from Pulsa to Fulsa

Senin, 01 Oktober 2012




Foto ini saya dapatkan ketika saya sedang melakukan pelatihan penelitian di Desa Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang Raya (tepatnya berada di malang selatan) pada hari rabu, 04-07-2012. Desa Ganjaran setidaknya memiliki 16 Pondok Pesantren, yang menjadikan Desa Ganajaran sebagai Desa bagi para kaum santri/santriwati yang terkenal memeiliki nilai religinitas baik. Keadaan ini sangat terlihat jelas ketika pada sore hari banyak para santri/santriwati yang sedang jalan-jalan ke luar pondok, hanya untuk mencari udara yang segar. Podok pertama berdiri di Desa Ganjaran adalah PonPes Zaenul Ulum, yang berdiri pada tahun 1918 dibawah naungan kyai asal Madura yang cukup terkenal pada saat itu. Dan kemudian beberapa tahun disusulah oleh PonPes lain, hingga berjumlah 16 PonPes yang ada di Ganjaran.
 Pada saat sedang melakukan jalan-jalan pagi, saya menemukan fakta yang menurut saya unik, dimana terdapat sebuah bangkel sepeda yang memajang papan  yang bertuliskan “ Di Sini Isi Ulang Fulsa dan Potong Rambut” (dengan anak panah yang menuju ke dalam, dikarenakan disebelah bengkel tersebut terdapat sebuah gang kecil) , di sini kata Fulsa cukup menjadi ketertarikan tersendiri bagi saya. Bila menggunakan pedoman berbahasa Indonesia yang baik menurut EYD,  kata yang baku untuk menggunakan kalimat tersebut adalah Pulsa, bukanlah Fulsa.  Seperti kebiasaan yang dilakukan oleh orang arab, dimana mereka sangat jarang menggunakan huruf “P” dalam percakapannya, dan mengganti kalimat yang memiliki huruf “P” dalam kalimatnya dengan huruf “F”, seperti yang terjadi di papan nama tersebut dari kalimat yang seharusnya “Pulsa” digantikan sebagai “Fulsa”. Sepertinya ini adalah kiat bisnis yang dimiliki oleh orang yang memiliki usaha potong rambut dan jual Fulsa ini untuk mengait para pembeli dan langgananya, yang didominasi oleh para kaum santri, yang notabenya memiliki cita-cita untuk pergi ke Arab untuk melanjutkan studi mereka. Selain itu budaya Arab, juga sangat erat dikalangan para Santri yang mereka dapatkan dari pergaulan mereka di PonPes yang mereka nuanggi, hal ini sangat terlihat jelas, ketika hubun nabi pertama, dimana pada sela-sela waktu tertentu, mereka menari khas timur tenggah, dengan iringan musik khas gurun pasir, ini menandakan bahwa budaya arab, sangatlah kental dikalangan para santri dan santriwati, sehingga si pemilik toko berinisiatif untuk mengganti kata Pulsa menjadi Fulsa. Agar terlihat sedikit kearab-araban.
Tidak hanya para santri, bahkan mayoritas/beberapa masyarakat Ganjaran memiliki cita-cita untuk pergi ke Arab. Ini dibuktikan dengan banyaknya TKI/TKW asal Desa Ganjaran yang banyak pergi ke Arab untuk bekerja. Denagan alasan akanmendapatkan gaji yang lebih banyak jika bekerja di Arab, sekaligus pergi ke Negara Islam (Arab) yang selalu di bangga-baggakan oleh masyarakat Ganjaran.
Kebudayaan Arab, dan Pendalungan (Jawa-Madura) memang sangat melekat dalam kehidupan beberapa masyarakat Ganjaran. Selain faktor banyaknya PonPes yang menyebabkan Ganjaran di anggap sebagai wilayah santri (islami), salah satu sebab yang lain adalah banyaknya TKI/TKW yang pulang dari Arab, dan mengaplikasikan budaya Arab yang mereka bawa. Tidak hanya 1 atau 2 tahun para TKI/TKW ini bekerja di Arab, melainkan sekitar 5-12 tahun. Tidak heran jika mereka sudah terbiasa dengan Budaya Arab yang mereka bawa, dikarenakan mereka sudah dirasa cukup untuk menerima dan mengaplikasikan budaya Arab, yang sudah terlanjur mereka temui sehari-hari di Arab.
Dari foto yang saya ambil, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat akulturasi Budaya arab yang di bawa oleh para TKI/TKW yang pulang dari arab, dan Santri dengan budaya lokal Ganjaran yang mayoritas merupakan keturunan Pendalungan telah masuk dan mulai bercampur dengan budaya lokal, percampuran ini mengeser kebudayaan khas Pendalungan yang menyebabkan tergesernya nilai-nilai  mulai tergeser keberadaannya ke wilayah yang lebih terpinggir. Hal ini terlihat dari sedikitnya, bahkan hampir tidak ada para sakerah yang ada di Desa Ganjaran. Menurut beberapa Informasi dari warga sekitar, budaya sakerah sudah tergeser oleh banyaknya acara-acara yang berbau islami, seperti hubbun nabi, istighosah, diba’an, yasinan, tahlinan, bahkan khataman Al-Qur’an, yang acaranya selalu diadakan setiap satuminggu sekali. Sehingga para wargatidak memiliki waktu untuk melakukan tradisi sakerah. Bahkan cirri khas yang dimiliki oleh sakerah, sangat jarang saya temui. Dimana mereka memiliki ciri : berkumis tebal, dengan sabuk hijau (Seperti sabuk orang betawi) yang melilit pinggul/perutnya, dan baju (celana dan baju) yang hitam. Justru yang paling sering saya temui adalah banyaknya para bapak-bapak yang memakai sarung dan baju koko/batik/taqwo/gamis yang sering jalan-jalan pada sore hari (waktu maghrib) sampai jam 8 malam. 

Vita Iga Anjani
30 September 2012

2 komentar:

{ Roikan } at: 1 Oktober 2012 pukul 04.58 mengatakan...

Keren...Lanjutken

{ Unknown } at: 2 Oktober 2012 pukul 02.59 mengatakan...

ayay kapten =D

Posting Komentar

 
 

© 2010 ETNOFOTOGRAFI, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV