Batu Flower Festival (BFF) -2012

Jumat, 02 November 2012


Batu Flower Festival models

Batu Flower Festival (BFF) merupakan agenda wajib sejak diresmikanya kota Batu menjadi Kota Pariwisata Batu,tepatnya pada masa Edi Rumpoko menjabat sebagai walikota Batu tahun 2009.  Tujuan dari diadakanya BFF ini merupakan salah satu upaya untuk menarik para wisatawawan baik lokal atau interlokal untuk datang ke batu dan menunjang eksistensi kota Batu sebagai Kota Pariwisata. Pelaksanaan BFF ini selain ditujukan untuk memajukan sektor pariwisata di kota Batu juga dijadikan sebagai perayaan ulang tahun Kota Pariwisata Batu (KWB) yang ke 11. Sebelumnya BFF ini juga dilaksanakan pada tahun 2010 dan 2011 dan pada saat yang sama yakni HUT kota batu. Dalam pelaksanaanya, Festival ini seperti peragaan busana yang menggunakan jalan raya sebagai catwalknya. Namun, yang sedang berlenggak-lenggok di jalan itu bukanlah sepenuhnya model busana, namun kebanyakan adalah Para siswa/siswi sekolah yang sudah melewati tahap seleksi di sekolahnya, sedangkan pada desa, mereka memanfaatkan para bungga desa ataupun pemuda desa. perwakilan tempat wisata (Agrokusuma, Klub Bunga, JTP 1 dan 2 dll) terkadang menyelipkan beberapa model asli dalam pagelaran BFF ini.
foto salah satu siswi dari salah satu SMK di kota batu

Peserta dari BFF ini bersal dari perwakilan desa, tempat wisata, ataupun sekolah (SMP-SMA/SMK) di Batu. Foto di atas merupakan salah satu foto dari siswi dari SMKN 1 Batu, dimana salah satu jurusan pada di sekolah tersebut adalah tata busana. sehingga tidak heran karya yang diciptakanyapun merupakan yang lebih tertata dan lebih enak dilihat dan tertata akan nilai fashion yang dianutnya.


Pedagang Asongan manisan pencit 1
Tidak hanya karavan para peserta BFF saja, ternyata ada karavan lain yang bukan peserta BFF ini yang juga ikut eksis. Rombongan ini muncul ketika jalan sedang sepi, biasanya saat rombongan karavan berhenti sejenak untuk beristirahat, yakni para pedagang asongan yang menjadi ciri khas indonesia di setiap adanya suatu acara. Para pedagang asongan ini selalu muncul ketika para karavan berhenti atau pada saat adanya jarak antara karavan yang satu dengan yang lain.
pedagang asongan manisan pencit 2 dan penjual air minum
pedagang asongan pencit 3

Barang yang dijualnyapun juga beragam, mulai dari kripik singkong, air minum, jajanan pasar, mainan anak-anak, dan yang paling sering ditemui adalah pedagang manisan pencit (mangga muda), yang sangat menggugah selera apabila disajikan pada siang hari yang panas. Namun hal yang sangat memperhatikan di sini, para pedagang asongan ini tidak begitu diperhatikan oleh para penonton (pembeli), dikarenakan antusias para penonton yang sedang menunggu karavan yang selanjutnya, sehingga tidak jarang para pedagang asongan ini menawarkan daganganya banyak para penonton yang tidak memperhatikannya.
pedagang asongan yang ada di belakang para penonton
Tidak hanya para pedagang pencit saja, melainkan juga ada beberapa pedagang bakso, tahu campur, gorengan, mie instan, dan soto yang berada di belakang para penonton karavan BFF ini. Anehnya, justru mereka yang lebih di buru oleh para penonton dibandingkan dengan pedagang asongan yang berada di di depan dan berbaur dengan para penonton.
para penonton yang sedang mennggu karavan yang selanjutnya
Foto ini saya ambil ketika adanya senganggan jarak antara karavan yang satu dengan yang lainya yang cukup panjang (10 meter). Rata-rata para penonton karavan BFF ini adalah orang-orang desa beserta rombonganya dan para anak-anak yang didampinggi oleh orang tuanya (khususnya ibu). hal tersebut terlihat pada parkirnya mobil pick-up yang berada di belakang penonton. Pada saat keberangkatanya, mobil pick-up ini penuh rombongan masyarakat desa. Biasanya rombongan keluarga ataupun tetangga. Antusiasme yang dimiliki oleh masyarakat desa ini lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat kota yang cenderung tidak begitu antusias. Antusiasme yang dimiliki oleh masyarakat ini ditujukan dengan banyaknya konsentrasi yang tertuju pada rombongan karavan selanjutnya yang tentu keberadaanya masih jauh. Mereka dengan seksama menolehkan wajahnya dan menatapkan pada objel yang sama
peran dari 'satpam pribadi' karavan yang sedang menggatur jalan
Setelah menanti beberapa lama, kemudian datanglah bunyi peluit yang menandakan adanya rombongan karavan yang berikutnya. Orang yang sedang meniupkan peluitnya tersebut merupakan 'satpam prbadi' atau badan penertipan yang dimiliki oleh setiap karavan yang berfungsi untuk menyeruh para penonton bergeser ke belakang dan menciptakan jalan yang cukup lebar, sehingga dapat dilewati oleh para model karaval ini. Kostum dari para model karavan ini tergolong besar, saya berpendapat bahwa konsep yang diusung oelh para peserta sedikit mencontoh konsep JFC (Jember Fashion Carnaval) yang sudah melanglang buana baik di dalam negri dan dalam negri. 
foto dari peserta/model Jember Fashion Carnaval (JFC)

Konsep Fashion yang diusung sangatlah atraktif. Sebelumnya, pada BFF tahun 2010 dan 2011, banyak yang menggunakan bungga asli, dan sangat mengusung tema bunga. seperti pada foto pembanding berikut ini yang saya peroleh dari web resmi kota batu http://www.batukota.go.id/berita/wisata/ajang-batu-flower-festival-2011-mendunia.html dan http://sylvianitawidyawati.blogspot.com/2011/10/semarak-batu-bertabur-bunga.html
BFF 2011

BFF 2011

Tidak hanya rombongan para karnavan peserta dan model BFF saja, namun juga ada tampilan dari marchingband setempat, yang merupakan perwakilan dari sekolah-sekolah di kota Batu (SD-SMP)
salah satu robongan marchingbang

Vita Iga Anjani
foto : Dokumentasi Pribadi

0 komentar:

Posting Komentar

 
 

© 2010 ETNOFOTOGRAFI, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV