tidak hanya coretan dinding

Selasa, 30 Oktober 2012
0 komentar

gambar graffiti di jalan terusan patimura 2, Batu


Dari tradisi graffiti dan mural ini ternyata dapat menjelaskan beberapa fenomena masyarakat yang ada pada suatu wilayah. seperti di Jogjakarta, dimana tradisi mural dan graffiti berkembang pesat disana, bahkan dilegalkan, dikarenakan di Jogjakarta, masyarakatnya memiliki latar belakang seni dan kesadaran akan seni cukup tinggi. Dan banyak seniman-seniman besar di Indonesia lahir dari kota Jogjakarta. Jogjakartapun juga sudah memiliki identitas sebagai Kota Seni, banyak dijumpai berbagai jenis mural dan graffiti di Jogjakarta sangat mudah dijumpai di Jogjakarta. Dikerenakan Jogjakarta memiliki wadah bagi orang-orang yang ingin belajar tentang seni, entah itu seni patung, musik atau lukis, seperti Sekolah Khusus Seni, yang mudah ditemui di Jogjakarta, dan memiliki nama dan grade yang tinggi dalam kancah nasional, dan internasional (walau hanya beberapa saja)

Berbeda dengan di Malang, yang masyrakatnya hanya terfokus pada sektor Pariwisata, yang menyebabkan pola pikir masyarakat di malang lebih ke faktor Ekonomi, Sosial, dan Bisnis. Disamping dari sektor Pariwisata, Malang yang juga memiliki background Kota Pendidikan, dimana banyak berdiri Universitas, Perguruan Tinggi, dan Tempat Kursus yang lebih berbackground pada cara memperoleh kerja yang cepat dan mengsailkan uang banyak. Seperti Ilmu Sosial, Ilmu Eksak, Ilmu Komunikasi, dan lain-lain yang sangat berkembang pesat di Malang, sedangkan Universitas yang memiliki Jurusan Seni Murni di Malang hanya ada satu, itupun juga baru berdiri sekitar tahun 2011, dan berada di Universitas Brawijaya  dan yang kedua Jurusan Pendidikan Seni yang ada di Universitas Nengri Malang. Dan galeri-galeri di Malang juga jarang ditemukan. Oleh sebab itu kesadaran akan keberadaan seni di Malang kurang begitu berkembang, sehingga perkembangan tradisi mural dan graffiti tidak begitu berkembang dan hanya memliki posisi minoritas dalam masyarakat. Kelompok-kelompok graffiti dan mural juga sedikit. Dan sekarang gambar graffiti di malang tidak seramai tahun 2007-2008, yang kemunculanya dipelopori oleh film Alexandria.

gambar graffiti di jalan terusan patimura, Batu


Berbeda dengan di kota Batu, kesadaran akan seni pada masyarakat batu sudah mulai dapat dilihat. Dikarenakan kelompok-kelompok graffiti dan mural di kota batu sudah mulai banyak bermunculan, dan banyak pelukis-pelukis dan kurator seni dari kota Batu yang sudah memiliki nama di Indonesia. Keaktifan pagelaran seni, seperti pameran, teater, acara musik mulai bekembang. Bahkan pada Alun-alun kota Batu, mulai dijumpai seniman-seniman jalanan yang muncul dan memamerkan potensi mereka, seperti pelukis jalanan, yang menggambar siluet wajah, karakter, dari foto, dan pengamen-pengamen jalanan yang menunjukan skill mereka dalam bermusik seperti pengamen keroncong yang mengamen menggunakan biola dan cello, dan pengamen yang memainkan musik tradisional jawa, dengan menggunakan alat-alat musik seperti gamelan. Dan adapula pengamen pantonim, dimana jika ada orang yang memberikannya uang, maka patung orang itu akan bergerak dan mengubah posisi dan gayanya. Ini diakibatkan karena banyaknya turis yang berlibur dan berkunjung ke batu, dan inipun dimanfaatkan oleh masyarakat Batu yang memiliki latar belakang seni untuk mencari nafkah.

Baca selengkapnya »

