Foto yang Bercerita-One Big Happa Family

Rabu, 26 Desember 2012

Foto Sebagai Memori Sosial
(sorce by : The One Big Happa Familly-Jeff Chiba Steans)

Perjalanan masyarakat Jepang ke Canada menuai beberapa pergunjinggan yang menciptakan jurang perbedaan antara masyarakat asli Canada dan masyarakat pendatang Jepang. Setelah kalahnya para tentara jepang dalam PD II, dan dijatuhkanya bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki, jepang mengalami kemunduran baik dalam bidang ekonomi dan SDA manusia, mengingat kedua tempat tersebut merupakan pusat dari pertumbuhan ekonomi di jepang, dan merupakan kota yang berpenggaruh di Jepang.  Sehingga pada saat itu banyak para penduduk jepang yang bermigrasi ke berbagai luar negri termasuk Canada. 
gambar 1 migrasi masyarakat jepang secara besar-besaran setelah PD II
Perpindahan masyarakat jepang ke Canada ini menciptakan deskriminasi antara masyarakat Canada (asli) dan masyarakat Jepang (pendatang). Dimana masyarakat mulai dikucilkan, dan dianggap sebagai “The Other”. Menurut saya, hal ini juga terjadi pada masyarakat Cina di Indonesia dan masyarakat kulit hitam di Amerika, dimana mereka dianggap sebagai kaum minoritas yang selalu dilihat hal negatifnya saja. Sehingga masyarakat Canada selalu menekan posisi masyarakat Jepang di Canada. Pendiskriminasian ini, samapai melarang masyarakat jepang untuk memancing, dan berburu di wilayah Canada. Karena banyaknya masyarakat Jepang yang bermigrasi ke wilayah Canada, terdapat satu wilayah (yakni kota Kelowna yang melarang masyarakat jepang untuk masuk ke dalam wilayahnya.

gambar 2 bentuk diskriminasi masyarakat Canada kepada Jepang
gambar 3 pemberitaan media massa Canada tentang masyarakat jepang, dimana masyarakat Canada selalu memojokkan masyarakat Jepang
Dari deskriminasi yang diberikan oleh masyarakat Canda kepada Jepang membuat masyarakat Jepang memiliki solidaritas persaudaraan yang kuat antar sesamanya, walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah, cukup persamaan bahwa mereka adalah masyarakat Jepang yang bermigrasi (perantau) ke Canada saja, cukup mengikat tali persaudaraan mereka, dan melakukan pernikahan. Pada awalnya mereka hanya melakukan pernikahan dengan masyarakat jepang saja, tetapi dengan berjalanya waktu, pernikahan ini berlangsung dengan masyarakat asli Canada, yang dalam ilmu sosial pernikahan ini disebut sebagai pernikahan intermarriage yang merupakan pernikahan campuran antar ras yang melibatkan ras Mongoloid,Kaukasoid dan Negroid. 

gambar 4 pernikahan masyrakat Jepang dengan penduduk Canada,
Berlangsungnya pernikahan intermarriage ini, menurut saya merupakan tindakan yang bertujuan untuk menekan tindakan diskriminasi dan pengakuan sebagai warga Canada. Memang pernikahan ini cukup berhasil, dimana sekarang masyarakat Canada sudah memulai menerima masyarakat Jepang. Sehingga penyebaran masyarakat jepang ini sudah sangat luas. Untuk mengikat tali persaudaraan ini, maka masyarakat jepang juga mendirikan NAJC (National Assosiation of Japanese-Canadian), yang berisikan masyarakat jepang yang tinggal di Canada, maupun keturunan Jepang yang ada di Canada (keturunan asli ataupun campuran). Setipa beberapa bulan sekali, mereka mengadakan pertemuan, seperti layaknya arisan keluarga, dimana mereka melakukan kegitan seperti  out bond, kegiatan perkemahan, dan nostalgia (mengenang budaya jepang bersama). Hal ini dibuktikan dengan film yang dibuat oleh salah satu keturunan intermarriage (Jepang-Canada) yang berjudul “One Big Happa Familly” yang disutradarai oleh Jeff Chiba Steans. Happa sendiri memiliki arti daun yang jatuh dan menyebar ke seluruh tempat. Happa sendiri sebagai simbolisasi masyarakat dan keturunan jepang di Canada yang telah menyebar ke seluruh wilayah di Canada. 

gambar 5 bentuk solidaritas masyarakat Jepang, yang menyebut dirinya sebagai "One Big Happa Familli"
                Dari film yang dibuat oleh Chiba, ia mencoba menceritakan runtutan migrasi masyarakat Jepang, mulai dari awal keberangkatan, hinga mereka sampai ke Canada, dan bagaimana kehidupan mereka di sana pertama kali. Chiba mengandalakan foto sebagai data utamanya yang merupakan fakta perjalanan masyarakat jepang.  Foto-foto yang ia peroleh ia susun sedemikian rupa hingga menjadi data historis. Dalam film yang ia buat, ia juga menyajikan foto-foto dan tidak lupa ia juga menjelaskan foto-foto tersebut secara rapi, penyelasan seperti ini sering juga disbut sebagai “voice of god”, sebagai ciri utama film dokumenter.
Dari film yang dibuat oleh Chiba, membuktikan bahwa foto dapat dijadikan sebagai fakta dan data historis sebagai memori sosial yang mampu menjelaskan segala fenomena sosial-budaya pada waktu tertentu (sesuai dengan waktu pengambilan foto).

0 komentar:

Posting Komentar

 
 

© 2010 ETNOFOTOGRAFI, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV