Gambar 1 (JAWA POS/Guslan
Gumilang)
Dalam foto 1,
terdapat dua buah foto yang berbeda, yang pertama foto tentang poster
pemberitahuan tentang bahaya penggunaan narkoba pada kalangan remaja. Sedangkan
foto yang kedua menjelaskan kehidupan para remaja yang sedang menikmati dunia
malam. Dari foto yang pertama dan yang kedua, saling berkaitan erat antara
penggunaan narkoba dengan pergaulan remaja saat ini yang cenderung sering
keluar malam bersama teman-temanya. Pergaulan para remaja usia 17-20 tahun
mrupakan masa di mana mereka sedang berlomba-lomba mencari jati diri mereka.
Sehingga mereka akan mencoba Sesutu yang baru mereka ketahui dalam kehidupannya
yang baru. Tetapi di sini saya tidak membahas persoalan remaja, tetapi mengenai
media poster/stiker/baliho sebagai sarana penganti media elektronik untuk
menginformasikan sesuatu kepada orang yang dituju.
Seperti gambar
pertama, yang bergambarkan ada seorang pelajar SMA sedang berdiri di atas poster
pemberitahuan tentang bahaya menggunakan Narkoba. Biasanya tulisan tersebut berisi seperti “ SAY
NO TO DRUGS”, “ katakana TIDAK pada NARKOBA”, “Hidup Lebih Indah Tanpa
NArkoba”. Kata-kata tersebut sangat umum dijumpai baik di sekolah SMP, SMA,
PT/Universitas ataupun di jalanan. Tidak hanya pada pelajar, media jenis
tersebut juga berlaku universal, tidak tertuju pada golongan tertentu.sering
kita ketahui bahwa media cetak baliho/poster sering diletakkan di tempat yang
memiliki spot yang sering dilewati oleh orag banyak. Seperti pada lembaga
pendidikan, tembok jalanan/lampu merah, ataupun baliho besar yang sering
mewarnai pinggiran jalan.
Gambar 2 (Stiker Bergambar Koruptor- KOMPAS/Agus Susanto 15/12)
Foto
yang kedua berisikan tentang stiker gambar daftar para korupor yang sedang
menjadi buronan polisi pada saat itu. Dari foto ini, menjelaskan bahwa media
tidak hanya berisikan tentang himbauan penggunaan Narkoba ataupun Sponsor
produk semata, melainkan juga bisa menjadi suatu jurus yang jitu untuk menggajak
masyarakat untuk besama-sama ikut andil dalam memberantas kejahatan korupsi di
Indonesia. Foto tersebut bukanya berada
di kantor/pos polisi, melaikan berada di warung pinggir jalan MH Thamrin,
Jakarta. Walaupun stiker gambar di meja warung pinggir jalantersebut terlihat
rusak, tetapi foto ini cukup menjelaskan bahwa polisi, ataupun aparat hukum
yanglain menginginkan agar para masyarakat juga ikut andil dalam pencarian para
koruptor tersebut.
Terkadang
pemberitahuan seperti ini biasa di lakukan di televisi ataupun media cetak yang
lain (Koran/majalah). Tetapi hal ini berbeda, pemberitahuan seperti ini justru
diberitahukan melalui stiker yang menempel pada meja warung pinggir jalan
tersebut. Dilihat dari penggambilan spotnya, sudah jelas warung dipilih dikarenakan
warung pinggir jalan pasti akan didatnggi oleh para pengguna jalan yang inggin
singgah. Sehingga secara tidak sadar, seseorang yang sedang duduk di kursi/meja
tersebut pasti akan menggetahuinya.
Jika
dilihat dari frekuensinya, media cetak (baliho/stiker/poster) cukup efektif
untuk memberitahukan suatu peristiwa kepada masyarakat. Dikarenakan jika memang
ia adalah pengguna jalan/pengguna warung tersebut yang sering datang pada
tempat tersebut, pasti lambat laun akan menghafal apa yang ada atau apa maksud
yang terdapat pada media cetak. Sehingga para masyarakat akan segera tanggap
jika ia menemui orang yang wajahnya terpampang sebagai list buronan koruptor
dan melaporkanya kepada polisi setempat tentang keberadaan para koruptor.