from Pulsa to Fulsa

Senin, 01 Oktober 2012
2 komentar




Foto ini saya dapatkan ketika saya sedang melakukan pelatihan penelitian di Desa Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang Raya (tepatnya berada di malang selatan) pada hari rabu, 04-07-2012. Desa Ganjaran setidaknya memiliki 16 Pondok Pesantren, yang menjadikan Desa Ganajaran sebagai Desa bagi para kaum santri/santriwati yang terkenal memeiliki nilai religinitas baik. Keadaan ini sangat terlihat jelas ketika pada sore hari banyak para santri/santriwati yang sedang jalan-jalan ke luar pondok, hanya untuk mencari udara yang segar. Podok pertama berdiri di Desa Ganjaran adalah PonPes Zaenul Ulum, yang berdiri pada tahun 1918 dibawah naungan kyai asal Madura yang cukup terkenal pada saat itu. Dan kemudian beberapa tahun disusulah oleh PonPes lain, hingga berjumlah 16 PonPes yang ada di Ganjaran.
 Pada saat sedang melakukan jalan-jalan pagi, saya menemukan fakta yang menurut saya unik, dimana terdapat sebuah bangkel sepeda yang memajang papan  yang bertuliskan “ Di Sini Isi Ulang Fulsa dan Potong Rambut” (dengan anak panah yang menuju ke dalam, dikarenakan disebelah bengkel tersebut terdapat sebuah gang kecil) , di sini kata Fulsa cukup menjadi ketertarikan tersendiri bagi saya. Bila menggunakan pedoman berbahasa Indonesia yang baik menurut EYD,  kata yang baku untuk menggunakan kalimat tersebut adalah Pulsa, bukanlah Fulsa.  Seperti kebiasaan yang dilakukan oleh orang arab, dimana mereka sangat jarang menggunakan huruf “P” dalam percakapannya, dan mengganti kalimat yang memiliki huruf “P” dalam kalimatnya dengan huruf “F”, seperti yang terjadi di papan nama tersebut dari kalimat yang seharusnya “Pulsa” digantikan sebagai “Fulsa”. Sepertinya ini adalah kiat bisnis yang dimiliki oleh orang yang memiliki usaha potong rambut dan jual Fulsa ini untuk mengait para pembeli dan langgananya, yang didominasi oleh para kaum santri, yang notabenya memiliki cita-cita untuk pergi ke Arab untuk melanjutkan studi mereka. Selain itu budaya Arab, juga sangat erat dikalangan para Santri yang mereka dapatkan dari pergaulan mereka di PonPes yang mereka nuanggi, hal ini sangat terlihat jelas, ketika hubun nabi pertama, dimana pada sela-sela waktu tertentu, mereka menari khas timur tenggah, dengan iringan musik khas gurun pasir, ini menandakan bahwa budaya arab, sangatlah kental dikalangan para santri dan santriwati, sehingga si pemilik toko berinisiatif untuk mengganti kata Pulsa menjadi Fulsa. Agar terlihat sedikit kearab-araban.
Tidak hanya para santri, bahkan mayoritas/beberapa masyarakat Ganjaran memiliki cita-cita untuk pergi ke Arab. Ini dibuktikan dengan banyaknya TKI/TKW asal Desa Ganjaran yang banyak pergi ke Arab untuk bekerja. Denagan alasan akanmendapatkan gaji yang lebih banyak jika bekerja di Arab, sekaligus pergi ke Negara Islam (Arab) yang selalu di bangga-baggakan oleh masyarakat Ganjaran.
Kebudayaan Arab, dan Pendalungan (Jawa-Madura) memang sangat melekat dalam kehidupan beberapa masyarakat Ganjaran. Selain faktor banyaknya PonPes yang menyebabkan Ganjaran di anggap sebagai wilayah santri (islami), salah satu sebab yang lain adalah banyaknya TKI/TKW yang pulang dari Arab, dan mengaplikasikan budaya Arab yang mereka bawa. Tidak hanya 1 atau 2 tahun para TKI/TKW ini bekerja di Arab, melainkan sekitar 5-12 tahun. Tidak heran jika mereka sudah terbiasa dengan Budaya Arab yang mereka bawa, dikarenakan mereka sudah dirasa cukup untuk menerima dan mengaplikasikan budaya Arab, yang sudah terlanjur mereka temui sehari-hari di Arab.
Dari foto yang saya ambil, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat akulturasi Budaya arab yang di bawa oleh para TKI/TKW yang pulang dari arab, dan Santri dengan budaya lokal Ganjaran yang mayoritas merupakan keturunan Pendalungan telah masuk dan mulai bercampur dengan budaya lokal, percampuran ini mengeser kebudayaan khas Pendalungan yang menyebabkan tergesernya nilai-nilai  mulai tergeser keberadaannya ke wilayah yang lebih terpinggir. Hal ini terlihat dari sedikitnya, bahkan hampir tidak ada para sakerah yang ada di Desa Ganjaran. Menurut beberapa Informasi dari warga sekitar, budaya sakerah sudah tergeser oleh banyaknya acara-acara yang berbau islami, seperti hubbun nabi, istighosah, diba’an, yasinan, tahlinan, bahkan khataman Al-Qur’an, yang acaranya selalu diadakan setiap satuminggu sekali. Sehingga para wargatidak memiliki waktu untuk melakukan tradisi sakerah. Bahkan cirri khas yang dimiliki oleh sakerah, sangat jarang saya temui. Dimana mereka memiliki ciri : berkumis tebal, dengan sabuk hijau (Seperti sabuk orang betawi) yang melilit pinggul/perutnya, dan baju (celana dan baju) yang hitam. Justru yang paling sering saya temui adalah banyaknya para bapak-bapak yang memakai sarung dan baju koko/batik/taqwo/gamis yang sering jalan-jalan pada sore hari (waktu maghrib) sampai jam 8 malam. 

Vita Iga Anjani
30 September 2012
Baca selengkapnya »
 
 

© 2010 ETNOFOTOGRAFI, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV