperti ini sering juga disbut
sebagai “voice of god”, sebagai ciri utama film dokumenter.
Dari film yang dibuat oleh Chiba,
membuktikan bahwa foto dapat dijadikan sebagai fakta dan data historis sebagai
memori sosial yang mampu menjelaskan segala fenomena sosial-budaya pada waktu
tertentu (sesuai dengan waktu pengambilan foto).




0 komentar:
Posting Komentar