| gambar graffiti di jalan terusan patimura 2, Batu |
Dari tradisi graffiti dan mural ini ternyata dapat menjelaskan beberapa fenomena masyarakat yang ada pada suatu wilayah. seperti di Jogjakarta, dimana tradisi mural dan graffiti berkembang pesat disana, bahkan dilegalkan, dikarenakan di Jogjakarta, masyarakatnya memiliki latar belakang seni dan kesadaran akan seni cukup tinggi. Dan banyak seniman-seniman besar di Indonesia lahir dari kota Jogjakarta. Jogjakartapun juga sudah memiliki identitas sebagai Kota Seni, banyak dijumpai berbagai jenis mural dan graffiti di Jogjakarta sangat mudah dijumpai di Jogjakarta. Dikerenakan Jogjakarta memiliki wadah bagi orang-orang yang ingin belajar tentang seni, entah itu seni patung, musik atau lukis, seperti Sekolah Khusus Seni, yang mudah ditemui di Jogjakarta, dan memiliki nama dan grade yang tinggi dalam kancah nasional, dan internasional (walau hanya beberapa saja)
Berbeda
dengan di Malang, yang masyrakatnya hanya terfokus pada sektor Pariwisata, yang
menyebabkan pola pikir masyarakat di malang lebih ke faktor Ekonomi, Sosial,
dan Bisnis. Disamping dari sektor Pariwisata, Malang yang juga memiliki
background Kota Pendidikan, dimana banyak berdiri Universitas, Perguruan
Tinggi, dan Tempat Kursus yang lebih berbackground
pada cara memperoleh kerja yang cepat dan mengsailkan uang banyak. Seperti Ilmu
Sosial, Ilmu Eksak, Ilmu Komunikasi, dan lain-lain yang sangat berkembang pesat
di Malang, sedangkan Universitas yang memiliki Jurusan Seni Murni di Malang
hanya ada satu, itupun juga baru berdiri sekitar tahun 2011, dan berada di
Universitas Brawijaya dan yang kedua
Jurusan Pendidikan Seni yang ada di Universitas Nengri Malang. Dan
galeri-galeri di Malang juga jarang ditemukan. Oleh sebab itu kesadaran akan
keberadaan seni di Malang kurang begitu berkembang, sehingga perkembangan
tradisi mural dan graffiti tidak begitu berkembang dan hanya memliki posisi
minoritas dalam masyarakat. Kelompok-kelompok graffiti dan mural juga sedikit.
Dan sekarang gambar graffiti di malang tidak seramai tahun 2007-2008, yang kemunculanya
dipelopori oleh film Alexandria.
Berbeda
dengan di kota Batu, kesadaran akan seni pada masyarakat batu sudah mulai dapat
dilihat. Dikarenakan kelompok-kelompok graffiti dan mural di kota batu sudah
mulai banyak bermunculan, dan banyak pelukis-pelukis dan kurator seni dari kota
Batu yang sudah memiliki nama di Indonesia. Keaktifan pagelaran seni, seperti
pameran, teater, acara musik mulai bekembang. Bahkan pada Alun-alun kota Batu,
mulai dijumpai seniman-seniman jalanan yang muncul dan memamerkan potensi
mereka, seperti pelukis jalanan, yang menggambar siluet wajah, karakter, dari
foto, dan pengamen-pengamen jalanan yang menunjukan skill mereka dalam bermusik seperti pengamen keroncong yang
mengamen menggunakan biola dan cello, dan pengamen yang memainkan musik
tradisional jawa, dengan menggunakan alat-alat musik seperti gamelan. Dan
adapula pengamen pantonim, dimana jika ada orang yang memberikannya uang, maka
patung orang itu akan bergerak dan mengubah posisi dan gayanya. Ini diakibatkan
karena banyaknya turis yang berlibur dan berkunjung ke batu, dan inipun
dimanfaatkan oleh masyarakat Batu yang memiliki latar belakang seni untuk
mencari nafkah.
0 komentar:
Posting Komentar