Kliping Koran

Jumat, 02 November 2012


Gambar 1  (JAWA POS/Guslan Gumilang)

Dalam foto 1, terdapat dua buah foto yang berbeda, yang pertama foto tentang poster pemberitahuan tentang bahaya penggunaan narkoba pada kalangan remaja. Sedangkan foto yang kedua menjelaskan kehidupan para remaja yang sedang menikmati dunia malam. Dari foto yang pertama dan yang kedua, saling berkaitan erat antara penggunaan narkoba dengan pergaulan remaja saat ini yang cenderung sering keluar malam bersama teman-temanya. Pergaulan para remaja usia 17-20 tahun mrupakan masa di mana mereka sedang berlomba-lomba mencari jati diri mereka. Sehingga mereka akan mencoba Sesutu yang baru mereka ketahui dalam kehidupannya yang baru. Tetapi di sini saya tidak membahas persoalan remaja, tetapi mengenai media poster/stiker/baliho sebagai sarana penganti media elektronik untuk menginformasikan sesuatu kepada orang yang dituju.
Seperti gambar pertama, yang bergambarkan ada seorang pelajar SMA sedang berdiri di atas poster pemberitahuan tentang bahaya menggunakan Narkoba.  Biasanya tulisan tersebut berisi seperti “ SAY NO TO DRUGS”, “ katakana TIDAK pada NARKOBA”, “Hidup Lebih Indah Tanpa NArkoba”. Kata-kata tersebut sangat umum dijumpai baik di sekolah SMP, SMA, PT/Universitas ataupun di jalanan. Tidak hanya pada pelajar, media jenis tersebut juga berlaku universal, tidak tertuju pada golongan tertentu.sering kita ketahui bahwa media cetak baliho/poster sering diletakkan di tempat yang memiliki spot yang sering dilewati oleh orag banyak. Seperti pada lembaga pendidikan, tembok jalanan/lampu merah, ataupun baliho besar yang sering mewarnai pinggiran jalan.



Gambar 2 (Stiker Bergambar Koruptor- KOMPAS/Agus Susanto 15/12)

                Foto yang kedua berisikan tentang stiker gambar daftar para korupor yang sedang menjadi buronan polisi pada saat itu. Dari foto ini, menjelaskan bahwa media tidak hanya berisikan tentang himbauan penggunaan Narkoba ataupun Sponsor produk semata, melainkan juga bisa menjadi suatu jurus yang jitu untuk menggajak masyarakat untuk besama-sama ikut andil dalam memberantas kejahatan korupsi di Indonesia.  Foto tersebut bukanya berada di kantor/pos polisi, melaikan berada di warung pinggir jalan MH Thamrin, Jakarta. Walaupun stiker gambar di meja warung pinggir jalantersebut terlihat rusak, tetapi foto ini cukup menjelaskan bahwa polisi, ataupun aparat hukum yanglain menginginkan agar para masyarakat juga ikut andil dalam pencarian para koruptor tersebut.
                Terkadang pemberitahuan seperti ini biasa di lakukan di televisi ataupun media cetak yang lain (Koran/majalah). Tetapi hal ini berbeda, pemberitahuan seperti ini justru diberitahukan melalui stiker yang menempel pada meja warung pinggir jalan tersebut. Dilihat dari penggambilan spotnya, sudah jelas warung dipilih dikarenakan warung pinggir jalan pasti akan didatnggi oleh para pengguna jalan yang inggin singgah. Sehingga secara tidak sadar, seseorang yang sedang duduk di kursi/meja tersebut pasti akan menggetahuinya.
                Jika dilihat dari frekuensinya, media cetak (baliho/stiker/poster) cukup efektif untuk memberitahukan suatu peristiwa kepada masyarakat. Dikarenakan jika memang ia adalah pengguna jalan/pengguna warung tersebut yang sering datang pada tempat tersebut, pasti lambat laun akan menghafal apa yang ada atau apa maksud yang terdapat pada media cetak. Sehingga para masyarakat akan segera tanggap jika ia menemui orang yang wajahnya terpampang sebagai list buronan koruptor dan melaporkanya kepada polisi setempat tentang keberadaan para koruptor. Sehingga dari stiker ini, diharapkan presentase terhadap koruptor di Indonesia akan menurun.
                Hanya sebagai tambahan saja, foto tersebut diambil saat si fotografer baru pertama singgah dan datang di warung pinggir jalan tersebut. Terlihat dari ekspresi dua orang yang sedang melihat proses pemotretan. Sepertinya, kedua orang ini mengangap aneh si fotografer, dikarenakan ia melihat pada objek yang ingin di foto oleh fotografer yang menurut kedua orang ini kurang interest bagi mereka. Selain itu, jika si fotografer sudah sering/ menjadi pelanggandi warung tersebut, pemotretan yang ia lakukan tidak akan menarik perhatian dari orang-orang di sekitarnya.



