Foto ini saya
dapatkan ketika saya sedang melakukan pelatihan penelitian di Desa Ganjaran,
Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang Raya (tepatnya berada di malang
selatan) pada hari rabu, 04-07-2012. Desa Ganjaran setidaknya memiliki 16
Pondok Pesantren, yang menjadikan Desa Ganajaran sebagai Desa bagi para kaum
santri/santriwati yang terkenal memeiliki nilai religinitas baik. Keadaan ini
sangat terlihat jelas ketika pada sore hari banyak para santri/santriwati yang
sedang jalan-jalan ke luar pondok, hanya untuk mencari udara yang segar. Podok
pertama berdiri di Desa Ganjaran adalah PonPes Zaenul Ulum, yang berdiri pada
tahun 1918 dibawah naungan kyai asal Madura yang cukup terkenal pada saat itu. Dan
kemudian beberapa tahun disusulah oleh PonPes lain, hingga berjumlah 16 PonPes
yang ada di Ganjaran.
Pada saat sedang melakukan jalan-jalan pagi,
saya menemukan fakta yang menurut saya unik, dimana terdapat sebuah bangkel
sepeda yang memajang papan yang
bertuliskan “ Di Sini Isi Ulang Fulsa dan Potong Rambut” (dengan anak panah
yang menuju ke dalam, dikarenakan disebelah bengkel tersebut terdapat sebuah
gang kecil) , di sini kata Fulsa cukup menjadi ketertarikan tersendiri bagi
saya. Bila menggunakan pedoman berbahasa Indonesia yang baik menurut EYD, kata yang baku untuk menggunakan kalimat
tersebut adalah Pulsa, bukanlah Fulsa.
Seperti kebiasaan yang dilakukan oleh orang arab, dimana mereka sangat
jarang menggunakan huruf “P” dalam percakapannya, dan mengganti kalimat yang
memiliki huruf “P” dalam kalimatnya dengan huruf “F”, seperti yang terjadi di
papan nama tersebut dari kalimat yang seharusnya “Pulsa” digantikan sebagai
“Fulsa”. Sepertinya ini adalah kiat bisnis yang dimiliki oleh orang yang
memiliki usaha potong rambut dan jual Fulsa ini untuk mengait para pembeli dan
langgananya, yang didominasi oleh para kaum santri, yang notabenya memiliki
cita-cita untuk pergi ke Arab untuk melanjutkan studi mereka. Selain itu budaya
Arab, juga sangat erat dikalangan para Santri yang mereka dapatkan dari
pergaulan mereka di PonPes yang mereka nuanggi, hal ini sangat terlihat jelas,
ketika hubun nabi pertama, dimana pada sela-sela waktu tertentu, mereka menari
khas timur tenggah, dengan iringan musik khas gurun pasir, ini menandakan bahwa
budaya arab, sangatlah kental dikalangan para santri dan santriwati, sehingga
si pemilik toko berinisiatif untuk mengganti kata Pulsa menjadi Fulsa. Agar
terlihat sedikit kearab-araban.
Tidak hanya
para santri, bahkan mayoritas/beberapa masyarakat Ganjaran memiliki cita-cita
untuk pergi ke Arab. Ini dibuktikan dengan banyaknya TKI/TKW asal Desa Ganjaran
yang banyak pergi ke Arab untuk bekerja. Denagan alasan akanmendapatkan gaji
yang lebih banyak jika bekerja di Arab, sekaligus pergi ke Negara Islam (Arab)
yang selalu di bangga-baggakan oleh masyarakat Ganjaran.
Kebudayaan
Arab, dan Pendalungan (Jawa-Madura) memang sangat melekat dalam kehidupan
beberapa masyarakat Ganjaran. Selain faktor banyaknya PonPes yang menyebabkan
Ganjaran di anggap sebagai wilayah santri (islami), salah satu sebab yang lain
adalah banyaknya TKI/TKW yang pulang dari Arab, dan mengaplikasikan budaya Arab
yang mereka bawa. Tidak hanya 1 atau 2 tahun para TKI/TKW ini bekerja di Arab,
melainkan sekitar 5-12 tahun. Tidak heran jika mereka sudah terbiasa dengan Budaya
Arab yang mereka bawa, dikarenakan mereka sudah dirasa cukup untuk menerima dan
mengaplikasikan budaya Arab, yang sudah terlanjur mereka temui sehari-hari di
Arab.
Dari foto yang
saya ambil, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat akulturasi Budaya arab yang
di bawa oleh para TKI/TKW yang pulang dari arab, dan Santri dengan budaya lokal
Ganjaran yang mayoritas merupakan keturunan Pendalungan telah masuk dan mulai
bercampur dengan budaya lokal, percampuran ini mengeser kebudayaan khas
Pendalungan yang menyebabkan tergesernya nilai-nilai mulai tergeser keberadaannya ke wilayah yang
lebih terpinggir. Hal ini terlihat dari sedikitnya, bahkan hampir tidak ada
para sakerah yang ada di Desa
Ganjaran. Menurut beberapa Informasi dari warga sekitar, budaya sakerah sudah tergeser oleh banyaknya
acara-acara yang berbau islami, seperti hubbun
nabi, istighosah, diba’an, yasinan, tahlinan, bahkan khataman Al-Qur’an,
yang acaranya selalu diadakan setiap satuminggu sekali. Sehingga para
wargatidak memiliki waktu untuk melakukan tradisi sakerah. Bahkan cirri khas yang dimiliki oleh sakerah, sangat
jarang saya temui. Dimana mereka memiliki ciri : berkumis tebal, dengan sabuk
hijau (Seperti sabuk orang betawi) yang melilit pinggul/perutnya, dan baju
(celana dan baju) yang hitam. Justru yang paling sering saya temui adalah
banyaknya para bapak-bapak yang memakai sarung dan baju koko/batik/taqwo/gamis
yang sering jalan-jalan pada sore hari (waktu maghrib) sampai jam 8 malam.
Vita Iga Anjani
30 September 2012
2 komentar:
Keren...Lanjutken
ayay kapten =D
Posting Komentar