Sehingga dari stiker ini, diharapkan presentase terhadap koruptor di Indonesia
akan menurun.
Hanya
sebagai tambahan saja, foto tersebut diambil saat si fotografer baru pertama
singgah dan datang di warung pinggir jalan tersebut. Terlihat dari ekspresi dua
orang yang sedang melihat proses pemotretan. Sepertinya, kedua orang ini
mengangap aneh si fotografer, dikarenakan ia melihat pada objek yang ingin di
foto oleh fotografer yang menurut kedua orang ini kurang interest bagi mereka. Selain itu, jika si fotografer sudah sering/
menjadi pelanggandi warung tersebut, pemotretan yang ia lakukan tidak akan
menarik perhatian dari orang-orang di sekitarnya.
Gambar 3 (Penjelasan Tentang Tsunami-KOMPAS/Yuniadhi Agung)
Foto
berikutnya menjelaskan pemberitahuan tentang Tsunami. Pemberitahuan kali ini
menggunakan media baliho sebagai media penyampai pesan. Baliho ini berisikan
tentang penyeluhan apa saja yang harus dilakukan ketika terjadi bencana tsunami
datang. Baliho ini berada di pesisir kota Cilacap, Jawa Tenggah yang tidak
terkena dampak tsunami. Terlihat dari gambar tersebut terdapat pengguna jalan,
yang sedang melihat gambar baliho tersebut sambil tetap mengayuh sepedanya.
Walaupun di daerah cilacap masih belum terkena bencana tsunami, dinas kelautna
setempat mencoba menghimbau warganya untuk berjaga-jaga dan bersiap-siap ketika
bencana tsunami datang, dan menimpa kapanpun.
Baliho
tersebut memang terletak di jalan yang sepertinya menjadi jalan yang sering
dilalui oleh warga sekitar, dikarenakan pemasangan baliho tersebut berada di
jalan menuju ke bibir pantai. Terkadang pemberitahuan tentang penyuluhan
tsunami diberitahukan secara langsung kepada warga melalui acara-acara
tertentu, tetapi kali ini berbeda, untuk lebih mengingatkan kepada warga bahwa
bahaya tsunami dapat datang sewaktu-waktu, maka dinas kelautan besarta
pemerinyah sekitar senggaja mamasang penyuluhan tentang bahaya tsunami di
pinggir jalan. Mungkin presentasi pembaca dari baliho ini sedikit, dan mungkin
para warga hanya akan melihat gambarnya saja, tidak kepada tulisannya. Namun,
pemberitahuan seperti ini sudah cukup untuk menghimbau para warga setempat
untuk tetap waspada terhadap bencana tsunami yang akan melanda sewaktu-waktu.
Gambar 4 (Menunggu Konsumen-KOMPAS/YUNIADHI AGUNG)
Foto
berikikutnya adalah mengenai pemasangan symbol dollar AS bahwa di tempat
tersebut terdapat jasa penukaran uang asing di pinggir jalan di kawasan
Kwitang, Jakarta. Terlihat jelas bahwa pedagang valuta asing tersebut sedang
menunggu konsumen yang datang untuk menukarkan uang ke dirinya. Mengingat pada
saat itu nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat. Terbukti pada selasa
28/3 kurs rupiah naik menjadi Rp 9.050 per satu dollar AS.
Seperti
yang saya sebutkan pada deskripsi yang lain. Tujuan dari pemasangan tanda ini
menunjukan bahwa terdapat pemberitahuan jika, “ di sini terima jasa penukaran
uang asing”. Seperti yang saya beritahukan di atas, bahwa pada saat itu nilai
tukar rupiah terhadap dollar AS meningkat, mungkin bapak ini berkeninginan
bahwa akan ada orang yang inggin menukarkan uang rupiahnya dengan dollar AS
sebagai investasi jika nilai dollar akan naik kembali.
Memang
kenaikan dollar AS, akan mempengaruhi nilai atau harga barang/pangan/sandang di
Indonesia akan ikut naik. Mengingat bahwa dollar merupakan nilai kurs tertinggi
saat ini. Jika dilihat dari fenomena saat ini, banyak ditemukan dipinggir jalan
terdapat jasa penukaran uang asing yang tidak resmi. Biasanya jasa penukaran
ini dilakukan di bank-bank yang bersangkutan. Tetapi manusia inidonesia lebih
memilih cara instan, dan mudah untuk menukarkan uang asingnya ke rupiah melalui
jasa penukaran uang di jalanan.
Gambar 5 (KOMPAS/AGUS SUSANTO senin 18/12)
Gambar
ini diambil di tempat pengepul barang bekas dari para pemulung di Tanah Abang,
Jakarta Pusat. Terlihat bahwa ada seorang pemulung yang sedang beristirahat di
sebelah poster presiden RI SBY beserta mantan WaPres JK. Ternyata tidak hanya
di lembaga pendidikan atau di kantor-kantor petinggi daerah, namun ditempat
yang jarang dilirik orang bahkan dianggap hina sekalipun terdapat dua poster presiden dan mantan presidennya. Hal ini
membuktikan bahwa penempatan foto/poster sangatlah elastis, dan tidak
tergantung oleh tempat.
Penempatan
foto tersebut bukan sebagai pembuktian ideologi yang ada pada diri si pemilik tempat,
melainkan sebagai bentuk protes bahwa sulitnya mencari lapangan kerja di
ibukota. Walaupun hanya sebagai pemulung ibu kota, ternyata profesi ini juga
memiliki saingan yang berat setipa tahunya. Para pemulung akan terus bersaing
dengan pemulung yang lain, yang jumlahnya setiap hari semakin meningkat yang
kebanyakan dari mereka merupakan pendatang. Sehingga pendapatan sehari-hari
para pemulung ini sekian hari semakin sedikit, mengingat bahwa pendapatan
mereka sehari-hari memang sudah sedikit.
Selain itu, di
sebelah peletakkan foto tersebut, terdapat stiker yang menunjukkan bahwa si
pemilik rumah, merupakan golongan keluarga yang cukup terpandang di wilayah
tersebut. Disini, stiker berfungsi sebagai tanda dari suatu komunitas, bukan
lagi sebagai sebuah pemberitahuan ataupun sebagai peringgatan.
KESIMPULAN :
Di era modern
ini, pemberitahuan terhadap Sesutu tidak hanya melalui media elektronik seperti
radio, TV ataupun radio, melainkan keberadaan media cetak di era modern ini
masih berlaku, bahkan dapat dikatakan bahwa eksstensi dari media cetak ini
mulai muncul kembali. Selain biaya yang dikenakan cukup ringgan dibandingkan
pemberitahuan melalui media elektronik yang cukup menguras kantong. Tidak hanya
itu, keberadaan media cetak, seperti baliho, stiker, ataupin poster dirasa
cukup membantu dalam penyampaian suatu hal. Dilihat dari frekuensinya,
peletakan jenis media cetak tersebut, selalu berada di spot-spot yang sering
dilewati oleh orang banyak, sehingga secara tidak sadar para pengguna jalan
akan selalu melihat poster/stiker/baliho yang terpasang di pinggiran jalan.
Lain dengan pemberitahuan yang dilakukan oleh edia elektronik yang cenderung
hanya satu kali dala setiap penayangannya.
Seperti
peletakkan poster ajakan untuk tidak mengunakan narkoba yang selalu ada di
setap lembaga pendidikan. Selain penyuluhan yang selalu diberikan oleh guru
setempat, poster digunakan sebagai pengingat dan pemberiatahuan terhadap bahaya
penggunaan Narkoba. Poster juga ditunjang dengan gambar yang semakin mewakili
pemberitahuan apa yang ingin disampaikan.
Dari frekuensinya, para pelajar akan setaip hari melihat poster-poster
tersebut sehingga secara tidak sadar ia telah terlatih untuk tidak menggunakan
Narkoba dalam bentuk apapun dan pada waktu apapun. Sehingga poster dirasa cukup
untuk memberitahukan sesuatu kepada masyarakat luas.
|
Kliping Koran
Diposting oleh
Unknown
Jumat, 02 November 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 komentar:
Posting Komentar