Gambar 3 (Penjelasan Tentang Tsunami-KOMPAS/Yuniadhi Agung)

                Foto berikutnya menjelaskan pemberitahuan tentang Tsunami. Pemberitahuan kali ini menggunakan media baliho sebagai media penyampai pesan. Baliho ini berisikan tentang penyeluhan apa saja yang harus dilakukan ketika terjadi bencana tsunami datang. Baliho ini berada di pesisir kota Cilacap, Jawa Tenggah yang tidak terkena dampak tsunami. Terlihat dari gambar tersebut terdapat pengguna jalan, yang sedang melihat gambar baliho tersebut sambil tetap mengayuh sepedanya. Walaupun di daerah cilacap masih belum terkena bencana tsunami, dinas kelautna setempat mencoba menghimbau warganya untuk berjaga-jaga dan bersiap-siap ketika bencana tsunami datang, dan menimpa kapanpun.
                Baliho tersebut memang terletak di jalan yang sepertinya menjadi jalan yang sering dilalui oleh warga sekitar, dikarenakan pemasangan baliho tersebut berada di jalan menuju ke bibir pantai. Terkadang pemberitahuan tentang penyuluhan tsunami diberitahukan secara langsung kepada warga melalui acara-acara tertentu, tetapi kali ini berbeda, untuk lebih mengingatkan kepada warga bahwa bahaya tsunami dapat datang sewaktu-waktu, maka dinas kelautan besarta pemerinyah sekitar senggaja mamasang penyuluhan tentang bahaya tsunami di pinggir jalan. Mungkin presentasi pembaca dari baliho ini sedikit, dan mungkin para warga hanya akan melihat gambarnya saja, tidak kepada tulisannya. Namun, pemberitahuan seperti ini sudah cukup untuk menghimbau para warga setempat untuk tetap waspada terhadap bencana tsunami yang akan melanda sewaktu-waktu.



Gambar 4 (Menunggu Konsumen-KOMPAS/YUNIADHI AGUNG)

                Foto berikikutnya adalah mengenai pemasangan symbol dollar AS bahwa di tempat tersebut terdapat jasa penukaran uang asing di pinggir jalan di kawasan Kwitang, Jakarta. Terlihat jelas bahwa pedagang valuta asing tersebut sedang menunggu konsumen yang datang untuk menukarkan uang ke dirinya. Mengingat pada saat itu nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat. Terbukti pada selasa 28/3 kurs rupiah naik menjadi Rp 9.050 per satu dollar AS.
                Seperti yang saya sebutkan pada deskripsi yang lain. Tujuan dari pemasangan tanda ini menunjukan bahwa terdapat pemberitahuan jika, “ di sini terima jasa penukaran uang asing”. Seperti yang saya beritahukan di atas, bahwa pada saat itu nilai tukar rupiah terhadap dollar AS meningkat, mungkin bapak ini berkeninginan bahwa akan ada orang yang inggin menukarkan uang rupiahnya dengan dollar AS sebagai investasi jika nilai dollar akan naik kembali.
                Memang kenaikan dollar AS, akan mempengaruhi nilai atau harga barang/pangan/sandang di Indonesia akan ikut naik. Mengingat bahwa dollar merupakan nilai kurs tertinggi saat ini. Jika dilihat dari fenomena saat ini, banyak ditemukan dipinggir jalan terdapat jasa penukaran uang asing yang tidak resmi. Biasanya jasa penukaran ini dilakukan di bank-bank yang bersangkutan. Tetapi manusia inidonesia lebih memilih cara instan, dan mudah untuk menukarkan uang asingnya ke rupiah melalui jasa penukaran uang di jalanan.



Gambar 5 (KOMPAS/AGUS SUSANTO senin 18/12) 

                Gambar ini diambil di tempat pengepul barang bekas dari para pemulung di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Terlihat bahwa ada seorang pemulung yang sedang beristirahat di sebelah poster presiden RI SBY beserta mantan WaPres JK. Ternyata tidak hanya di lembaga pendidikan atau di kantor-kantor petinggi daerah, namun ditempat yang jarang dilirik orang bahkan dianggap hina sekalipun terdapat dua poster  presiden dan mantan presidennya. Hal ini membuktikan bahwa penempatan foto/poster sangatlah elastis, dan tidak tergantung oleh tempat.
Penempatan foto tersebut bukan sebagai pembuktian ideologi yang ada pada diri si pemilik tempat, melainkan sebagai bentuk protes bahwa sulitnya mencari lapangan kerja di ibukota. Walaupun hanya sebagai pemulung ibu kota, ternyata profesi ini juga memiliki saingan yang berat setipa tahunya. Para pemulung akan terus bersaing dengan pemulung yang lain, yang jumlahnya setiap hari semakin meningkat yang kebanyakan dari mereka merupakan pendatang. Sehingga pendapatan sehari-hari para pemulung ini sekian hari semakin sedikit, mengingat bahwa pendapatan mereka sehari-hari memang sudah sedikit.
Selain itu, di sebelah peletakkan foto tersebut, terdapat stiker yang menunjukkan bahwa si pemilik rumah, merupakan golongan keluarga yang cukup terpandang di wilayah tersebut. Disini, stiker berfungsi sebagai tanda dari suatu komunitas, bukan lagi sebagai sebuah pemberitahuan ataupun sebagai peringgatan.



KESIMPULAN :
Di era modern ini, pemberitahuan terhadap Sesutu tidak hanya melalui media elektronik seperti radio, TV ataupun radio, melainkan keberadaan media cetak di era modern ini masih berlaku, bahkan dapat dikatakan bahwa eksstensi dari media cetak ini mulai muncul kembali. Selain biaya yang dikenakan cukup ringgan dibandingkan pemberitahuan melalui media elektronik yang cukup menguras kantong. Tidak hanya itu, keberadaan media cetak, seperti baliho, stiker, ataupin poster dirasa cukup membantu dalam penyampaian suatu hal. Dilihat dari frekuensinya, peletakan jenis media cetak tersebut, selalu berada di spot-spot yang sering dilewati oleh orang banyak, sehingga secara tidak sadar para pengguna jalan akan selalu melihat poster/stiker/baliho yang terpasang di pinggiran jalan. Lain dengan pemberitahuan yang dilakukan oleh edia elektronik yang cenderung hanya satu kali dala setiap penayangannya.
Seperti peletakkan poster ajakan untuk tidak mengunakan narkoba yang selalu ada di setap lembaga pendidikan. Selain penyuluhan yang selalu diberikan oleh guru setempat, poster digunakan sebagai pengingat dan pemberiatahuan terhadap bahaya penggunaan Narkoba. Poster juga ditunjang dengan gambar yang semakin mewakili pemberitahuan apa yang ingin disampaikan.  Dari frekuensinya, para pelajar akan setaip hari melihat poster-poster tersebut sehingga secara tidak sadar ia telah terlatih untuk tidak menggunakan Narkoba dalam bentuk apapun dan pada waktu apapun. Sehingga poster dirasa cukup untuk memberitahukan sesuatu kepada masyarakat luas.


0 komentar:

Posting Komentar

 
 

© 2010 ETNOFOTOGRAFI, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV